Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32
NEWS

Prof. Rokhmin Dahuri: Akuakultur Game Changer Indonesia Emas 2045, MAI Harus Jadi Motor Utama!

Prof. Rokhmin Dahuri: Akuakultur Game Changer Indonesia Emas 2045, MAI Harus Jadi Motor Utama!
Prof. Rokhmin Dahuri (kiri) mendampingi Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Sakti Wahyu Trenggono (ist)

ASKARA - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS, menyerukan kebangkitan sektor kelautan dan perikanan sebagai penggerak utama ekonomi rakyat, khususnya di Buleleng, Bali.

Seruan ini disampaikannya dalam Simposium Konsolidasi Akuakultur Nasional Rakernas MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia) 2025 dan Pengukuhan DPD MAI, Rabu (9/7), di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Singaraja.

“Potensi perikanan Buleleng ibarat raksasa yang sedang tidur. Dengan 157 km garis pantai, setidaknya 30 persen bisa digunakan untuk budidaya, terutama udang. Kalau ini digarap serius, Buleleng seharusnya jadi rajanya perikanan budidaya. Tinggal dorong investasi dan industrinya,” ujar Prof. Rokhmin yang juga Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Pusat, dalam tema bertajuk “Industri Akuakultur Terpadu Sebagai Game Changer Dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045.” 

Ia menyoroti pentingnya membangun industri akuakultur terpadu—mulai dari budidaya, pengolahan, logistik hingga pemasaran, agar ekonomi lokal tumbuh dengan efek berganda. Menurutnya, pelabuhan perikanan harus berevolusi dari sekadar tempat tambat-labuh menjadi kawasan industri modern. 

“Selama ini kita terlalu sentralistik. Daerah seperti Buleleng harus diberi kewenangan lebih luas untuk mengelola sumber dayanya. Investasi harus masuk, industri harus tumbuh,” tegasnya.

Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan bahwa sektor kelautan dan perikanan bukan hanya soal pangan, tetapi kunci untuk mengentaskan kemiskinan, mengurangi pengangguran, memperbaiki gizi, dan menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

“Saatnya perikanan jadi pilar utama pembangunan maritim Indonesia. Kalau ini kita jalankan dengan niat serius dan penuh keadilan, Indonesia Emas 2045 bukan lagi angan-angan,” ujarnya.

Dalam paparan visionernya, Prof. Rokhmin Dahuri menyebut perlunya transformasi pelabuhan perikanan menjadi kawasan industri terpadu. Ia juga mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk memberikan kewenangan lebih kepada kabupaten dalam pengelolaan sumber daya laut.  "Dengan pendekatan industri, kita bisa ciptakan efek berganda bagi ekonomi lokal,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan sektor perikanan sebagai pilar utama pembangunan maritim Indonesia.  
"Jika dikelola serius dan berkeadilan, sektor ini mampu atasi pengangguran, tingkatkan gizi rakyat, dan dorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan," tegasnya.

 

MAI Satukan Laut dan Harapan Bangsa

Ketua Dewan Pakar ASPEKSINDO (Asosiasi Pemerintah Daerah Pesisir dan Kepulauan se Indonesia) itu memaparkan strategi peningkatan peran MAI dalam mendukung pembangunan perikanan budidaya berkelanjutan menuju visi Indonesia Emas 2045. Ia menyerukan transformasi besar peran MAI menjadi lokomotif pembangunan perikanan budidaya berkelanjutan sebagai tulang punggung ekonomi agromaritim Indonesia.

Beliau menekankan pentingnya akuakultur sebagai pilar utama pembangunan agromaritim yang inklusif dan berkelanjutan. "Kalau dikelola serius, akuakultur bisa jadi game changer Indonesia 2045. Bukan sekadar sektor ekonomi, tapi landasan transformasi sosial dan lingkungan,” ujarnya.

Kemudian, Prof. Rokhmin Dahuri memaparkan empat langkah strategis peningkatan peran MAI:

Pertama , Penguatan R&D berbasis dampak nyata
- Menjadikan riset tak hanya berhenti di publikasi ilmiah (Scopus), tapi melahirkan inovasi teknologi, informasi ilmiah terapan, dan basis kuat dalam proses perencanaan & pengambilan keputusan pembangunan akuakultur.  
 - Program pendukung: Workshop, Seminar, Konferensi, Match-Making, dan penguatan kolaborasi Pentahelix.

