ULM Tembus 15 Besar Nasional, Prof. Rokhmin Dahuri: Simbol Kebangkitan Pendidikan Tinggi Di Indonesia Timur
ASKARA - Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, mengapresiasi capaian luar biasa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang berhasil menembus peringkat 15 besar nasional versi AD Scientific Index 2025. Prestasi ini menjadikan ULM menjadi satu-satunya perguruan tinggi di wilayah timur Indonesia yang masuk dalam jajaran prestisius ini, dari sekitar 4.600 perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Pujian itu disampaikan Prof. Rokhmin dalam Orasi Ilmiah Dies Natalis ke-67 ULM, yang bertema “Kolaborasi Penta Helix: Jalan Untuk Meningkatkan Kontribusi ULM Dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045 dan Dunia Yang Lebih Baik, Sejahtera, dan Berkelanjutan,” Senin (22/9/2025), di Kampus ULM, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
“Selamat atas capaian luar biasa ULM yang tak hanya unggul di bidang akademik, tapi juga mampu bersaing di level internasional dengan menyabet dua medali dan menjadi Juara 3 dalam MTQ Internasional di Banda Aceh. Ini bukan hanya pencapaian akademik, tapi simbol kebangkitan pendidikan tinggi di Indonesia Timur,” ujar Prof. Rokhmin yang juga Rektor Universitas UMMI Bogor ini.
Lebih dari itu, sebagai warga negara dan warga dunia yang baik, kita pun harus menyumbangkan kemampuan terbaik kita dalam mewujudkan Indonesia Emas (Indonesia yang maju, adil-makmur dan berdaulat) pada 2045; serta dunia yang
lebih baik, sejahtera, damai, dan berkelanjutan (for a better, prosperous, and sustainable world).
Di dunia yang semakin disruptif, terhubungkan (highly interconnected), dan penuh persaingan ini; maka untuk menjadi insan yang sukses - bahagia di dunia dan
akhirat, kita mesti memiliki empat jenis kecerdasan.
Pertama adalah intelectual quotient (kecerdasan intelektual atau kecerdasan otak kiri) yang meliputi kompetensi, skills (keterampilan), dan expertise (keahlian). Kedua, emotional quotient (kecerdasan emosional atau kecerdasan otak kanan) berupa etos kerja unggul seperti kerja keras, disiplin, tidak mudah putus asa, kreatif, kolaboratif, dan teamwork.
Ketiga, social quotient (kecerdasan sosial) berupa akhlak mulia, seperti jujur (shiddiq), amanah, fathonah (cerdas dan visioner), tabligh (mampu menyampaikan dan berbagi), sabar dan syukur, kanaah, dan kasih - sayang. Keempat, spiritual quotient (kecerdasan spiritual) berupa Iman dan Taqwa kepada Allah Azza wa Jalla.
"Dengan empat kecerdasan itu, insya
Allah kita akan mampu menjadi entrepreneur (wirausahawan) yang menciptakan lapangan pekerjaan (job creation) produktif dan mensejahterakan untuk menghasilkan berbagai macam produk (barang), jasa, teknologi, dan inovasi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri (nasional) maupun untuk ekspor. Atau, kita bisa bekerja sebagai ASN (Aparat Sipil Negara), karyawan BUMN, Koperasi, Perusahaan Swasta nasional maupun internasional (global), LSM, Lembaga Internasional, dan unit bisnis atau lembaga lainnya yang produktif, kreatif, dan inovatif, dengan pendapatan (income) yang mensejahterakan," sebut Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini.
Kemudian, Prof. Rokhmin Dahuri mengajak civitas akademika ULM serta seluruh masyarakat untuk berkontribusi nyata dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, yakni Indonesia yang maju, adil, makmur, dan berdaulat. Ia menegaskan bahwa keberhasilan bangsa tak hanya ditentukan oleh teknologi dan ekonomi, tapi juga kolaborasi semua elemen bangsa melalui pendekatan pentahelix: pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media.
“Dengan perencanaan yang holistik, koordinasi lintas sektor, dan semangat gotong royong, Indonesia berpotensi menjadi negara besar dan adil makmur pada 2045, dengan pendapatan per kapita di atas 33.000 dolar AS dan PDB lebih dari 7 triliun dolar AS,” jelas Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu.
Tak hanya unggul dalam indeks ilmiah, ULM juga mencatat prestasi gemilang di ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Internasional di Banda Aceh, dengan meraih dua medali dan posisi Juara-3. “Selamat kepada ULM, ini bukti bahwa kampus ini tidak hanya unggul dalam sains, tapi juga dalam spiritualitas dan budaya,” tambahnya.
Dalam paparannya, ia mengajak seluruh civitas akademika ULM dan masyarakat Kalimantan Selatan untuk berkontribusi aktif dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045—Indonesia yang maju, adil, makmur, dan berdaulat. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menyusun kebijakan pembangunan yang holistik dan berkelanjutan.
“Dengan semangat gotong royong dan optimisme, kita bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah pada 2038, dan menjadi negara maju dengan PDB di atas 7 triliun dolar AS pada 2045,” tegasnya.
Bonus Demografi Jadi Kunci Indonesia Emas 2045
Guru Besar Kehormatan di bidang Pembangunan Berkelanjutan pada Shinhan University Korea Selatan, menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia menjadi negara maju dan berdaulat sangat bergantung pada kemampuan mengkapitalisasi bonus demografi yang hanya terjadi sekali dalam sejarah bangsa.
“Jendela waktu bonus demografi Indonesia berlangsung dari 2020 hingga 2040. Ini adalah momentum emas yang tidak boleh disia-siakan,” tegas Prof. Rokhmin. Saat ini, Indonesia memiliki sekitar 153 juta penduduk usia produktif (15–64 tahun), dan keberhasilan pembangunan sangat ditentukan oleh kemampuan menciptakan lapangan kerja yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Dalam paparannya, ia menyebut bahwa hanya 45 dari 204 negara di dunia yang telah berhasil menjadi negara makmur dengan pendapatan per kapita di atas 14.000 dolar AS. “Artinya, hanya 22 persen negara yang berhasil. Indonesia harus masuk dalam barisan itu,” ujarnya.
Untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, Prof. Rokhmin menekankan pentingnya Peta Jalan Pembangunan Nasional dengan 10 Indikator Kinerja Utama (IKU), mulai dari GNI per kapita sebesar 30.000 dolar AS, koefisien GINI di bawah 0,3, hingga zero poverty dan zero unemployment. “Kita harus berdaulat di bidang pangan, energi, dan air, serta memiliki kapasitas IPTEK kelas dunia,” tambahnya.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa kondisi Indonesia saat ini masih jauh dari target tersebut. Berdasarkan analisis kesenjangan (gap analysis), ia mengusulkan empat kluster kebijakan pembangunan yang harus dijalankan secara berkesinambungan: ekonomi, sosial-budaya, lingkungan hidup, dan POLHUKAMHAN (Politik, Hukum, Keamanan, dan Pertahanan).
Orasi ini menjadi bagian dari perayaan prestasi ULM yang kini menempati peringkat ke-15 nasional versi AD Scientific Index 2025, serta keberhasilan meraih dua medali dan Juara-3 dalam MTQ Internasional di Banda Aceh. “ULM adalah bukti bahwa perguruan tinggi di Indonesia Timur mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional,” ujarnya.
Tiga Peran Strategis Perguruan Tinggi Menuju Indonesia Emas 2045
Prof. Rokhmin Dahuri, menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran kunci dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 dan menciptakan dunia yang lebih baik, sejahtera, dan berkelanjutan (for a better, prosperous, and sustainable world).
