Kamis, 18 Juni 2026 | 01:12
COMMUNITY

KH. Mohamad Hidayat: Kemandirian Ekonomi, Cermin Kesalehan dan Inspirasi Para Nabi

KH. Mohamad Hidayat: Kemandirian Ekonomi, Cermin Kesalehan dan Inspirasi Para Nabi
Dr. KH. Mohamad Hidayat MBA. MH

ASKARA - Menjadi pribadi yang mandiri secara finansial bukan sekadar pilihan, tetapi sebuah keharusan dalam Islam. Para nabi adalah contoh nyata bagaimana kemandirian ekonomi menjadi bagian dari kesalehan seorang hamba.

Pimpinan PP Tahfizh Al Quran Al Washiyyah, Dr. KH. Mohamad Hidayat, MBA., M.H., menyampaikan bahwa kemandirian ekonomi adalah salah satu sifat mulia para nabi yang patut menjadi teladan dan passion setiap muslim. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Tiada sesuap pun makanan yang lebih baik dari makanan hasil jerih payahnya sendiri. Sungguh, Nabi Daud AS itu makan dari hasil keringatnya sendiri." (HR. Bukhari).

"Melalui kemandirian ekonomi, umat Islam dapat mencapai keseimbangan hidup dan terhindar dari sikap konsumtif yang berlebihan. Semangat kemandirian ini tidak hanya mencerminkan nilai-nilai Islam, tetapi juga menjadi jalan menuju keberkahan hidup yang hakiki," ujar KH. Mohamad Hidayat.

Menurut KH. Mohamad Hidayat, kemandirian ekonomi memiliki dua dimensi utama:  

1. Financial Freedom: Kebebasan dari ketergantungan finansial pada orang lain. Dalam Islam, setiap individu diajarkan untuk menjadi pribadi mandiri, bukan peminta-minta, karena tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.  

Rasulullah SAW menegaskan bahwa tangan di atas (memberi) lebih baik daripada tangan di bawah (meminta). Oleh karena itu, kita dituntut untuk memiliki mindset kemandirian, baik dalam bekerja maupun berbisnis.

2. Freedom of Wants: Kebebasan dari keinginan yang berlebihan dan dorongan konsumtif. Hal ini melibatkan pengendalian diri untuk mengelola dana secara bijak, tanpa terpengaruh oleh hal-hal yang tidak produktif atau sia-sia.  

KH. Mohamad Hidayat menegaskan bahwa financial freedom adalah kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarga secara benar dan bertanggung jawab. Sementara itu, freedom of wants mendorong individu untuk tetap fokus pada manfaat dan tidak terjebak dalam kebiasaan konsumtif.  

Islam menanamkan semangat kemandirian ini sebagai cara membangun kehidupan yang bermartabat dan penuh keberkahan. Dengan kemandirian, umat Islam mampu menciptakan kesejahteraan untuk dirinya sendiri, keluarganya, dan masyarakat luas.

Kebebasan dalam mengelola keinginan agar tidak terjebak dalam gaya hidup konsumtif dan boros. Seorang Muslim yang saleh secara finansial harus mampu membelanjakan hartanya secara bijak, tidak mudah tergoda oleh kemewahan yang sia-sia, dan selalu mengutamakan maslahat.

Teladan dari Para Nabi

Islam tidak melarang umatnya untuk menjadi kaya. Justru, kekayaan yang diperoleh dengan cara yang halal dan dikelola dengan baik dapat menjadi wasilah untuk beribadah lebih banyak, membantu sesama, dan memperjuangkan kebaikan.

KH. Mohamad Hidayat memberikan contoh, Nabi Daud AS menjadi simbol semangat kerja keras dan usaha mandiri. Beliau mencari nafkah dari keringatnya sendiri, sebuah prinsip yang menunjukkan bahwa kemandirian adalah bagian dari kesalehan finansial dalam Islam.  

“Setiap kita dimotivasi untuk menjadi umat yang mandiri dan produktif, demi kebaikan dunia dan akhirat,” tambah KH. Mohamad Hidayat.

Kebebasan finansial kita peroleh ketika kita sudah merdeka atau terbebas dari kekhawatiran kekurangan harta dan tidak lupa saat harta berlebih. Ini yang dalam Islam disebut memiliki sifat qana’ah di hatinya, yaitu semangat merasa cukup serta meyakini bahwa Allah SWT adalah owner dari hartanya itu. Ia hanya “ketitipan”, ia hanya memiliki hak guna pakai, bukan pemilik hakiki.

“Milik Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu menyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah memperhitungkannya bagimu. Dia mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki dan mengazab siapa pun yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu” (QS. Al Baqarah : 284).

Ayat lain dalam Al Qur’an yang memotivasi insan muslim untuk menggapai buah dari Financial Freedom tersebut adalah doa Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 83-89.

Ayat lain dalam Al Qur’an yang memotivasi insan muslim untuk menggapai buah dari Financial Freedom tersebut adalah doa Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 83-89 : “Ya Rabbku! Berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh (83) Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian (84) Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan (85) Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang sesat (86) Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan (87) Pada hari ketika harta dan anak laki-laki tidak lagi berguna (89) Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (89).

Financial Freedom

Istilah Financial Freedom dikembangkan oleh Robert T. Kiyosaki, Ia membagi kategori hidup orang berdasarkan
sumber penghasilan ke dalam empat kuadran. 

Pertama, Employee. Kita bekerja untuk orang lain, misalnya menjadi karyawan di perusahaan atau instansi lain. Dalam kelompok ini adalah orang-orang yang bekerja untuk orang lain baik di pemerintahan maupun swasta. Memiliki gaji bulanan dan jam kerja tetap. Mereka masih berada dalam zona nyaman, menjadi karyawan, merasa sudah cukup enak. 

Kedua, Self Employed, kita mulai membuka usaha dan bekerja untuk diri sendiri. Beberapa diantaranya adalah orang yang memilih resign dan kemudian membuka usaha untuk diri sendiri. Contoh untuk kelompok ini adalah dokter, pengacara, akuntan publik, seniman dan lain-lain. 

Ketiga, Business Owner : kita mulai mempekerjakan orang lain dan mulai melakukan ekspansi usaha. Pemilik bisnis yang besar, sudah memiliki sistem dan tidak menuntut kehadiran kita. Kita tetap bekerja, tetapi sifatnya menyupervisi dan mengarahkan. Pada kuadran ini adalah orang yang memiliki usaha sendiri dan mulai mempekerjakan orang lain. Orang tersebut sudah menjadi bos, berfikir yang sifatnya strategis, dia sebagai supervisor dan hanya mengarahkan. 

Keempat, Investor: kita sudah. bermetamorfosis menjadi investor dan tidak lagi bekerja untuk perusahaan secara penuh. Dalam kelompok ini adalah orang yang menginvestasikan uangnya ke dalam sistem perusahaan sehingga mendapatkan laba yang berlipat. Pada saat ini, saatnya modal/uang kita yang
bekerja, bukan sebaliknya dimana kita bekerja untuk mengejar uang. 

Inilah yang disebut oleh Kiyosaki sebagai ‘Financial Freedom’. Suatu keadaan dimana seseorang itu sudah berhasil menempatkan harta di tangannya namun tidak di hatinya. Ini mengutip pernyataan Ali bin Abi Thalib. Artinya kalau hati kita masih selalu ingat akan harta, tandanya kita masih belum terbebas secara finansial.

Komentar