Senin, 08 Juni 2026 | 16:49
Ruang Menulis

Cerpen: Rumah Terbuka yang Tertutup

Cerpen: Rumah Terbuka yang Tertutup
Ilustrasi

Oleh: Dwi Taufan Hidayat

ASKARA - Rumah itu tampak biasa dari luar—sebuah paviliun modern berhalaman kecil dengan batu-batu koral rapi menghiasi jalur masuknya. Namun siapa pun yang tinggal cukup lama di kota ini tahu, rumah itu bukan rumah biasa. Di dalamnya tinggal seorang perempuan yang pernah berdiri sejajar dengan para pejabat tinggi, pernah dihormati oleh ribuan orang, dan fotonya pernah menghiasi baliho di jalan-jalan saat ia mendampingi suaminya menjabat Wali Kota.

Namanya Ibu Laras Rahmani. Orang-orang mengenalnya sebagai figur lembut yang bersahaja. Ia pendidik, aktivis perempuan, dan ibu dari dua anak. Suaminya, Pak Dirga Prasetya, pernah dijuluki "Bapak Visioner Kota Timur." Gaya komunikasinya santun, senyumnya menghipnotis layar kaca, dan kebijakannya sering dijadikan rujukan kota lain.

Namun setelah dua periode berakhir, panggung berubah. Warganet menjadi hakim paling nyaring, dan gosip lebih kuat dari kenyataan.

Semua bermula dari satu unggahan anonim di media sosial. Akunnya tak dikenal, fotonya kabur, tapi caption-nya memantik bara:
“TERKUAK: Laras dan Dirga praktik open marriage? Bahkan Laras disebut-sebut punya simpanan!”

Dalam hitungan jam, tangkapan layar unggahan itu tersebar di berbagai grup. Tidak ada konfirmasi, tidak ada klarifikasi. Yang ada hanya komentar bertubi-tubi:
"Ah masa sih. Gak percaya Bu Laras begitu."
"Zaman sekarang, istri solehah pun bisa goyah."
"Pantes wajahnya sekarang lebih glowing, ternyata..."

Di rumahnya, Laras sedang menyetrika seragam sekolah anak bungsunya ketika asistennya panik membuka pintu dengan ponsel gemetar di tangan.

“Bu, akun Instagramnya dibanjiri komentar... fitnah semua...”
Laras hanya diam. Ia bukan perempuan lemah. Ia sudah terbiasa menghadapi tekanan. Tapi ini? Ini lebih dari sekadar berita bohong. Ini adalah luka.

Duduk di ruang tamu, ia membuka satu per satu komentar. Beberapa orang membelanya, mengatakan itu hoaks, mencurigai kampanye pembunuhan karakter menjelang pemilihan gubernur yang akan diikuti Dirga. Tapi sisanya? Seperti kobaran api yang menyambar bensin.

“Open marriage.”

Istilah yang terdengar asing di telinga Laras. Ia mencari definisinya di mesin pencari, membaca satu dua artikel. Ia mengernyit. Terlalu absurd untuk dibayangkan. Dirinya dan Dirga selama ini hidup dalam prinsip yang sederhana: saling jaga, saling dukung, dan saling diam ketika lelah sudah tak bisa dijelaskan.

Dirga pulang malam itu. Sepi menyelimuti ruang makan.

"Apa kamu baca?" tanya Laras pelan.

Dirga mengangguk. “Aku minta tim bantu take down sebanyak mungkin. Tapi kita tahu, yang viral tak akan bisa hilang sepenuhnya.”

“Siapa yang buat ini?”

“Entah. Bisa siapa saja. Lawan politik. Mantan rekan kerja. Atau... orang yang hanya iseng tapi haus sensasi.”

Laras menatap suaminya. “Kalau aku lelah, itu bukan karena gosip. Tapi karena kamu pun diam saat aku difitnah.”

Dirga tertunduk. Ia tahu, dalam ketenangannya, Laras menyimpan ledakan yang ditahan bertahun-tahun.

Beberapa hari kemudian, Laras mengunggah sebuah video pendek. Ia duduk dengan latar putih, mengenakan gamis biru tua dan kerudung krem. Kalimatnya tenang, tapi menggetarkan:

“Open house adalah ketika kita membuka pintu bagi siapa pun untuk datang silaturahmi. Open marriage? Itu konsep asing yang tidak pernah menjadi bagian dari hidup saya dan keluarga saya. Saya bukan perempuan suci, tapi saya bukan seperti yang kalian tuduhkan. Saya hanya istri yang sedang berusaha tetap utuh di tengah badai.”

Video itu menjadi viral. Banyak yang mengapresiasi keberaniannya. Tapi tak sedikit pula yang tetap bersikukuh dengan komentar sarkastik.

"Ah, acting doang itu."
"Semakin dibela, semakin ketahuan."
"Kalau nggak bener, kenapa nanggepin sih?"

Beberapa media mencoba mewawancarai Laras. Ia menolak semua permintaan itu. Ia lebih memilih diam, kembali ke aktivitas sosialnya, dan menanam lebih banyak pohon di pekarangan kecil rumahnya.

Namun satu kejadian kemudian membuatnya kembali terguncang. Anak perempuannya, Nayla, menangis di sekolah. Temannya menunjukkan video yang menyebutkan nama ibunya dan kata “simpanannya.”

Laras datang ke sekolah, memeluk Nayla, dan berkata, “Maaf, Nak. Dunia ini kadang terlalu kejam pada yang tak bersalah.”

Di ruang tidurnya malam itu, Laras menulis dalam jurnal kecil miliknya. Sebuah catatan yang ia simpan untuk dirinya sendiri:

> “Kita hidup di zaman di mana tuduhan bisa lebih viral dari prestasi, dan klarifikasi dianggap sebagai pengakuan. Aku bukan korban. Aku hanya saksi dari betapa mudahnya nama baik dihancurkan oleh tangan-tangan yang tak pernah berani menyebutkan namanya sendiri.”

Beberapa bulan kemudian, Dirga mundur dari pencalonan gubernur. Ia tahu, citra tak akan mudah pulih. Laras tak pernah menyuruhnya. Tapi sorot matanya cukup menjadi alasan.

Waktu berjalan. Laras tetap menjadi sosok yang aktif—membuka kelas parenting gratis, mendampingi perempuan korban kekerasan, dan menjadi narasumber di acara-acara komunitas. Tapi ia tak lagi percaya pada dunia yang dulu memujanya. Ia lebih percaya pada tangan-tangan kecil anak-anak yang ia bimbing menulis huruf hijaiyah, pada peluh ibu-ibu pasar yang menyisihkan uang receh untuk sedekah.

Suatu hari, ia membuka rumahnya untuk umum—open house menjelang Idul Fitri. Orang-orang berdatangan. Para tetangga, kawan lama, hingga beberapa wartawan yang dulu sempat memberitakan fitnah.

Di meja tamu, ia tersenyum, menyuguhkan kue nastar dan teh melati. Seseorang bertanya dengan malu-malu, “Bu Laras... apakah ini... semacam klarifikasi?”

Ia menjawab ringan, “Bukan. Ini hanya open house. Bukan open hati untuk kebencian.”

Dan ia kembali ke dapur, menyiapkan piring baru, sambil mendendangkan lagu lawas yang dulu sering ia nyanyikan saat hidup belum sekejam sekarang.

Komentar