Rabu, 17 Juni 2026 | 15:31
OPINI

Titipan Dosa untuk Negeri Tercinta

Titipan Dosa untuk Negeri Tercinta
Jokowi (int)

ASKARA - Setelah 10 tahun menjabat, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya berpamitan, bukan hanya kepada rakyat, tapi juga kepada tumpukan PR kebangsaan yang kini diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Tak seperti presiden pada umumnya yang meninggalkan piagam atau peraturan, Jokowi justru meninggalkan sesuatu yang lebih abadi, "titipan dosa untuk republik tercinta".

Jokowi meninggalkan oleh-oleh dari Istana, yaitu dosa siap pakai., dalam kardus bertuliskan "Jangan Dibuka Sebelum Lengser", isi titipan mulai terbuka di akhir masa jabatan. Di dalamnya terdapat:

Hutang luar negeri yang katanya untuk rakyat, tapi nyatanya rakyat cuma dapat nonton prosesi penandatanganannya di TV.

Proyek IKN yang lebih cocok disebut “Impian Kala Ngantuk” karena dibangun saat rakyat sudah lelah menghadapi harga-harga naik.

Kereta cepat yang cepat melaju tapi lambat mengembalikan manfaat. Demokrasi Dikecilkan, dinasti dibesarkan. Rakyat awalnya berharap pada meritokrasi, tapi yang datang justru dinasti.

Bukan hanya mengangkat keluarga ke panggung kekuasaan, Jokowi juga sukses mencetak rekor dunia sebagai presiden yang bisa membuat rakyat debat soal definisi “netralitas.”

Selama sepuluh tahun, Indonesia dibangun dari Sabang sampai ke seminar. Tapi ketika kritik muncul, segera dicap sebagai pengganggu pembangunan. Sehingga, selama itupun pembangunan merata, namun kritik terpangkas.

Rakyat yang tanya “kok utangnya nambah?” dijawab dengan infografis penuh warna.
Yang berani protes, dikasih label “Buzzer sebelah.”

Namun, secara teori, pertumbuhan ekonomi terlihat sehat. Tapi saat rakyat membuka dompet, isinya cuma struk belanja dan kartu parkir.
Pemerintah bilang inflasi terkendali, tapi harga gorengan tetap bikin gajian terasa kayak becanda.

Itulah yang dosa dititipkan dan masalah diteruskan

Dengan senyum khasnya, Jokowi meninggalkan panggung. Tapi sebelum pergi, seolah ia berkata:

“Saya titip masa depan bangsa ini. Termasuk masalah-masalah yang belum sempat saya bereskan. Silakan dilanjutkan ya”. (Shendy)

Komentar