Rabu, 17 Juni 2026 | 19:51
Ruang Menulis

Mafia Emas Hitam: Jaringan yang Lebih Gelap (Seri 7)

Mafia Emas Hitam: Jaringan yang Lebih Gelap (Seri 7)
Ilustrasi

Oleh: Dwi Taufan Hidayat

ASKARA - Raymond Dharma tergeletak di lantai gudang dengan darah mengalir dari lukanya. Pasukan khusus segera memborgolnya, sementara anak buahnya yang masih hidup ditahan.

Raka dan Ardi saling pandang, napas mereka masih terengah setelah baku tembak sengit.

Kolonel Sudrajat mendekati Raymond yang kini hanya bisa meringis kesakitan.

"Kau pikir kau bisa lari dari ini?" suara Sudrajat dingin.

Raymond tertawa kecil meski wajahnya menahan sakit. "Tangkap aku sekarang, tapi kau takkan bisa menyentuh orang-orang di atasku."

Raka menyipitkan mata. "Jadi ada yang lebih besar darimu?"

Raymond hanya tersenyum. "Kalian terlalu kecil untuk melawan mereka."

Kata-katanya membuat suasana semakin tegang. Jika Raymond saja sudah memiliki kekuasaan sebesar ini, berarti masih ada kekuatan yang lebih besar di belakangnya.

Ardi mengepalkan tangannya. "Siapa mereka?"

Raymond mendengus. "Kalian pikir bisnis ini hanya sebatas penyelundupan BBM? Ini adalah bagian dari sistem yang lebih besar. Ada orang-orang di dalam pemerintahan, kepolisian, bahkan militer yang terlibat. Mereka tidak akan membiarkan kalian merusak bisnis mereka begitu saja."

Kolonel Sudrajat menatapnya tajam. "Kita akan lihat nanti."

Ia memberi isyarat kepada pasukannya untuk membawa Raymond ke markas.

Tapi di dalam hati, ia tahu bahwa pertarungan mereka baru saja dimulai.

Menyusuri Jejak yang Hilang

Di markas, Raka dan Ardi mengamati dokumen-dokumen yang berhasil mereka sita dari gudang tempat Raymond ditangkap.

Ada catatan transaksi, nama-nama perusahaan fiktif, hingga jalur distribusi BBM ilegal yang menghubungkan beberapa kota besar.

Satu nama menarik perhatian mereka.

"PT Galindra Petro," Raka membaca keras-keras.

Ardi mengernyit. "Aku pernah dengar nama itu. Mereka perusahaan minyak resmi, kan?"

Kolonel Sudrajat mengangguk. "Ya, mereka punya izin resmi. Tapi kalau nama mereka muncul di dokumen Raymond, berarti ada yang tidak beres."

Mereka menyelidiki lebih dalam dan menemukan bahwa PT Galindra Petro memiliki beberapa proyek kerja sama dengan pemerintah.

"Ini lebih dari sekadar mafia jalanan," kata Ardi. "Ini sudah masuk ke level korporasi."

Kolonel Sudrajat menarik napas dalam. "Jika benar mereka terlibat, kita akan menghadapi musuh yang jauh lebih kuat dari Raymond."

Menelusuri PT Galindra Petro

Keesokan harinya, mereka melakukan penyelidikan lebih dalam tentang PT Galindra Petro.

Perusahaan itu dipimpin oleh seorang pria bernama Adrian Pranata, seorang pengusaha sukses yang dikenal dekat dengan tokoh-tokoh politik.

"Adrian ini punya banyak koneksi," kata Raka sambil melihat daftar nama yang sering berhubungan dengannya.

Ardi menambahkan, "Bahkan ada beberapa jenderal dan menteri yang pernah bekerja sama dengannya."

Kolonel Sudrajat menggeleng. "Jika kita gegabah, kita bisa dijadikan target. Kita harus punya bukti kuat sebelum bertindak."

Mereka kemudian mencari tahu siapa saja yang bisa menjadi saksi atau memberikan informasi tentang Adrian.

Salah satu nama yang muncul adalah Rudi Wijaya, mantan eksekutif PT Galindra Petro yang keluar secara misterius.

"Dia mungkin tahu sesuatu," kata Ardi.

Mereka segera melacak keberadaannya dan menemukan bahwa Rudi kini tinggal di sebuah apartemen mewah dengan keamanan tinggi.

Mereka tahu, ini tidak akan mudah.

Misi Menghubungi Rudi Wijaya

Malam itu, Raka dan Ardi menyamar sebagai pekerja layanan perawatan gedung untuk bisa masuk ke apartemen Rudi.

Mereka berhasil mencapai lantai tempat Rudi tinggal tanpa menimbulkan kecurigaan.

Ketika mereka mengetuk pintunya, butuh beberapa saat sebelum akhirnya pintu terbuka sedikit.

Seorang pria paruh baya dengan wajah penuh kekhawatiran mengintip dari celah pintu.

"Siapa kalian?" tanyanya dengan suara gemetar.

Raka menunjukkan lencana militer. "Kami bukan musuhmu, Pak Rudi. Kami ingin bicara tentang PT Galindra Petro."

Wajah Rudi langsung pucat. "Aku tidak tahu apa-apa! Pergi dari sini!"

Ketika ia hendak menutup pintu, Ardi menahan dengan cepat. "Pak Rudi, kalau Anda tidak bicara sekarang, Anda mungkin tidak akan punya kesempatan lagi."

Rudi menatap mereka dengan ketakutan, lalu melihat ke koridor, memastikan tidak ada orang yang memperhatikan.

Ia akhirnya membuka pintu dan membiarkan mereka masuk.

Setelah menutup pintu, ia duduk di sofa dengan tangan gemetar.

"Aku sudah keluar dari semua itu," katanya dengan suara rendah. "Aku tidak ingin terlibat lagi."

Raka duduk di hadapannya. "Tapi Anda tahu sesuatu, bukan?"

Rudi terdiam lama sebelum akhirnya mengangguk.

"PT Galindra Petro bukan sekadar perusahaan minyak. Mereka adalah bagian dari jaringan internasional yang mengontrol suplai BBM ilegal. Adrian Pranata bukan pemilik sebenarnya. Dia hanya boneka."

Ardi menyipitkan mata. "Lalu siapa yang ada di balik semua ini?"

Rudi menelan ludah.

"Seseorang yang lebih berbahaya dari Raymond. Namanya—"

Sebelum ia bisa menyelesaikan kata-katanya, terdengar suara tembakan dari luar.

DOR! DOR!

Jendela apartemen pecah, dan Rudi terhuyung ke belakang dengan dada bersimbah darah.

"SIAL! Mereka tahu kita di sini!" seru Raka.

Ardi segera menarik pistolnya dan berlindung di balik sofa.

Dari luar, suara langkah kaki terdengar mendekat.

"Mereka tidak akan membiarkan kita keluar hidup-hidup," kata Ardi.

Kolonel Sudrajat yang memantau dari jarak jauh segera mengirim pasukan bantuan.

Tapi Raka dan Ardi tahu, mereka harus bertahan sendiri sebelum bala bantuan tiba.

Mereka menarik napas dalam-dalam, bersiap menghadapi serangan.

Di luar, bayangan hitam mulai bergerak mendekati pintu apartemen.

Pertempuran baru akan dimulai.

(Bersambung ke Seri 8: Serangan di Apartemen Maut)

Komentar