Menurut Prof. Rokhmin, ada tiga peran utama yang harus diemban oleh perguruan tinggi:
Pertama, mencetak SDM unggul, berakhlak mulia, dan bertakwa.
“Perguruan tinggi harus melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten di bidangnya, tapi juga memiliki integritas moral dan spiritual yang tinggi,” ujar Honorary Ambassador of Jeju Islands and Busan Metropolitan City, Korea Selatan itu.
Kedua, menghasilkan informasi ilmiah, IPTEK, dan inovasi.
Melalui kegiatan riset, perguruan tinggi berperan sebagai pusat produksi ilmu yang menjadi dasar dalam proses perencanaan dan pengambilan kebijakan berbasis sains (science-based planning & decision making), baik bagi pemerintah, swasta, masyarakat, maupun media (Kolaborasi Pentahelix).
Prof. Rokhmin menekankan pentingnya kontribusi IPTEK untuk mendorong pertumbuhan di tiga sektor ekonomi:
1. Primer (pertanian, perikanan, kehutanan, ESDM)
2. Sekunder (industri manufaktur: makanan-minuman, otomotif, bioteknologi, digital, EBT, semikonduktor, dll)
3. Tersier (jasa, pariwisata, perdagangan, ekonomi kreatif)
Ketiga, pengabdian kepada masyarakat.
"Dengan informasi dan inovasi yang dihasilkan, kampus bisa mendukung perencanaan pembangunan, manajemen pemerintahan, peningkatan kapasitas masyarakat, hingga monitoring-evaluasi pembangunan," jelas Ketua Dewan Pakar ASPEKSINDO (Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir
Seluruh Indonesia).
Prof. Rokhmin mengajak ULM dan seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk terus memperkuat kontribusinya agar bangsa ini benar-benar siap menjadi negara besar dan maju pada 2045. Lalu, ia menguraikan peran dan kontribusi utama Perguruan Tinggi, tak terkecuali ULM, dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 dan for a better, prosperous, and sustainable world adalah tiga hal. Pertama adalah menghasilkan SDM yang kompeten pada bidang ilmunya, unggul, berkahlak mulia, dan beriman dan Taqwa kepada Tuhan YME menurut agama masing-masing.
“Melalui proses belajar, parktikum, penelitian, praktek lapang, magang, dan kegiatan pendidikan lainnya yang berkualitas dunia. Dalam konteks Tri Darma Pendidikan Tinggi, ini termasuk dalam Darma-1, yakni Pendidikan,’ jelasnya.
Kedua, menghasilkan informasi ilmiah, IPTEK, dan inovasi melalui aktivitas penelitian, yang diperoleh melalui aktivitas penelitian (Darma ke-2). Prof Rokhmin mengingatkan bahwa informasi ilmiah itu menjadi dasar dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan (science-based planning and decision making proses) bagi para mitra Perguruan Tinggi yang meliputi: pemerintah, industri (swasta dan BUMN), masyarakat (community), dan media masa (Kolaborasi Penta Helix).
‘’Sementara, IPTEK dan inovasi digunakan oleh para mitra Perguruan Tinggi untuk membangun dan menggerakkan perekonomian bangsa, yang mencakup: (1) sektor ekonomi primer (Pertanian, Kelautan dan Perikanan, Kehutanan, dan ESDM); (2) sektor ekonomi sekunder (industri manufaktur, seperti makanan dan minuman, farmasi, elektronik, otomotif, oleochemicals, pertochemicals, tekstil, bioteknologi, EBT, industri digital, semikonduktor, chips, Electric vehicles, dan lainnya); dan (3) sektor ekonomi tersier (jasa, perdagangan, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Ketiga adalah pengabdian kepada masyarakat (Darma ke-3),’ katanya.
"Dengan informasi ilmiah, IPTEK, dan inovasi yang dihasilkan dan dimilikinya, Perguruan Tinggi dapat membantu pemerintah (pusat dan daerah), swasta, masyarakat, dan media masa dalam menyusun Rencana Pembangunan, Manajemen Pembangunan dan Pemerintah, Capacity Building untuk masyarakat, MONEV (Monitoring dan Evaluasi) pembangunan, dan berbagai aspek kehidupan (pembangunan ) lainnya," ujarnya.

