Dua Gembala Wafat, Bala Tentara Surga Menyambut Gembira
ASKARA - Di langit Roma pagi itu, lonceng berdentang perlahan, angin membawa kabar duka ke segala penjuru: Paus Fransiskus, gembala umat dunia, telah pulang ke pelukan Kekal.
Masih terekam jejak kasihnya di lantai dingin penjara, saat ia berlutut membasuh kaki mereka yang dicaci dunia, dan mencium luka yang tak terlihat, sebuah cinta yang tak memilih, sebuah iman yang menunduk untuk mengangkat.
Lapangan Santo Petrus jadi lautan air mata dan doa, ribuan wajah mendongak ke balkon, melihat tangan lemah yang masih mengangkat berkat, seolah langit pun menunduk, menyimak salam terakhir dari sang gembala renta.
Sementara di negeri jauh nan tropis, di tanah para pejuang dan iman yang membara, Romo Letkol Laut (Purn) Stanislaus Sutopanitro, Pr menyerahkan napasnya di hari salib ditancap, Jumat Agung, saat Kristus sendiri wafat.
Ia, sang imam dan prajurit, mengayuh pelayanan di dua samudra: laut tugas negara dan lautan umat yang haus bimbingan. Ia tak hanya berkotbah, tapi berjalan bersama luka-luka umatnya, dengan langkah pasti dan cinta yang hening.
Dua gembala, dua jalan, satu langit yang kini menjadi rumah baru mereka. Paus dan Romo,
yang kini duduk di antara para kudus, mendengar puji-pujian abadi dan tetap membisikkan doa-doa untuk dunia yang mereka cintai.
Kami di bumi menangis, namun juga bersyukur,
pernah disentuh oleh cinta yang mereka tinggalkan. Kini kami melangkah dengan semangat mereka, membawa lentera kasih yang tak padam, sampai tiba waktunya, kita semua pulang ke rumah yang sama.

Komentar