Perspektif Kesalehan Finansial, KH. Mohamad Hidayat: Gunakan Harta Sebagai Alat Menuju Ridha Allah
ASKARA - Apakah Harta yang Kita Miliki Akan Terbawa Sampai Mati? Dr. KH. Mohamad Hidayat, MBA., M.H menyatakan harta adalah amanah Allah, namun bagaimana dikelola dengan baik sesuai ketentuan syariah yang akan menentukan nilainya di akhirat.
Beliau mengajak umat Islam untuk memiliki kecerdasan finansial melalui perencanaan keuangan. Dengan demikian, setiap individu dapat menjalankan kewajiban terhadap Allah, diri sendiri, keluarga, dan masyarakat secara seimbang.
“Mari kita gunakan harta sebagai alat menuju ridha Allah, menjadikannya manfaat di dunia dan bekal di akhirat. Karena setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban atas asal-usul harta yang diperoleh dan penggunaannya," ujar Pimpinan PP Tahfizh Al-Qur’an Al Washiyyah itu.
Beliau menambahkan bahwa memiliki sedikit harta tetapi halal dan digunakan untuk tujuan yang benar jauh lebih baik daripada memiliki harta melimpah yang justru menjadi penyebab kehancuran di akhirat.
Kemudian, KH Mohamad Hidayat mengupas tentang dimensi harta dalam kehidupan manusia. Beliau menjelaskan bahwa harta yang dimiliki setiap individu dapat terbagi ke dalam dua dimensi utama:
1. Harta yang Akan Terbawa Sampai Mati
Harta ini adalah yang digunakan untuk infak, sedekah, zakat, wakaf, dan amal kebaikan lainnya tidak akan musnah. Harta tersebut akan menjadi bekal di kehidupan akhirat, menemani seseorang dalam perjalanannya menuju ridha Allah.
Rasulullah SAW bersabda: "Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh." (HR. Muslim)
Inilah harta sejati, karena bukan hanya bermanfaat bagi kita di dunia, tetapi juga menjadi *tabungan abadi di akhirat.
2. Harta yang Sifatnya Fana
Sebaliknya, harta ini hanya digunakan untuk konsumsi duniawi yang tidak memiliki nilai kebermanfaatan di akhirat.. Rumah megah, kendaraan mewah, dan tumpukan uang di rekening akan kita tinggalkan.
KH. Mohamad Hidayat mengingatkan, apakah harta yang kita miliki akan bermanfaat sampai akhirat tergantung bagaimana kita menggunakannya.
“Apakah harta yang kita miliki akan terbawa dan bermanfaat sampai akhirat kelak tergantung pada bagaimana harta itu kita gunakan,” tegas KH. Mohamad Hidayat.
Perencanaan Keuangan Keluarga
Alokasi atas anggaran keuangan kita tidak hanya dihabiskan untuk hal-hal yang sifatnya duniawi, tetapi juga untuk bekal kehidupan di akhirat kelak. “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”. (QS. Al-Furqan : 67)
Islam mengajarkan, untuk merencanakan dan mengalokasikan pendapatan serta pengeluaran sebuah keluarga secara baik dan benar untuk mewujudkan tujuan keluarga yang sakinah.
Perencanaan Keuangan secara saleh
adalah perencanaan keuangan dengan menggunakan prinsip dan paradigma Islam, sehingga memiliki dimensi dunia dan akhirat.
Manfaat perencanaan keuangan bagi keluarga muslim antara lain adalah:
1. Sebagai bentuk ketaatan pada syariah
2. Dapat menghindarkan konflik dalam keluarga serta meningkatkan keharmonisan rumah tangga
3. Membawa keberkahan keluarga
4. Meningkatkan kualitas hidup keluarga dan generasi selanjutnya
5. Menghindarkan diri dari perilaku koruptif
6. Melahirkan sikap optimis atas masa depan
7. Membangun meningkatkan kekhusyukan dalam beribadah
8. Menjaga kesehatan dan kehangatan keluarga
9. Memunculkan ide-ide kreatif dan produktif
10. Bernilai kebaikan ukhrawi.
Skema alokasi pengeluaran sesuai skala prioritas secara berurutan dalam keluarga sepatutnya dengan levelisasi yang
dimulai dari :
1) Membayar hutang, Dalam beberapa buku referensi perencanaan kuangan Islam nomor satu yang harus
diprioritasan adalah membayar hutang. Artinya apabila kita memiliki hutang, maka harus mendahulukan kewajiban untuk membayar hutang.
Bahkan dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW enggan untuk mensalatkan jenazah orang yang masih memiliki tanggungan hutang. Beberapa referensi perencanaan keuangan menyatakan bahwa jangan sampai kita memiliki hutang yang angsurannya melebihi 40% dari penghasilan karena akan menimbulkan persoalan keuangan dan keluarga;
2) Membayar zakat, sedekah dan pajak,
Membayar zakat menjadi prioritas kedua untuk segera dibayarkan apalagi setelah sampai pada batas haulnya. Kalau bisa ada rekening khusus untuk menampung rencana pembayaran zakat, sedekah dan pajak-pajak;
3) Mencukupi kebutuhan pokok, Menyediakan kebutuhan primer seperti
makan, pakaian dan tempat tinggal yang layak;
4) Biaya pendidikan dan tabungan dana pendidikan, Sangat penting untuk membuat perencanaan anggaran dana pendidikan anak secara khusus;
5) Dana emergency, Dalam beberapa literatur, dana emergency ini paling tidak minimal 6 kali dari dana kebutuhan tiap bulan;
6) Tabungan dana pensiun. Tabungan diartikan dengan menyisihkan sebagian pendapatan untuk keperluan konsumsi di masa mendatang. Ini penting dipersiapkan sehingga ketika sudah memasuki masa pensiun, tidak membebani anak-anak kita.
Kalau keenam hal tersebut sudah tercukupi, maka investasi dapat dilakukan. Artinya, apabila kita memiliki kelebihan alokasi dana dapat dimanfaatkan untuk berinvestasi agar kebahagiaan dan kesejahteraan hidup dapat kita rasakan di masa yang akan datang.
Kedermawanan dan Empati Sosial : Buah Kesalehan Finansial
Pada akhirnya seseorang yang memiliki kesalehan finansial, akan memiliki jiwa yang ikhlas. Ia patuh pada amanat Allah SWT, memiliki sifat dermawan, dan empati serta bertanggung jawab pada lingkungan masyarakatnya. Ia gemar berbagi. Ia
meyakini firman Allah SWT:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 261)
Al-Qur’an mengungkapkan mereka yang selamat dari neraka:َ "Akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang paling bertakwa,yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (diri dari sifat kikir dan tamak).
Tidak ada suatu nikmat pun yang diberikan seseorang kepadanya yang harus dibalas,kecuali (dia memberikannya semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Sungguh, kelak dia akan mendapatkan kepuasan (menerima balasan amalnya)”. (QS. Al-Lail : 17-21)
Harta Sebagai Bekal Generasi yang Kuat
KH. Mohamad Hidayat menegaskan, Islam tidak melarang kita untuk memiliki harta, tetapi kita harus menggunakannya dengan bijak.
Beliau menekankan pentingnya mempersiapkan generasi yang kuat secara finansial. “Harta yang dikelola dengan baik tidak hanya mencukupi kebutuhan keluarga, tetapi juga menjadi investasi untuk membangun generasi masa depan yang kuat,” ujarnya.
Dalam QS. An-Nisa' ayat 9, Allah SWT berfirman: "Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar." (QS. An-Nisa’ : 9).
Ayat ini mengajarkan keseimbangan: selain mempersiapkan bekal untuk akhirat, kita juga harus membangun kesejahteraan finansial untuk generasi selanjutnya.
Harta adalah Amanah: Dari Mana dan untuk Apa?
Mari kita ingat. Harta kekayaan merupakan amanah yang harus dikelola sesuai ketentuan Allah. Dan kelak, harta ini akan menjadi bagian dari hisab dengan dua pertanyaan utama yang harus kita jawab.
KH. Mohamad Hidayat, mengingatkan bahwa kekayaan yang kita miliki akan menjadi bagian dari hisab di akhirat, dengan dua pertanyaan utama: Dari mana harta kita diperoleh? Untuk apa harta itu digunakan?
Sedikit harta dengan perolehan dan penggunaan yang benar, akan lebih baik dari pada banyak harta tetapi justru kelak akan menjerumuskan kita. Kita sering lupa bahwa harta bukan hanya milik kita, melainkan titipan dari Allah SWT yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
"Sedikit harta yang diperoleh dengan cara halal dan digunakan dengan benar lebih baik daripada banyak harta yang justru menjerumuskan kita ke dalam dosa," tegasnya.
Secara teologis, harta benda yang kita miliki adalah ‘amanah’ dari Allah SWT, mengandung pemahaman.
Pertama, amanah yang berhubungan dengan hak orang lain. Kita tidak perlu berbangga tatkala berzakat, apalagi diekspos melalui media, karena sebetulnya zakat itu memang hak orang lain yang apabila tidak kita tunaikan maka kita berdosa. Jadi bukan suatu kelebihan kita yang kemudian kita berikan kepada orang lain.
Kedua, amanah yang berhubungan dengan hak hidup masa kini. Kita dan anak-anak kita memiliki hak untuk memanfaatkan harta itu setidak-tidaknya untuk mencukupi kebutuhan primer dan
sekunder. Jadi dibatasi itu agar kita menggunakannya dengan tidak berlebihan. Ketiga, amanah yang berhubungan dengan hak masa sulit. Inilah pentingnya perencanaan pemanfaatan harta atau mempersiapkan dana-dana untuk sesuatu hal yang sifatnya kontinjensi atau suatu keadaan yang masih diliputi
ketidakpastian. Dengan demikian pada saat kita memasuki masa sulit, kita sudah memiliki kesiapan.
Keempat, amanah yang berhubungan dengan hak masa depan. Masuk dalam kategori ini adalah mempersiapkan dana untuk pendidikan anak, kesehatan keluarga dan lain sebagainya.
Kelima, amanah yang berhubungan dengan hak Masyarakat. Dalam rezeki kita juga terdapat hak masyarakat, yaitu untuk dipergunakan secara produktif sehingga bermanfaat bagi kemaslahatan masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memiliki kecerdasan finansial dengan melakukan perencanaan keuangan.
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa mencari rezeki yang halal adalah kewajiban bagi setiap muslim. “Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki,” sabda Nabi dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.
(Dikutip dari Khutbah Idul Fitri di Masjid Sunda Kelapa, Senin, 31 Maret 2025).

Komentar