Sungguh Apa yang Sudah Robb-Mu Takar Mustahil Akan Tertukar
ASKARA - Setiap manusia pernah merasa gelisah, kecewa, bahkan putus asa saat keinginannya tak kunjung tercapai, atau sesuatu yang ia cintai tiba-tiba hilang darinya. Seolah hidup mempermainkan harapan. Namun, benarkah semua itu terjadi di luar kendali dan kehendak Tuhan? Ataukah sebenarnya, setiap kejadian adalah bagian dari takaran yang sudah pasti dari Robb yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana?
Allah Subhānahu wa Ta’ālā telah menetapkan takdir atas segala sesuatu jauh sebelum semesta ini tercipta. Tidak ada satu pun peristiwa, keberhasilan, kegagalan, kehilangan, maupun pertemuan yang luput dari pengetahuan dan kehendak-Nya.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
"Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan demikian) supaya kamu tidak berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Al-Hadid: 22–23)
Ayat ini menjelaskan bahwa semua yang luput dari kita, yang tidak kita capai, adalah sesuatu yang memang tidak ditakdirkan untuk kita. Maka tak ada gunanya bersedih berlebihan. Sebaliknya, apapun yang telah tercapai, jangan membuat kita terlalu membanggakan diri, sebab semua datang dari Allah.
Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam menegaskan dalam sabdanya:
وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ
"Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu."
(HR. Ahmad, 5/185. Dinyatakan sanadnya kuat oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)
Hadis ini adalah penegas yang menyejukkan jiwa. Jika kita percaya bahwa apa yang ditakdirkan untuk kita pasti akan datang, dan yang tidak ditakdirkan untuk kita tidak akan pernah singgah, maka hati akan lebih tenang dan tidak terguncang oleh hasil.
Inilah esensi dari menerima takdir: bukan berarti kita pasrah tanpa usaha, tetapi menyadari bahwa hasil akhir bukan dalam genggaman kita. Kita hanya diminta untuk berjalan, berikhtiar sebaik-baiknya, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menyatakan:
"Jika demikian, tidak perlu seseorang merasa putus asa dari apa yang tidak ia peroleh. Karena jika itu ditakdirkan, pasti akan terjadi."
(Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 13/431)
Oleh karena itu, jika hari ini engkau kehilangan ponsel yang paling kau jaga, jangan langsung bersedih hati. Bisa jadi itu adalah cara Allah menghindarkanmu dari sesuatu yang lebih buruk. Jika engkau belum juga diterima sebagai PNS, padahal sudah berulang kali mencoba, mungkin memang belum waktunya—atau memang bukan itu jalan rezekimu yang terbaik. Jika engkau gagal masuk ke universitas impianmu, ingatlah: tidak ada rencana Allah yang kejam. Takdir Allah tidak pernah keliru. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya, bahkan saat mereka sendiri tak mampu memahaminya.
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
"Sungguh menakjubkan urusan orang beriman. Semua urusannya adalah kebaikan baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, maka itu pun baik baginya."
(HR. Muslim, no. 2999)
Kuncinya adalah bersyukur saat bahagia, bersabar saat kecewa. Sebab dalam keduanya, Allah sedang menguji kualitas iman kita. Dalam kesuksesan, apakah kita akan tetap rendah hati dan tidak melupakan Allah? Dalam kegagalan, apakah kita akan tetap teguh atau menyalahkan takdir?
Maka benarlah ungkapan yang menjadi pembuka narasi ini: "Sungguh apa yang sudah Robb-mu takar, mustahil akan tertukar."
Apa yang sudah ditentukan oleh Allah untukmu, tidak akan tertukar dengan milik orang lain. Dan yang ditetapkan untuk orang lain, tidak akan bisa engkau rebut, sekeras apapun usahamu.
Yakinlah, takdir Allah tak pernah salah alamat. Yang penting, tetaplah melangkah dengan ikhlas, berusaha dengan sungguh, lalu serahkan semua kepada-Nya. Sebab Dia Maha Mengetahui, dan Engkau tidak. Dia Maha Bijaksana, dan Engkau hanya menebak-nebak. Cukuplah keyakinan kepada Allah yang menjadi penguat di setiap keadaan.
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: 216)
Dan itulah hakikat iman kepada takdir: menerima dengan lapang dada, bahwa semua yang terjadi, adalah karena kasih sayang Allah—yang terkadang menyamar dalam bentuk kehilangan, kegagalan, dan keterlambatan.
Yakinlah, jika tidak di dunia, di akhirat pasti Allah akan tunjukkan hikmah dari setiap kejadian. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar