Tragikomedi: Kuli Gabah Bernama Wakil Rakyat
ASKARA - Seorang anggota DPRD Kudus berinisial S tertangkap tangan berjudi di Kecamatan Undaan. Namun, alih-alih mengakui jabatannya, ia malah mengaku sebagai kuli gabah.
Penyamaran ini gagal total. Ironisnya, bukan hanya ketahuan berjudi, tapi juga ketahuan mempermainkan integritas publik. Akhir cerita: ia mundur, tapi noda citranya tak semudah itu luntur.
Boleh jadi ini kisah tragikomedi paling absurd yang datang dari ranah politik lokal. Seorang anggota DPRD Kudus, yang notabene digaji dari uang rakyat, justru tertangkap tangan bermain judi—di tengah malam, dan lebih parah lagi: menyamar jadi kuli gabah.
Sumber dari Kompas.com, 20 Juli 2025 menyebut, penggerebekan dilakukan oleh jajaran Polres Kudus pada pukul 00.30 WIB, dengan menangkap lima orang, termasuk si anggota dewan berinisial S.
Namun, yang membuat bulu kuduk lebih geli ketimbang merinding, adalah bagaimana S menyembunyikan identitasnya dengan mengaku sebagai tenaga kasar pengangkut gabah. Sungguh penghinaan dua arah kepada intelektualitas publik dan kepada para kuli gabah yang sebenarnya.
Apa yang hendak ditunjukkan oleh penyamaran ini? Apakah ada semacam anggapan bahwa jika seseorang rendah status sosialnya maka lebih mudah ditoleransi saat berjudi? Atau ia terlalu takut jabatan gemerlapnya akan ditarik paksa jika ketahuan berjudi, sehingga berpura-pura menjadi rakyat jelata? Ironis. Ketika rakyat berjuang naik kelas sosial, justru wakilnya malah turun kelas untuk menutupi dosa.
Kapolres Kudus, AKBP Heru Dwi Purnomo, sebagaimana dikutip dari Detik.com, 21 Juli 2025, mengonfirmasi identitas S sebagai anggota DPRD Kudus yang turut serta dalam kegiatan haram tersebut.
“Salah satunya inisial S anggota dewan, turut serta bermain (judi),” tegas Kapolres. Uang tunai Rp1 juta diamankan sebagai barang bukti, menambah daftar dosa malam itu.
Publik tentu boleh bertanya: apakah hanya Rp1 juta harga dari moral seorang wakil rakyat? Harga yang bahkan lebih kecil dari uang parkir satu bulan di mal elite Semarang. Tapi ternyata nilai jual moral itu memang murah bila sudah ditukar dengan adrenalin perjudian dan rasa takut tertangkap.
S mengundurkan diri dari jabatan Ketua DPD Partai NasDem Kudus setelah pihak pengurus mendatanginya di tahanan. “Setelah pengurus Partai Nasdem menemui yang bersangkutan di tahanan Polres Kudus, akhirnya yang bersangkutan menyatakan mengundurkan diri,” kata Akhwan, Wakil Ketua DPW NasDem Jateng, sebagaimana dimuat Radar Kudus, 21 Juli 2025. Tentu saja, ini langkah yang ‘terpaksa elegan’. Mundur setelah tertangkap bukanlah kehormatan, melainkan kepanikan.
Namun pertanyaannya, apakah pengunduran diri ini cukup? Apakah publik akan menerima begitu saja pemakluman terhadap wakil rakyat yang berjudi, lalu menyamar, lalu mundur seakan semua sudah selesai begitu saja?
Lebih jauh, kejadian ini menyibak sisi gelap dari mentalitas para elit politik lokal. Mereka bukan hanya tidak memberi teladan, tapi justru memberi gambaran nyata bahwa jabatan publik bisa dijadikan topeng dipakai saat dibutuhkan, dibuang saat tertangkap.
Penyamaran S sebagai kuli gabah sebenarnya membuka dimensi baru dalam studi politik: betapa rendahnya persepsi mereka terhadap masyarakat biasa. Seolah profesi rakyat jelata bisa dijadikan pelindung ketika busuk moral tak bisa ditutup dengan jas.
Dari sisi hukum, kasus ini harusnya tidak berhenti di ruang opini atau di meja partai. Kepolisian perlu menindak tegas tanpa pandang status. Kita tak butuh pejabat yang lihai menyamar, melainkan yang berani bertanggung jawab.
Dan untuk masyarakat Kudus, semoga peristiwa ini menjadi alarm keras. Kita memang memilih wakil rakyat, tapi ternyata mereka kadang lebih lihai bertindak sebagai rakyat daripada sebagai wakilnya. Lebih jago menyaru jadi kuli gabah daripada berani bersuara di ruang paripurna. Dan jangan kaget, mungkin ia bukan satu-satunya.
Karena di negeri ini, penyamaran sudah menjadi bagian dari seni politik, dan kejujuran hanyalah bonus yang makin lama makin langka.
Skandal ini bukan sekadar soal judi. Ini soal moral yang dilarikan ke sawah. Tentang dewan yang menjelma kuli demi melindungi diri. Dan tentang rakyat yang disuguhi sandiwara murahan oleh aktor-aktor politik yang lupa: jabatan itu bukan mainan, apalagi taruhan. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar