Senin, 15 Juni 2026 | 19:36
OPINI

BBM Pertamax Dioplos Menjadi Pertalite: Seberapa Besar Pengaruhnya terhadap Masyarakat?

BBM Pertamax Dioplos Menjadi Pertalite: Seberapa Besar Pengaruhnya terhadap Masyarakat?
Ilustrasi SPBU (Dok Alfan)

Oleh: Alfan Hilman Agustin
Mahasiswa Unibersitas Pamulang

ASKARA - Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan kebutuhan yang tidak terhindarkan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Pertamax dan Pertalite adalah dua jenis BBM yang diproduksi oleh PT Pertamina. Keduanya memiliki perbedaan dari segi kualitas maupun harga. Perbedaan ini membuat masing-masing jenis BBM memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga penting bagi masyarakat untuk memahami karakteristik serta kebutuhan kendaraan sebelum menentukan pilihan bahan bakar yang tepat.

Namun, di tengah kebutuhan masyarakat akan BBM yang terjangkau, marak terjadi praktik ilegal pengoplosan Pertamax menjadi Pertalite. Dugaan awal muncul dari Kejaksaan Agung (Kejagung) yang menyatakan bahwa dalam periode 2018–2023 terjadi praktik pengoplosan di fasilitas Pertamina, di mana Pertalite diduga dicampur dengan bahan bakar lain dan dikonversi menjadi Pertamax (RON 90).

Praktik ini merugikan banyak pihak, khususnya masyarakat sebagai konsumen yang menginginkan BBM sesuai dengan kualitas yang dijanjikan. Akibatnya, masyarakat kini menjadi lebih berhati-hati dalam memilih BBM untuk kendaraan mereka. Pengoplosan BBM tidak hanya menimbulkan kerugian finansial, tetapi juga berdampak serius terhadap kinerja kendaraan. Beberapa dampak yang dapat terjadi, antara lain:

Penurunan Performa: Mesin terasa kurang bertenaga, akselerasi lambat, dan konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros.

Kerusakan Mesin: Terjadi detonasi atau knocking, yaitu suara ketukan tidak wajar akibat pembakaran tidak sempurna yang dapat merusak komponen mesin.

Kerusakan Komponen: Kandungan kimia asing dalam BBM oplosan dapat merusak injektor, karburator, dan komponen vital lainnya.

Peningkatan Deposit Karbon: Penumpukan kerak karbon di kepala piston dan ruang bakar menurunkan efisiensi pembakaran serta performa mesin secara keseluruhan.

Sangat penting untuk diingat bahwa mencampur atau mengoplos BBM dengan tujuan mengubah jenisnya adalah tindakan ilegal dan berbahaya. Selain melanggar hukum, praktik ini juga dapat menimbulkan risiko besar bagi kendaraan, seperti kerusakan mesin dan potensi kebakaran. Kerugian finansial akibat kerusakan kendaraan bisa jauh lebih besar daripada selisih harga BBM yang dihemat.

Memilih antara Pertamax dan Pertalite seharusnya bukan semata-mata soal harga, tetapi tentang kecocokan dengan spesifikasi kendaraan. Oleh karena itu, selalu rujuk pada buku manual kendaraan untuk mengetahui rekomendasi nilai oktan yang tepat. Dengan memilih BBM yang sesuai, kita tidak hanya menjaga performa dan efisiensi kendaraan, tetapi juga memperpanjang usia mesin dan meningkatkan kepuasan sebagai konsumen.

 

 

Komentar