Kedua, Masukan Konstruktif kepada Pemangku Kepentingan  
- Memberikan kritik-solusi yang membangun kepada pemerintah, industri, swasta, dan masyarakat dalam upaya mendorong tata kelola akuakultur yang adil dan berkelanjutan.

Ketiga, Promosi dan Advokasi Publik  
- Menyuarakan pentingnya investasi dan pengembangan bisnis akuakultur secara berkelanjutan di berbagai forum nasional dan internasional.

Keempat, Penguatan “Indonesia Aquaculture Incorporated”  
- Membangun MAI sebagai rumah besar bagi seluruh organisasi terkait akuakultur seperti SCI, NILA, ARLI, ASTRULI, Catch Fish, Ikan Hias, dan lainnya.

“MAI harus naik kelas. Dari sekadar komunitas menjadi otak strategi nasional akuakultur. Inilah momentum kita,” tegasnya.

Struktur Kemitraan Pentahelix

Rektor Universitas UMMI Bogor ini  menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor melalui model kemitraan Pentahelix untuk mendorong kebangkitan industri akuakultur nasional.

"Pentahelix merupakan model kolaborasi yang mensinergikan Akademisi, Industri, Pemerintah, Komunitas, dan Media untuk menciptakan ekosistem pembangunan berbasis IPTEK dan kreativitas," ujar Prof. Rokhmin Dahuri.

Ia memaparkan bahwa kemitraan Pentahelix merupakan kunci akselerasi pembangunan sektor kelautan dan perikanan yang inklusif dan berkelanjutan.

“Model ini menyatukan lima unsur penting: akademisi, industri, pemerintah, komunitas, dan media. Sinergi ini harus dijalankan berbasis ilmu pengetahuan, kreativitas, dan tanggung jawab kolektif,” jelasnya.

Prof. Rokhmin menegaskan MAI siap memimpin transformasi sektor akuakultur nasional dengan mengedepankan riset berdampak, ekosistem investasi yang kondusif, serta kolaborasi konkret antar pemangku kepentingan.

Prof. Rokhmin kembali mengingatkan urgensi kolaborasi lintas sektor, dengan menyebut laut sebagai masa depan bangsa:  "Jangan hanya melihat laut sebagai warisan, tapi sebagai masa depan kita. Jika kita semua bekerja bersama, akuakultur bisa menjadi tulang punggung Indonesia Emas." 

Ia mengutip mengutip firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Ia mengajak semua pihak, terutama daerah pesisir seperti Buleleng, untuk bersama-sama menjadikan akuakultur sebagai pilar utama ekonomi kerakyatan menuju Indonesia Emas 2045.

Akuakultur Bisa Dongkrak Ekonomi RI 

Menteri Kelautan dan Perikanan RI 2001–2004 itu menegaskan pentingnya industri akuakultur sebagai game changer dalam pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Ia menyampaikan pernyataan tajam dan penuh optimisme: industri akuakultur nasional bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 10% per tahun, jauh di atas rata-rata stagnan 5% selama ini, jika dikelola dengan modern, inklusif, dan berkelanjutan.

Menurutnya, potensi akuakultur Indonesia mencapai 100 juta ton per tahun, namun baru 15 juta ton yang terealisasi. Sektor ini padat karya dan mengakar di komunitas pesisir, pulau kecil, hingga daerah terpencil. Dengan manajemen yang inklusif dan berkelanjutan, kontribusinya terhadap ekonomi bisa mencapai 10 persen per tahun.

"Artinya, kita baru sentuh 15% dari kapasitas kita. Menurutnya, ini ironi sekaligus peluang besar," tegas Duta Kehormatan Kepulauan Jeju dan Kota Metropolitan Busan, Korea Selatan itu.

Lalu, ia memaparkan strategi pembangunan industri perikanan budidaya untuk mendukung ketahanan pangan nasional, termasuk penguatan infrastruktur, peningkatan SDM, diversifikasi komoditas, revitalisasi BUMN sektor KP, hingga pengembangan bioteknologi perairan.

Prof. Rokhmin Dahuri menekankan bahwa akuakultur adalah game changer dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, dengan dampak nyata dalam mengurangi kemiskinan, pengangguran, malnutrisi, dan ketimpangan ekonomi.

“Kita punya semuanya: sumber daya alam, posisi strategis, dan bonus demografi. Tinggal satu yang kita butuhkan—political will yang kuat dan tata kelola yang bersih,” tegasnya.

Prof. Rokhmin memaparkan strategi pembangunan industri perikanan budidaya yang mencakup:

- Penguatan Infrastruktur dan SDM: Membangun fasilitas perikanan modern dan meningkatkan kompetensi tenaga kerja akuakultur.

- Revitalisasi Perusahaan Perikanan Terpadu: Mendorong transformasi perusahaan agar lebih efisien, berkelanjutan, dan berdaya saing global.

- Diversifikasi Komoditas Budidaya: Menjawab dinamika pasar dan potensi lokal lewat variasi produk unggulan.

- Pengembangan Industri Bioteknologi Perairan: Mendukung produksi farmasi, kosmetik, bioenergi, dan bioplastik berbasis laut.

Prof. Rokhmin mengungkapkan bahwa potensi akuakultur Indonesia adalah yang terbesar di dunia, sekitar 100 juta ton per tahun, namun baru 15 juta ton yang terealisasi. Ia juga menyoroti tiga modal utama Indonesia:  1. Kekayaan sumber daya alam, 2. Posisi geo-ekonomi yang strategis,3. Bonus demografi generasi muda  

"Yang kita butuhkan hanyalah kemauan politik yang kuat, tata kelola yang baik, dan inovasi," kata Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan - IPB University ini.

Prof. Rokhmin Dahuri menyayangkan banyaknya peluang yang terlewat dalam satu dekade terakhir akibat iklim investasi yang tidak ramah, kebijakan yang tidak konsisten, bahkan kriminalisasi terhadap para pembudidaya ikan. Akibatnya, banyak industri asing yang justru pindah ke Vietnam dan Malaysia, bukan ke Indonesia.

“Jika kita tidak segera memperbaikinya, kita berisiko menghadapi bencana demografi, jutaan anak muda menjadi NEET (Not in Education, Employment, or Training), kualitas sumber daya manusia yang rendah, dan semakin banyak warga Indonesia mencari pekerjaan ke luar negeri,” ujarnya mengingatkan.

Selain itu, ia juga menyoroti tingginya angka stunting, malnutrisi, dan kemiskinan yang masih menggerogoti Indonesia. Berdasarkan standar kemiskinan Bank Dunia, lebih dari 60 persen warga Indonesia masih dikategorikan miskin. 

"Padahal, dengan investasi yang tepat di sektor akuakultur, jutaan lapangan kerja bisa tercipta, berkat sifat sektor ini yang padat karya dan berakar kuat di komunitas pedesaan, pesisir, dan pulau-pulau terluar," kata Anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional untuk Center for Coastal and Ocean Development, Universitas Bremen, Jerman itu.

Prof. Rokhmin Dahuri menekankan pentingnya transformasi struktural ekonomi melalui akuakultur terintegrasi, mengalihkan sumber daya produktif dari sektor tradisional ke industri bernilai tinggi seperti bioteknologi kelautan. Menurutnya, hal ini sejalan dengan tujuan Indonesia untuk menjadi negara maju dan sejahtera dengan pendapatan per kapita di atas $14.000 pada tahun 2045.

Selain menghasilkan produk konvensional seperti ikan dan udang, Prof. Rokhmin Dahuri menyoroti potensi laut yang tidak konvensional, berupa senyawa bioaktif untuk farmasi, pangan sehat, pupuk organik, hingga biofuel berbasis ganggang. Ia menyebut lautan Indonesia sebagai “harta biru tak berujung” yang menanti untuk dibuka melalui teknologi dan inovasi.

Acara ini turut dihadiri oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Sakti Wahyu Trenggono, yang tidak hanya hadir sebagai pembicara utama, tetapi juga memberikan pengarahan langsung terkait arah kebijakan strategis sektor perikanan dan akuakultur nasional ke depan.

Hadir pula Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, SH, mewakili Bupati Buleleng sekaligus dilantik sebagai Ketua DPD MAI Bali. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Ketua DPRD Provinsi Bali, Ketut Ngurah Arya, serta Wakil Rektor II Universitas Pendidikan Ganesha (UNDHIKSA), Prof. Dr. I Wayan Artanayasa, M.Pd, yang mewakili Rektor UNDHIKSA.

Acara yang dihadiri juga oleh ratusan peserta dari berbagai penjuru Indonesia tersebut ditutup dengan pelantikan pengurus MAI Bali serta seruan kuat untuk menjadikan lautan sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan bangsa.

Komentar