Saatnya Mengakhiri Teror, Membangun Papua Bersama
ASKARA - Operasi militer yang digelar TNI pada Senin, 16 Juni 2025, di Kampung Aleleng, Distrik Tangma, Yahukimo, Papua Pegunungan, menjadi penegasan penting bahwa negara tidak tinggal diam terhadap aksi teror yang mengganggu keamanan dan ketenteraman rakyat. Langkah tegas dan terukur terhadap Kelompok Egianus Kogoya dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap III Ndugama adalah wujud kehadiran negara untuk melindungi masyarakat Papua.
Serangan brutal terhadap para pekerja pembangunan gereja di Wamena, ditambah aktivitas ilegal berupa perusakan hutan untuk ladang ganja, menjadi bukti nyata bahwa kelompok bersenjata ini tidak hanya menyerang aparat, tetapi juga merusak sendi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Papua sendiri. Ketika pembangunan hendak membawa harapan, kekerasan justru menghadirkan ketakutan. TNI bertindak untuk memulihkan rasa aman itu.
Operasi yang dilakukan secara profesional, tanpa korban jiwa dari pihak aparat, serta didukung informasi masyarakat, menunjukkan bahwa pendekatan intelijen dan kemanusiaan tetap menjadi prinsip utama dalam menjaga stabilitas. Ini bukan sekadar operasi bersenjata, melainkan bagian dari upaya strategis membangun kepercayaan publik dan menciptakan ruang damai bagi warga Papua untuk hidup tanpa bayang-bayang kekerasan.
Namun, solusi permanen atas persoalan Papua tidak hanya datang dari laras senjata. TNI dan seluruh elemen negara harus tetap mengedepankan pendekatan dialog, rekonsiliasi, dan pembangunan inklusif. Pernyataan Kapuspen TNI Mayjen TNI Kristomei Sianturi untuk mengajak para anggota kelompok bersenjata kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi adalah ajakan damai yang patut digemakan luas.
Papua bukan sekadar wilayah, tetapi tanah air bersama yang harus dibangun dengan cinta, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Teror harus dihentikan, agar masa depan Papua tidak lagi dirampas oleh kepentingan sempit segelintir orang, tetapi dibangun bersama oleh seluruh rakyat Indonesia dalam bingkai NKRI yang damai dan bermartabat.

Komentar