Memaknai HUT ke-75 Ignatius Kardinal Suharyo
ASKARA - Tujuh puluh lima tahun bukan sekadar bilangan penanda di mistar waktu..
Bagi Ignatius Kardinal Suharyo, ini adalah perjalanan panjang menggembalakan umat dalam kesetiaan.
Ia menggembalakan dalam diam, dalam sabar, dan dalam doa yang tak henti.
Ia pernah menjadi Uskup Agung Semarang (1997), kemudian diangkat menjadi Uksup TNI dan POLRI (2006).
Lalu dipercaya menjadi Uskup Agung Jakarta (2009).
Dan kemudian diangkat menjadi Kardinal (2019), berangkat menghadiri konklaf di Vatikan yang mendunia itu (2025).
Tapi peran yang sering luput dari perhatian, adalah penggembalaan beliau sebagai Uskup Ordinariat Militer—untuk umat Katolik di lingkungan TNI dan POLRI. Dan hal itulah yang sama menjadi pertanyaan seorang Kardinal - saat sidang konklaf - yang heran akan jabatan itu mengingat Indonesia dikenal sebagai negara Islam terbesar di dunia.
Menjadi gembala di lingkungan TNI dan Polri pun tidak mudah.
Namun, kehadirannya di tengah kerasnya dunia disiplin dan loyalitas.
Ia membawa kehangatan kasih Injil ke dalam barak, ruang jaga, dan pos terpencil di perbatasan.
Ia mendengarkan mereka yang letih, ragu, atau bingung.
Ia meneguhkan hati para prajurit dan anggota kepolisian yang ingin tetap setia sebagai abdi negara sekaligus murid Kristus.
Ia tidak pernah tampil mencolok, tetapi kehadirannya meninggalkan kesan yang dalam.
Lukas 10:25–37 menjadi terang yang membantu kita melihat jalan beliau.
Yesus ditanya seorang ahli Taurat: “Siapakah sesamaku manusia?”
Yesus menjawab dengan kisah sederhana: orang Samaria yang baik hati.
Ia tidak bertanya siapa korban itu.
Ia hanya berhenti, tergerak hatinya oleh belas kasih, lalu bertindak.
Memberi, merawat, mengangkat, bahkan membayar penginapan untuk orang yang bahkan mungkin tak dikenalnya.
Dalam dunia yang dipenuhi citra dan suara-suara yang saling memojokkan, Kardinal Suharyo memilih jalan yang sepi.
Ia menjadi seperti orang Samaria itu.
Ia hadir di tengah umat yang tersingkir, minoritas, bahkan kadang disalahpahami.
Ia tidak membela diri di media.
Ia tidak membalas dengan amarah.
Tapi ia terus melayani, dengan rendah hati dan tenang.
Moto Keuskupan adalah Serviens Domino cum omni humilitate—“Melayani Tuhan dengan segala kerendahan hati.”
Kata-kata ini bukan sekadar semboyan di dinding.
Itu menjadi napas hidupnya.
Ia tidak hanya mengajar umat untuk rendah hati.
Ia meneladankan bagaimana merendahkan hati justru menjadi kekuatan.
Kerendahan hati bukan kelemahan.
Itu keberanian untuk tetap mencintai, bahkan saat dunia menjadi keras.
Dan kini, di usia ke‑75, ia tak sedang merayakan pencapaian pribadi.
Yang ia rayakan adalah kesetiaan Tuhan.
Dan kemurahan umat yang tetap mau digembalakan.
Juga keteguhan para prajurit dan anggota POLRI yang tetap ingin hidup benar, meski dunia sering menggoda ke arah sebaliknya.
TNI dan POLRI tidak hanya butuh senjata dan strategi.
Mereka butuh hati yang dibentuk oleh kasih.
Mereka perlu diingatkan bahwa menjadi terang dan garam bukan berarti menjadi lemah.
Tapi menjadi berbeda.
Berani menolak arus gelap, dan tetap menjadi pembawa harapan.
Dan di situlah peran gembala seperti Kardinal Suharyo menjadi tak ternilai.
Ia tidak membawa obor besar.
Tapi ia menyalakan lilin-lilin kecil di hati banyak orang.
Dan mungkin, itu jauh lebih berarti.
Selamat Ulang Tahun Bapak Kardinal. Kami merayakan kesetiaan Tuhan yangselalu terpancar dalam kegembalaan Bapak, di TNI dan POLRI, di Indonesia.
Salam sehat, berlimpah berkat.
+ Rm Yos Bintoro, Pr

Komentar