Rabu, 17 Juni 2026 | 20:47
Ruang Menulis

Cerpen: Rezeki Tak Sama, Hati Harus Lega

Cerpen: Rezeki Tak Sama, Hati Harus Lega
Ilustrasi

ASKARA - Hidup selalu memperlihatkan wajah rezeki yang berbeda. Ada yang berlimpah, ada yang pas-pasan, ada pula yang terasa sempit. Namun perbedaan itu bukan untuk merendahkan atau meninggikan siapa pun, melainkan untuk menguji hati manusia: apakah ia bisa bersyukur saat diberi kelapangan, dan bersabar ketika diberi kekurangan.

Pagi itu pasar tradisional di sebuah kota kecil dipenuhi hiruk pikuk. Suara pedagang menawarkan dagangan bersahutan dengan langkah kaki pembeli. Di salah satu sudut, berdiri seorang lelaki tua bernama Pak Rahman. Dengan pakaian sederhana dan senyum yang tak pernah pudar, ia menjajakan gorengan yang masih hangat dari kuali.

Di depannya, seorang ibu muda datang membeli. “Pak, satu ribu saja, ya. Anak saya cuma bisa jajan segini.”

Pak Rahman tersenyum ramah, lalu menambahkan satu gorengan lebih. “Ambil dua, Bu. Anak kecil butuh kenyang, jangan hanya satu.”

Ibu itu terharu, mengucap terima kasih dengan mata berkaca-kaca. Bagi Pak Rahman, memberi lebih tidak pernah membuatnya rugi. Justru itulah yang membuat lapak sederhananya selalu ramai didatangi orang.

Namun, di sisi lain pasar, ada kios mewah milik Hartono, pedagang beras terbesar di daerah itu. Ia dikenal kaya raya, dengan rumah besar dan mobil mewah yang sering diparkir dekat pasar. Hartono jarang tersenyum, lebih sering menghitung uang ketimbang berbicara dengan ramah.

Orang-orang sering membandingkan keduanya. “Lihat, Pak Rahman rezekinya kecil tapi hatinya luas. Hartono rezekinya besar tapi wajahnya selalu tegang,” begitu bisik-bisik yang terdengar di antara pembeli.

Sore itu, selepas berdagang, Pak Rahman duduk di musala kecil dekat rumahnya. Ia menatap langit yang mulai jingga, merenungkan perbedaan nasib dirinya dengan Hartono. “Mengapa aku diberi sedikit, dan dia begitu banyak? Tapi… bukankah aku lebih sering tertawa? Bukankah aku lebih sering tidur nyenyak tanpa beban?” gumamnya lirih.

Hari berganti minggu, sebuah peristiwa mengubah segalanya. Hartono tersandung kasus utang karena bisnisnya berkembang terlalu cepat. Rumahnya yang megah terpaksa dijual, mobilnya pun disita. Banyak orang yang dulu menghormatinya menjauh perlahan.

Sementara itu, Pak Rahman yang sederhana justru mendapatkan berkah. Seorang pengusaha kuliner yang lewat pasar mencoba gorengannya dan jatuh hati. Ia memesan dalam jumlah besar untuk suplai ke restorannya. Perlahan, usaha Pak Rahman berkembang tanpa pernah ia bayangkan.

Namun, alih-alih merasa tinggi hati, ia justru semakin sering berbagi. Gorengan gratis untuk anak yatim, diskon untuk tetangga miskin, dan selalu menyisihkan sebagian untuk musala.

Suatu malam, Hartono yang kini hidup sederhana datang menghampiri Pak Rahman. Dengan suara bergetar, ia berkata, “Rahman, dulu aku merasa dunia milikku. Kini aku sadar, harta bukan segalanya. Aku iri, bukan pada rezekimu, tapi pada ketenangan hatimu.”

Pak Rahman menepuk bahu sahabat lamanya itu. “Rezeki itu bukan soal jumlah, Ton. Rezeki sejati ada di hati yang lapang. Kau masih bisa bangkit, asalkan hatimu mau belajar ikhlas.”

Sejak saat itu, keduanya sering terlihat duduk bersama di musala kecil. Hartono yang dulu angkuh perlahan berubah menjadi pribadi yang lebih ramah.

Framing cerita kembali ke pasar yang hiruk pikuk di pagi hari. Pak Rahman berdiri di lapaknya, kini lebih ramai dari biasanya. Anak-anak kecil tersenyum riang sambil memegang gorengan hangat. Di kejauhan, Hartono ikut membantu membungkus dagangan, sesuatu yang dulu tak pernah ia bayangkan.

Namun twist yang mengejutkan terjadi beberapa bulan kemudian. Saat Pak Rahman hendak berangkat subuh ke musala, ia ditemukan terbaring lemah di teras rumahnya. Tanpa sempat berpesan banyak, ia menghembuskan napas terakhir dengan wajah tersenyum.

Hartono yang dulu kehilangan arah, kini justru melanjutkan usaha gorengan sahabatnya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, “Rezeki tidak akan sama bagi setiap orang. Tapi cara kita memperlakukan rezeki, itulah yang menentukan arti hidup kita.”

Dan sejak hari itu, kios sederhana yang dulu milik Pak Rahman berubah nama menjadi “Gorengan Rahman Rezeki Untuk Semua.” (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar