Selasa, 21 Juli 2026 | 18:10
Editorial

Partai Anak Muda, Ketum Lansia Tertawa

Partai Anak Muda, Ketum Lansia Tertawa
Ilustrasi

ASKARA - Di negeri yang katanya milik generasi muda, panggung politik jus tetap dikuasai para pensiunan yang enggan pensiun dari sorotan. Ketika partai yang mengaku "anak muda" malah dipimpin tokoh uzur, kita patut bertanya: ini regenerasi atau sekadar rebranding? Di balik jargon segar, aroma anyir feodalisme malah makin menyengat.

Munculnya partai baru yang mengusung nama “anak muda” sempat memantik harapan. Konon, partai ini akan membawa semangat baru, ide segar, dan cara pandang milenial terhadap politik Indonesia yang sudah terlalu lama dipenuhi wajah wajah lama, intrik lama, dan kepentingan lama. Namun, seketika harapan itu terasa seperti parodi ketika nama calon ketua umum yang mencuat justru seorang pensiunan presiden, tokoh uzur yang bahkan saat debat terakhirnya saja, publik dibuat bingung antara mendengar solusi atau dongeng nostalgia.

Ironi ini terlalu mencolok untuk diabaikan. Bagaimana mungkin sebuah partai yang mengklaim sebagai representasi anak muda justru menyerahkan kendali ideologis dan strategis pada seseorang yang masa mudanya lebih akrab dengan mesin tik ketimbang TikTok?

Alih alih menjadi motor perubahan, partai ini terjebak dalam pusaran klasik politik Indonesia: feodalisme yang dibungkus dengan jargon demokrasi. Di mana senioritas dianggap prestasi, dan usia panjang dimaknai sebagai kebijaksanaan mutlak, bukan alarm bahwa sudah saatnya memberi ruang bagi angkatan baru.

Padahal, jika ingin jujur, generasi muda Indonesia tidak kekurangan figur cerdas, kritis, dan progresif. Mereka hadir di jalanan saat reformasi, mereka membuat inisiatif sosial tanpa pamrih, mereka memimpin perusahaan rintisan hingga ke kancah internasional. Tapi sayangnya, dalam politik praktis, mereka tetap hanya jadi pemanis. Di buzzer kan. Di konten kan. Dijadikan alat branding, bukan pemegang kendali.

Lucunya, partai ini tetap percaya diri menggunakan label “muda”. Mungkin dalam khayalan para pendirinya, muda bukan tentang usia, tapi tentang cara berpikir. Namun ketika yang duduk di pucuk pimpinannya adalah seseorang yang telah kenyang dengan kekuasaan dan terikat erat dengan masa lalu, bisakah kita sungguh percaya akan lahir arah baru? Atau sekadar mengulang yang lama, dengan gaya baru?

Publik, terutama kaum muda yang jadi target pasar utama partai ini, bukan lagi audiens yang mudah dikibuli. Mereka tumbuh di era verifikasi fakta, skeptisisme digital, dan kesadaran politik yang lebih cair. Ketika wajah tua dipoles dengan filter muda, mereka bisa mencium bau palsunya dari jauh.

Yang lebih menyedihkan, banyak elite partai ini justru menganggap ini sebagai “strategi politik”. Ya, tentu saja. Di negeri yang strateginya selalu berkiblat pada popularitas alih alih integritas, langkah ini bisa dianggap masuk akal. Toh suara pemilu tak pernah benar benar bertumpu pada substansi, tapi lebih pada siapa yang bisa tampil paling sering di televisi, paling viral di medsos, dan paling lihai melempar gimmick.

Dengan menjadikan mantan presiden sebagai ketua umum, partai ini seakan ingin menggadaikan idealisme muda demi logika elektabilitas. Seolah berkata, “kami ingin berubah, tapi kami takut tak dikenal.” Lantas, bagaimana kita bisa berharap pada perubahan yang sejak awal sudah takut berbeda?

Apa yang terjadi pada partai ini adalah cermin ketakutan politik Indonesia terhadap hal yang benar benar baru. Kita menyukai perubahan dalam slogan, tapi menolaknya dalam praktik. Kita ingin pemimpin muda, tapi hanya jika dia anak dari tokoh tua. Kita ingin ide segar, tapi hanya jika tak menggoyang status quo.

Sementara itu, si pensiunan yang digadang gadang jadi ketua umum tampak menikmati panggungnya. Dengan senyum khas, dia hadir sebagai simbol dari betapa kerasnya politik menolak tua. Ketika pensiun dari jabatan negara tidak cukup, maka partai baru pun dijadikan wahana lanjutan. Bukan untuk membimbing generasi muda, tapi untuk tetap eksis dan mungkin tetap relevan.

Kini kita bertanya: partai ini untuk siapa sebenarnya? Untuk anak muda, atau hanya untuk memperpanjang karier tokoh tua? Untuk membentuk masa depan, atau hanya melanggengkan bayang bayang masa lalu?

Jika regenerasi hanyalah stiker pada kemasan, maka jangan heran bila isi dalamnya tetap basi.

Dan ketika kelak pemilu digelar, jangan terkejut jika suara anak muda kembali enggan datang ke TPS. Mereka lelah jadi bahan kampanye tapi tak pernah diberi panggung nyata. Mereka muak dengan kata "muda" yang hanya jadi topeng bagi ambisi tua.

Jadi, kepada para pendiri partai yang konon “anak muda”, izinkan kami tertawa dulu. Bukan karena senang, tapi karena getir: perubahan itu hanya mungkin jika yang lama bersedia benar benar menepi, bukan malah menepi sambil tetap menggenggam setir.(Dwi Taufan Hidayat)

Komentar