Pilar Menuju Indonesia Emas 2045
Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan bahwa pembangunan Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045 harus bertumpu pada dua fondasi utama: penguatan sumber daya manusia (SDM) yang unggul secara spiritual dan intelektual, serta sistem kehidupan berbangsa yang demokratis, berkeadilan, dan berdaulat.
“Tujuan utama dari kebijakan sosial budaya adalah membentuk manusia Indonesia yang berakhlak mulia, beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, serta hidup harmonis dalam keberagaman,” ujar nya.
Ia menekankan pentingnya revitalisasi sektor kesehatan, pendidikan, riset dan pengembangan (R&D), pelatihan, penyuluhan, dan penguatan nilai-nilai agama sebagai jalan membentuk SDM yang mampu menjawab tantangan global dan lokal secara berkelanjutan.
Tak kalah penting, Prof. Rokhmin juga menyoroti kluster kebijakan di bidang Politik, Hukum, Keamanan, dan Pertahanan (POLHUKAMHAN). Menurutnya, sistem kehidupan berbangsa dan bernegara harus selaras dengan amanat Pancasila dan UUD 1945, yakni demokrasi substansial, tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), meritokrasi, dan keadilan sosial.
“Tanpa sistem yang kondusif dan berkeadilan, mustahil kita bisa mewujudkan Indonesia sebagai bangsa besar yang maju dan berdaulat,” tegas Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004 itu.
Prof. Rokhmin Dahuri menyatakan, Indonesia sebenarnya memiliki potensi (modal dasar) pembangunan yang sangat lengkap dan besar untuk menjadi negara-bangsa yang maju, sejahtera, dan berdaulat.
Pertama adalah jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, sekitar 285 juta jiwa yang sejak 2020 hingga 2032 kita mengalami masa bonus demografi, dimana sebagian besar (lebih dari 70 persen) berusia produktif, antara 15 sampai 64 tahun. Artinya, Indonesia
memiliki potensi pasar domestik yang luar biasa besar.
Kedua, kekayaan SDA (Sumber Daya Alam) dan jasa-jasa lingkungan (environmental services) yang melimpah, baik yang ada di darat, apalagi di laut. Artinya, kita memiliki potensi produksi (supply) berbagai macam komoditas, produk, dan jasa yang sangat besar.
Ketiga, posisi geo-ekonomi dan geo-politik Indonesia sangat strategis, dimana sekitar 45% dari total perdagangan global, dengan nilai rata-rata sekitar 15 trilyun dolar AS per tahun ditransportasikan melalui Laut Indonesia (UNCTAD, 2016). Dengan modal dasar pembangunan yang begitu besar, potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia sejatinya mencapai 10% per tahun (Mc. Kinsey, 2012; Goldman Sach, 2020).
Pertanyaannya, kemudian mengapa sejak 2015 sampai sekarang perekonomian Indonesia hanya tumbuh rata-rata 5% per tahun?.
Guru Besar Kehormatan di bidang Pembangunan Berkelanjutan pada Shinhan University, Korea Selatan itu membeberkan, banyak faktor yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi rendah itu. Mulai dari ekonomi yang terlalu bergantung pada produksi dan ekspor bahan mentah (raw materials) SDA, seperti minyak sawit mentah (Crude Palm Oil, CPO), kakao, karet mentah, batubara, nikel, tembaga, emas, timah, mineral lain, udang, ikan tuna dan cakalang, dan rumput laut kering.
Deindustrialisasi, kualitas dan produktivitas SDM yang masih rendah, infrastruktur dan konektivitas digital yang belum memadai, iklim investasi dan kemudahan berbisnis yang kurang kondusif, premanisme, sampai kurangnya kepastian hukum dan stabilitas politik yang kurang.
Akibatnya sudah 80 tahun kita merdeka, namun kita bangsa Indonesia masih sebagai negara berpendapatan menengah, dengan pendapatan penduduk (Gross National Income) per kapita baru sebesar 5.000 dolar AS. Belum menjadi negara-bangsa yang maju dan makmur, dengan pendapatan per kapita diatas 14.005 dolar AS (World Bank, 2024). Lebih dari itu, jumlah saudara-saudara kita yang miskin pun masih sangat banyak.
Berdasarkan pada garis kemiskinan versi BPS (2025) sebesar Rp 609.160/orang/bulan, rakyat Indonesia yang miskin sekitar 23,85 juta jiwa atau 8,47% total penduduk. Sedangkan, menurut garis kemiskinan Bank Dunia (2025) sebesar 205,5 dolar AS (Rp 3.485.360)/orang/bulan, penduduk miskin Indonesia masih sekitar 172 juta orang (60,3% total penduduk).
Bahkan dalam sepuluh tahun terakhir, sesungguhnya kondisi perekonomian bangsa kita sedang tidak baik-baik saja. Fenomena ini ditunjukkan oleh data historis sejumlah indikator ekonomi, seperti semakin meningkatnya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), pengangguran, penurunan jumlah kelas menengah, penurunan daya beli masyarakat, dan gejala deindustrialisasi.
Dalam pada itu, kerusakan lingkungan,
termasuk deforestasi (penggundulan hutan), pencemaran, overfishing, degradasi ekosistem pesisir (seperti hutan mangrove, terumbu karang, dan padang lamun), pengikisan keanekaragaman hayati (biodiversity loss), dan Perubahan Iklim Global telah meningkatkan frekuensi maupun besaran (magnitude) bencana alam (seperti banjir, tanah longsor, erosi dan sedimentasi, kebakaran hutan dan lahan) di hampir seluruh wilayah Nusantara.
Penyebab utama (akar masalah) dari beragam jenis kerusakan lingkungan itu adalah: (1) rendahnya kesadaran publik tentang pentingnya dan nilai strategis merawat lingkungan; (2) ketiadaan matapencaharian alternatif yang ramah lingkungan dan mensejahterakan bagi rakyat kecil, sehingga memaksa mereka
memanfaatkan SDA secara tidak ramah lingkungan; (3) terbatasnya infrastruktur, fasilitas, dan teknologi pengelolaan lingkungan; (4) keserakahan oknum penguasa dan pengusaha; dan (5) lemahnya penegakkan hukum (law enforcement).
Pengangguran, kemiskinan, penurunan daya beli masyarakat, ketimpangan sosial ekonomi (income gap antara penduduk kaya vs. miskin), semakin terbatasnya lapangan pekerjaan (employment opportunities) yang produktif dan mensejahterakan telah mengakibatkan stunting dan gizi buruk, dan rendahnya kualitas SDM Indonesia.
Kondisi ini tercermin pada rendahnya IQ, nila PISA (Programme International for Student Assessment), kemampuan literasi, kapasitas inovasi, produktivitas tenaga kerja, dan Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) bangsa kita, Indonesia.
Selain permasalahan dan tantangan pembangunan yang berskala domestik dan bersifat internal sebagaimana saya uraikan diatas, kita juga menghadapi tantangan eksternal (global), terutama berupa disrupsi teknologi digital (seperti AI, IoT, Blockchain, Big Data, dan Robotics); tensi geopolitik yang kian liar (Genosida Israel terhadap Palestina yang belum kunjung usai, Perang Rusia vs Ukraina, dan konflik maritim di Laut China Selatan); Perang Dagang antara AS vs the Rest of the World; dan Perubahan Iklim Global (Global Climate Change) beserta sederet dampak negatipnya, seperti gelombang panas, peningkatan permukaan laut akibat melelehnya.

Komentar