Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32
OPINI

Sejak Reformasi 1998 Pemerintah Tidak Mau Menggratiskan Pendidikan Total

Sejak Reformasi 1998 Pemerintah Tidak Mau Menggratiskan Pendidikan Total
Benz Jono Hartono (dok.askara)
Oleh: Benz Jono Hartono, Praktisi Media Massa
 
ASKARA - Sejak Reformasi 1998, negeri ini katanya merdeka dua kali, merdeka dari Orde Baru dan merdeka dari penindasan. Namun ada satu penindasan yang masih kokoh berdiri, penindasan lewat biaya pendidikan.
 
Pertanyaannya sederhana, mengapa sejak 1998 sampai sekarang pemerintah pura-pura budeg ketika rakyat minta pendidikan gratis dari TK sampai universitas?
Mungkin Karena patut diduga:
 
1. Pendidikan Dijadikan ATM Elite Politik
 
Di balik jargon Indonesia Emas 2045, para elite politik sebenarnya sedang menghitung emas di rekening pribadi mereka. Pendidikan di negeri ini adalah ATM raksasa. Dari iuran sekolah, BOS, dana pembangunan gedung, hingga pungutan “sumbangan sukarela”. Kalau semua pendidikan digratiskan dan diambil alih negara, habislah rejeki para politisi-yayasan dan pejabat-pengusaha.
 
2. Dalih Anggaran, Drama Lama yang Selalu Diputar Ulang.
 
Setiap kali rakyat teriak “Pendidikan gratis!”, jawabannya klise, APBN kita terbatas. Lucu sekali, APBN terbatas untuk rakyat, tapi subsidi untuk konglomerat lancar jaya, proyek mercusuar jalan terus, dan gaji pejabat naik.
 
3. Pendidikan Mahal sama dengan Sistem Kasta Modern
 
Biaya pendidikan tinggi sengaja dibiarkan mahal. Karena elite butuh sistem kasta modern. Anak pejabat boleh kuliah di universitas bonafide, anak buruh cukup puas sampai SMA. Kalau gratis, bisa-bisa anak petani pintar ngalahin anak pejabat bego. Itu bahaya bagi oligarki.
 
4. Bisnis Pendidikan Swasta, Pabrik Uang Tanpa Henti
 
Ratusan universitas swasta berdiri gagah bukan untuk mencerdaskan bangsa, tapi untuk mencetak laba. Apalagi banyak yang miliki yayasan berafiliasi partai politik. Kalau pemerintah ambil alih dan gratiskan semua, bisnis siapa yang ambruk?
 
5. Pemerintah Takut Rakyat Terlalu Cerdas
 
Ada alasan lebih gelap, pendidikan gratis bisa bikin rakyat terlalu pintar. Kalau rakyat pintar, mereka bisa kritis, melawan, membongkar kebobrokan elite. Maka dibiarkan saja pendidikan setengah matang, cukup untuk jadi buruh, jangan sampai cukup untuk jadi pemimpin.
 
Solusi Radikal:
 
Pendidikan Gratis Total
Kalau pemerintah serius mencerdaskan bangsa, jalannya adalah:
 
1. Nasionalisasi semua sekolah dan universitas swasta. 
 
2. Potong habis anggaran foya-foya pejabat. 
 
3. Jadikan guru dan dosen pegawai negara. 
 
4. Hapus pungutan liar, pendanaan tunggal dari negara.
 
Akhiran
 
Selama sekolah dan kuliah masih jadi bisnis, jangan mimpi bangsa ini jadi bangsa besar. Yang ada, Indonesia hanya jadi pasar tenaga kerja murah, sementara elite terus tertawa di atas penderitaan rakyat. Pendidikan gratis total bukan utopia. Yang utopia adalah berharap elite politik rela melepaskan sumber duitnya demi mencerdaskan bangsa.

Komentar