Selasa, 16 Juni 2026 | 00:49
OPINI

Dunia Sedang Berubah: Indonesia, Simbol Kebangkitan Poros Asia

Dunia Sedang Berubah: Indonesia, Simbol Kebangkitan Poros Asia
Gambar yang memperlihatkan Xi Jinping, Vladimir Putin, Kim Jong Un, dan Prabowo Subianto berdiri sejajar seolah menggambarkan "The Greatest Four" (Dok Setpres)

Apa arti kehadiran Prabowo Subianto di panggung Beijing bagi dunia?

ASKARA - Pertanyaan sederhana ini tiba-tiba viral setelah foto parade militer Cina tersebar luas. Gambar yang memperlihatkan Xi Jinping, Vladimir Putin, Kim Jong Un, dan Prabowo Subianto berdiri sejajar seolah menggambarkan “The Greatest Four”. Momen itu langsung menjadi sorotan global. Apakah Indonesia kini beralih haluan, atau sedang memainkan diplomasi yang jauh lebih kompleks?

Banyak yang menganggap itu sekadar seremoni. Namun, politik jarang sesederhana itu.

Parade Militer Cina yang Mengguncang

Parade militer di Beijing pada 3 September 2025 bukan hanya pamer kekuatan. Ribuan pasukan berbaris rapi, jet tempur membelah langit, rudal balistik digerakkan di depan mata dunia. Peringatan 80 tahun kemenangan Cina atas Jepang menjadi pesan lantang: Cina bukan lagi bangsa yang diinjak sejarah, melainkan kekuatan yang siap menentukan masa depan.

Yang lebih mengguncang bukanlah deru tank, melainkan siapa yang hadir. Xi Jinping berdiri di panggung bersama Vladimir Putin, Kim Jong Un, dan Prabowo Subianto. Konfigurasi ini langsung memicu perbincangan global. Dunia sadar, parade itu adalah panggung politik. Cina menggunakan momentum sejarah untuk menegaskan posisinya kini. Dan Indonesia ikut menjadi sorotan—bagian dari simbol poros Asia yang bangkit.

Bergerak dan Berubah

Sejarah selalu bergerak. Abad ke-20 ditandai Perang Dunia dan Perang Dingin. Kini, abad ke-21 diwarnai pergeseran besar. Barat tidak lagi memegang kendali mutlak. Cina tumbuh sebagai kekuatan ekonomi dan militer. Rusia, meski disanksi, tetap berpengaruh. Korea Utara masih menjadi simbol perlawanan.

Indonesia tidak bisa lagi hanya jadi penonton. Dengan populasi terbesar keempat, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, dan demokrasi terbesar ketiga di dunia, kita punya posisi unik. Kehadiran Prabowo di Beijing adalah sinyal bahwa Indonesia mulai diperlakukan sebagai kekuatan strategis. Dunia sedang berubah, dan Asia menjadi panggung utama perubahan itu.

Peran Prabowo dan Warisan Sukarno

Kehadiran Prabowo di Beijing mengingatkan pada Sukarno. Enam dekade lalu, Sukarno berdiri tegak melawan dominasi Barat. Ia membangun poros Jakarta–Beijing–Pyongyang–Moskow.

Hari ini bayangan itu muncul kembali. Bedanya, Prabowo hadir bukan dengan retorika revolusioner, melainkan gaya nasionalis-pragmatis. Tapi simbolnya sama: Indonesia menunjukkan bahwa ia tidak hanya menghadap ke Barat.

Bagi Cina, Indonesia adalah pintu Asia Tenggara dengan jalur maritim strategis dan pasar besar. Bagi Rusia, Indonesia adalah sahabat lama sejak era Sukarno. Bagi Korea Utara, Indonesia termasuk sedikit negara yang berani menjaga hubungan diplomatik tanpa tunduk pada tekanan Amerika. Indonesia bukan sekadar besar, tapi juga penyeimbang.

Sindiran Trump dan Ketegangan Barat

Tidak semua pihak nyaman melihat kebersamaan itu. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, langsung menyindir keras Xi Jinping, Putin, Kim, bahkan Prabowo. Ia menuduh pertemuan tersebut sebagai upaya “berkonspirasi melawan Amerika”.

Sindiran itu justru mengonfirmasi satu hal: bahwa momen Beijing dianggap penting. Amerika khawatir melihat kebangkitan poros Asia, apalagi ketika Indonesia mulai masuk orbit itu. Dalam kacamata Washington, kehadiran Prabowo di Beijing tidak lagi bisa dianggap biasa. Ia adalah tanda bahwa keseimbangan dunia sedang bergeser.

Jika dilihat dari daftar lengkap, hanya 26 negara yang diundang. Jumlah ini memang kecil dibanding banyaknya anggota PBB, tapi polanya menarik: sebagian besar adalah negara-negara non-blok, anggota Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), atau negara yang punya hubungan historis dengan Cina dan Rusia.

Artinya, Cina tidak hanya mengundang sekutu ideologis, melainkan juga mitra strategis yang relevan dalam skema tatanan dunia baru. Indonesia, sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G20, adalah salah satu mitra kunci.

Sosialisme Modern dan Kehadiran Indonesia

Parade militer di Beijing tidak hanya menampilkan kekuatan senjata, tetapi juga ideologi yang masih hidup: sosialisme dengan wajah modern. Cina, Rusia, hingga Korea Utara menunjukkan bahwa sosialisme bisa mengambil bentuk baru—bukan lagi sekadar doktrin klasik, melainkan strategi politik, ekonomi, dan kemandirian menghadapi tekanan global.

Kehadiran Prabowo di barisan para pemimpin ini memberi pesan tersendiri. Ia pernah menyatakan keinginannya untuk menjadi pemimpin sosialis di Asia. Dengan semangat mewujudkan keadilan sosial, menolak dominasi asing, dan meningkatkan ekonomi kerakyatan, Prabowo sejatinya sejalan dengan nilai-nilai yang digaungkan dalam parade tersebut.

Di era dunia yang sedang berubah, sosialisme modern tidak harus dimaknai sebagai ideologi tertutup. Ia bisa menjadi lensa untuk melihat bagaimana bangsa-bangsa Asia membangun kedaulatan tanpa tunduk pada hegemoni. Di titik ini, Indonesia berperan penting sebagai jembatan: bukan sekadar pengamat, melainkan bagian dari percakapan besar tentang model pembangunan yang lebih adil dan manusiawi.

Sekali lagi, foto Prabowo berdiri sejajar dengan Xi Jinping, Vladimir Putin, dan Kim Jong Un akan dikenang sebagai momen penting dalam geopolitik dunia. Ia bukan sekadar gambar, tetapi simbol kebangkitan poros Asia. Posisi Indonesia yang menganut politik bebas aktif menjadi modal besar untuk menjembatani berbagai kepentingan.

Dunia sedang berubah. Dan di tengah perubahan itu, Indonesia harus menjadi penentu arah.

 

Bobby Ciputra
Ketua AMSI
(Angkatan Muda Sosialis Indonesia)

 

 

Komentar