Waktu Yang Kami Tunggu untuk Bertengkar
ASKARA - Tangannya menggenggam erat cangkir teh yang mulai dingin. Wajahnya menatap kosong ke arah taman kecil yang mulai basah oleh gerimis sore. Aroma lavender dari lilin aromaterapi menguar lembut, seperti biasa. Di sudut ruangan, kursi berlapis kain biru tua tampak rapi, tak berpenghuni. Ia menarik napas panjang.
Hari ini hari Sabtu. Pukul lima sore. Waktu dan tempat sudah ditentukan sejak tiga hari lalu. Di sini, di ruang baca belakang rumah, tempat yang dulu mereka sepakat sebagai ruang aman untuk saling bicara, tanpa teriakan, tanpa makian.
Ia menunggu.
Sudah satu jam berlalu.
Tak ada pintu yang diketuk. Tak ada langkah kaki yang mendekat.
Tiga hari sebelumnya, mereka sedang duduk di meja makan. Ikan bakar dan sambal terasi jadi saksi bisu perbincangan mereka. Ia merasa tak dihargai saat suaminya lupa ulang tahun pernikahan mereka. Bukan karena ingin dirayakan, tapi karena mengingat adalah bentuk sederhana dari mencinta.
"Aku ingin membahas sesuatu," katanya lembut sambil menatap mata suaminya.
Suaminya meletakkan sendoknya, meneguk air, lalu mengangguk. "Kapan? Di mana?"
"Sabtu sore, pukul lima. Di ruang baca."
"Baik," jawab suaminya. Matanya hangat. Senyumnya pelan.
Mereka pun kembali tertawa, membahas hal lain, seolah tak ada yang sedang menunggu untuk dipertengkarkan.
Sekarang, jam di dinding menunjukkan pukul enam lewat lima. Ia masih duduk. Cangkir teh sudah kosong. Hujan turun perlahan. Ada sesuatu yang menyesakkan, tapi ia belum tahu apa.
Ia berdiri. Melangkah ke kamar. Mencari sesuatu di laci bawah lemari. Tangannya gemetar ketika menemukan surat itu. Surat dengan sampul putih dan segel biru. Ia tahu tulisan tangan itu. Ia tahu aroma itu. Aroma parfum suaminya.
"Untuk Sabtu pukul lima sore, di ruang baca."
Ia duduk kembali di kursi baca. Matanya menyusuri kata demi kata:
"Jika kamu membaca surat ini tepat di saat waktu yang kita tentukan untuk 'bertengkar', maka itu artinya aku sudah tidak bisa datang. Maaf. Aku tidak pernah ingin lupa hari ulang tahun pernikahan kita. Aku hanya takut… takut ini jadi ulang tahun terakhir. Dokter memberiku waktu, tapi aku ingin tetap menjadi suami terbaik meski waktu tidak berpihak. Jadi aku memilih untuk tidak memberitahumu. Aku ingin kamu tetap bisa tertawa. Maaf… untuk semua yang tak sempat kuperbaiki. Tapi terima kasih karena sudah menjadwalkan pertengkaran, bukan memaksanya terjadi kapan saja. Kau memberiku ruang untuk mencintaimu dalam diam, dalam keterbatasanku. Jika kau membaca ini sambil menunggu, maka izinkan aku menepati janji. Kita tetap ‘bicara’ di tempat yang kita sepakati. Hanya saja, kali ini aku datang lewat surat."
Tangisnya pecah. Pelan, lalu deras.
Ia memeluk surat itu. Ruang baca menjadi saksi: pertengkaran yang tak pernah sempat terjadi, menjadi percakapan paling sunyi… tapi paling menggetarkan.
Dan di antara hujan dan aroma lavender, ia tahu satu hal: cinta tak pernah mati. Ia hanya berpindah bentuk—kadang menjadi diam, kadang menjadi kenangan, tapi selalu ingin kembali dicintai.
Ia mengajakku duduk di bangku taman sore itu. Daun-daun kering beterbangan. Langit semburat oranye. Matanya tidak secerah biasanya, tapi masih ada senyum yang ia pertahankan.
