Walimah Rasa Nusantara di Tanah Suci
ASKARA - Di sebuah sudut Makkah, jauh dari kampung halaman, aroma opor ayam mengepul hangat. Bukan sekadar masakan, tapi sebuah nostalgia yang tiba-tiba menyeruak di antara doa, senyum, dan tawa para tamu. Malam itu, Gus Kevin dan Ning Razan bukan hanya merayakan hari bahagia mereka, tetapi juga menyulam kembali benang rindu pada tanah kelahiran.
Restoran Indonesia Makkah Dapoer Ummik mendadak berubah jadi rumah besar. Lebih dari 500 tamu undangan hadir, datang dengan wajah berseri, menyambut bacaan Surat Al-Waqi’ah yang mengawali acara. Dziba’ dilantunkan, muludan digelar, semua serba akrab, seakan-akan mereka sedang berada di desa sendiri. Hanya saja, dari luar jendela, bukannya suara jangkrik atau angin sawah yang terdengar, melainkan hiruk pikuk jalanan Makkah yang tak pernah tidur.
Rangkaian walimah ini melanjutkan akad nikah yang telah dilaksanakan di Masjid Ahgof, Yaman. Namun, berbeda dengan akad yang khidmat dan singkat, walimah tadi malam lebih menyerupai perayaan keluarga besar. Ada foto-foto, ada doa, lalu ada momen paling ditunggu: makan bersama.
Menu yang dihidangkan pun bukan sembarangan. Opor ayam yang gurih, urap-urap dengan aroma kelapa sangrai, hingga gorengan sederhana yang terasa begitu istimewa. Para tamu langsung menyambutnya dengan riang, seperti menemukan kembali sepotong Indonesia di tanah haram. “Masya Allah, rasane kaya mulih kampung,” ucap seorang ibu sambil tersenyum, matanya berkaca-kaca.
Di balik semua itu, ada kisah yang lebih dalam. Gus Kevin dan Ning Razan adalah pasangan yang dijodohkan. Dalam pandangan sebagian orang, pernikahan karena perjodohan kerap dianggap kaku. Namun malam itu, siapa pun bisa melihat tatapan keduanya yang mulai saling bersemi. Ada canggung yang manis, ada kebersamaan yang mulai terajut, dan ada cinta yang sedang tumbuh, dengan kesabaran sebagai pupuknya.
Seperti dalam novel Suhita yang sering jadi perbincangan, doa yang mengalir untuk mereka bukan hanya sakinah, mawaddah, wa rahmah, tetapi juga maslahah. Sebuah kata yang sederhana tapi dalam, sebab pada titik “maslahah” inilah rumah tangga bisa bertahan: demi kebaikan bersama, demi keluarga, demi pesantren, dan demi umat.
Bagi sebagian tamu, perjalanan menghadiri walimah ini terasa seperti ziarah panjang. Bayangkan, undangan “Suhita” yang paling jauh sampai ke Makkah. Namun justru karena jarak itu, walimah ini terasa begitu istimewa. Setiap langkah menuju restoran, setiap doa yang dipanjatkan, seolah menjadi bagian dari perjalanan spiritual yang lebih besar.
“Selamat Gus Kevin dan Ning Razan. Semoga adem ayem tentrem, sakinah mawaddah rahmah, dan tansah pinaringan berkah,” begitu doa yang berulang-ulang terucap dari lisan para tamu.
Dan malam itu, di bulan Maulid yang penuh keberkahan, cinta pun dirayakan dengan cara paling indah: sederhana, tulus, dan berbalut aroma masakan nusantara. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar