Selasa, 21 Juli 2026 | 19:52
NEWS

Sri Mulyani Cerita Lukisan Pribadi Dijarah: Bagi Saya Bukan Sekadar Kanvas, Tapi Simbol Perenungan

Sri Mulyani Cerita Lukisan Pribadi Dijarah: Bagi Saya Bukan Sekadar Kanvas, Tapi Simbol Perenungan
Menteri Keuangan, Sri Mulyani. (IG@smindrwati)

ASKARA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan pengalaman pribadi terkait aksi penjarahan yang terjadi di rumahnya pada akhir Agustus 2025. Dalam peristiwa itu, seorang pria tak dikenal membawa kabur sebuah lukisan bunga yang dilukis langsung oleh Sri Mulyani 17 tahun silam.

Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, @smindrawati, Rabu (3/9), Sri Mulyani menyebut pelaku penjarahan itu tampak tenang saat memanggul lukisan.

“Laki-laki berjaket merah memakai helm hitam tampak memanggul lukisan cat minyak bunga di atas kanvas ukuran cukup besar. Dia membawa jarahannya dengan tenang, percaya diri keluar dari rumah pribadi saya,” tulisnya.

Sri Mulyani menuturkan, lukisan itu memiliki nilai emosional yang dalam. Baginya, lukisan bunga tersebut bukan sekadar benda seni, melainkan simbol perjalanan hidup dan ruang kenangan bersama keluarga.

“Bagi penjarah mungkin hanya bernilai lembaran uang. Bagi saya, lukisan itu hasil dan simbol perenungan serta kontemplasi diri yang sangat pribadi. Ia bak rumah tempat anak-anak saya tumbuh dan menyimpan kenangan tak ternilai,” ungkap Bendahara Negara itu.

“Para Penjarah Seperti Berpesta”

Sri Mulyani juga menyoroti fenomena penjarahan yang menurutnya tampak seperti perayaan tanpa rasa bersalah. Bahkan, ia menyinggung liputan media yang mewawancarai pelaku secara terbuka.

“Para penjarah seperti berpesta, bahkan diwawancara reporter media: ‘dapat barang apa mas?’ Dijawab ringan, dengan nada bangga tanpa rasa bersalah: ‘lukisan’. Liputan penjarahan itu diviralkan, menimbulkan histeria intimidatif yang kejam,” tulisnya.

Ia menilai penjarahan yang terjadi bukan hanya merampas benda, tetapi juga mengikis rasa aman, kepastian hukum, hingga nilai kemanusiaan.

Tragedi Lebih Besar

Lebih jauh, Sri Mulyani menyinggung tragedi yang lebih kelam pada saat yang sama dengan peristiwa penjarahan rumahnya. Sejumlah korban jiwa jatuh akibat aksi unjuk rasa anarkis di berbagai daerah.

“Minggu kelabu akhir Agustus itu, ada korban yang jauh lebih berharga dibanding sekadar lukisan saya, yaitu korban jiwa manusia yang melayang yang tak akan tergantikan,” tulisnya sambil menyebut nama-nama korban yang gugur.

Menurutnya, kerusuhan hanya meninggalkan luka, kehancuran, dan hilangnya akal sehat. “Dalam kerusuhan tidak pernah ada pemenang, yang ada hanyalah runtuhnya fondasi berbangsa dan bernegara,” tegasnya.

Pesan untuk Bangsa

Menutup pernyataannya, Sri Mulyani mengajak masyarakat menjaga Indonesia sebagai rumah bersama.

“Indonesia adalah rumah kita bersama. Jangan biarkan dan jangan menyerah pada kekuatan yang merusak itu. Jaga dan terus perbaiki Indonesia bersama, tanpa lelah, tanpa amarah, tanpa keluh kesah, serta tanpa putus asa,” pungkasnya.

Komentar