"Aku tahu kamu kecewa waktu itu, soal keputusan anak kita," katanya sambil menatap lurus.
Aku mengangguk. Sudah sejak lama aku simpan rasa itu. Tapi aku juga tahu, ia melakukan yang terbaik.
"Kita sama-sama keras waktu itu," kataku perlahan. "Tapi kalau kita saling dengar, mungkin segalanya bisa lebih mudah."
Ia tertawa pendek. "Kamu ingat nggak, pertengkaran kita yang terakhir?"
Aku menghela napas. Ingat. Jelas sekali. Bahkan terlalu jelas.
Kami duduk di tepi danau malam itu. Aku menangis. Ia diam. Tapi tangannya tetap menggenggamku. Walau kata-kata kami tajam, genggamannya tak pernah lepas. Di sanalah, kami seperti mengerti satu sama lain tanpa harus menang.
"Lain kali kita jangan nunggu lama-lama buat bicara, ya," katanya malam itu.
Aku menjawab, "Lain kali, kita pilih tempat yang lebih terang. Biar hati kita juga lebih jernih."
Itulah yang aku rindukan. Pertengkaran yang damai. Perselisihan yang tetap memeluk.
Tapi semuanya berubah tiga bulan lalu.
Ia mulai sering diam. Sering memandangi jam. Kadang menuliskan sesuatu di buku kecilnya. Dan setiap kali aku tanya, "Kamu kenapa?"—ia hanya menjawab, "Nanti saja kita bicarakan."
Aku tak memaksa. Aku pikir, ia sedang menyusun waktu untuk pertengkaran kami yang selanjutnya. Seperti biasa.
Sampai suatu sore, ia mengajakku ke ruang baca, tempat favoritnya. Di sana, aroma kayu dan kopi yang ia suka masih menguar. Di meja, ada dua cangkir. Dan satu amplop berwarna biru.
"Buka nanti, setelah aku tidur," katanya.
Aku tertawa, "Tidur? Kamu mau tidur sore?"
Ia hanya mengangguk. Tersenyum. Memandangku lama. Lama sekali.
Dan malamnya, ia tidur. Tapi tak pernah bangun lagi.
Tanganku gemetar membuka amplop itu.
Tulisan tangannya rapi, seperti biasa. Wangi parfumnya masih melekat di kertas.
"Untuk istriku yang paling sabar. Maaf jika kali ini, aku menentukan waktu bertengkar tanpa sempat menjalaninya bersamamu. Ada banyak hal yang ingin kubahas, tapi mungkin Tuhan lebih dulu memanggilku. Terima kasih karena selalu menunggu waktu yang tepat. Karena itu pula aku bisa menua dengan cinta yang tetap hangat. Jangan sedih. Aku titip cintaku dalam kenangan kita, dalam tawa anak-anak kita, dalam setiap aroma kopi yang kau hirup, dalam setiap bangku taman yang masih kosong di sampingmu."
Aku menangis. Bukan karena ia pergi, tapi karena aku belum sempat marah atas semua kesedihanku. Karena aku masih menunggu waktu bertengkar yang tak pernah datang.
Dan kini, tiap kali aku marah, aku hanya duduk sendiri. Menyediakan secangkir kopi di meja, dan satu bangku kosong di hadapanku.
Aku bicara sendiri.
Seperti dulu.
Seperti saat ia masih hidup.
Kadang aku tertawa sendiri. Kadang menangis. Kadang menggenggam udara kosong, pura-pura masih ada tangannya di sana.
Dan kau tahu? Anehnya, aku tetap merasa dicintai.
Bahkan setelah ia pergi.
Karena kami pernah menentukan waktu untuk bertengkar.
Bukan untuk saling menyakiti, tapi untuk menjaga cinta tetap hidup.
Dan dalam cinta yang dewasa, ternyata... pertengkaran bukan tanda kebencian, tapi bentuk keberanian untuk terus belajar memahami.
Maka jika hari ini kau masih bisa bertengkar dengan pasanganmu, bersyukurlah. Itu artinya, kalian masih sama-sama ingin terus memperjuangkan cinta. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar