Khutbah Idul Fitri, KH. Mohamad Hidayat: Kesalehan Finansial Cermin Seorang Muslim Sejati
ASKARA– Dalam khutbah Idul Fitri 1446H di Masjid Agung Sunda Kelapa pada Senin (31/3), Dr. KH. Mohamad Hidayat, MBA., M.H., menyoroti pentingnya melestarikan nilai-nilai Ramadan, khususnya dalam aspek ekonomi dan keuangan, untuk membangun kehidupan yang lebih baik dan berlandaskan ketakwaan.
Mengangkat tema “Idul Fitri dan Kesalehan Finansial”, KH. Mohamad Hidayat menekankan bahwa Ramadan tidak hanya mengajarkan kesabaran dan spiritualitas, tetapi juga mengajarkan akhlak dalam ekonomi. Puasa yang dijalankan selama sebulan penuh telah melatih umat untuk mengendalikan hawa nafsu, termasuk dalam mengelola harta dan rezeki dengan bijak dan penuh keberkahan.
“Melalui ibadah puasa, fidyah, zakat fitrah, dan zakat mal, Ramadan mengajarkan kita nilai-nilai konsumsi, distribusi, dan sirkulasi kekayaan yang menjadi bagian utama dari ekonomi,” jelas Pimpinan PP Tahfizh Al Quran Al Washiyyah itu
Dalam khutbahnya, KH. Mohamad Hidayat menegaskan bahwa kesalehan finansial adalah karakter yang semestinya dimiliki oleh setiap muslim. Kesalehan finansial mencakup: Mencari rezeki dengan cara halal, Mengelola harta sesuai syariah, Bertransaksi dengan jujur dan adil, Membelanjakan dan mendistribusikan kekayaan untuk kemaslahatan.
Beliau menekankan bahwa ibadah tidak hanya berupa ritual seperti shalat dan puasa, tetapi juga meliputi muamalah sehari-hari dalam ekonomi, keuangan, dan interaksi sosial.
Manifestasi Kesalehan Finansial
Kesalehan finansial, menurut KH. Mohamad Hidayat, terlihat dari perilaku dan kebiasaan individu dalam: Empati terhadap sesama, Kejujuran dalam bisnis, Disiplin dalam mengelola aset, Investasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dengan kesalehan finansial, seorang muslim dapat membangun kesejahteraan, meningkatkan kemandirian, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
Melanjutkan Nilai Ramadan
Idul Fitri adalah momentum kembali ke fitrah, termasuk dalam hal finansial. Mari kita jadikan momen ini untuk memperbaiki cara kita mencari dan mengelola harta agar selalu dalam rida Allah SWT.
KH. Mohamad Hidayat mengajak umat Islam untuk meneruskan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari “Kesalehan finansial adalah wujud nyata dari ketaatan kepada Allah dalam muamalah. Jika kita mampu menjaga kesalehan ini, maka kesejahteraan yang berkelanjutan akan tercipta,” tegasnya.
Kesalehan Finansial
Dalam khutbahnya, KH. Mohamad Hidayat, menyampaikan bahwa kesalehan finansial merupakan salah satu aspek penting yang ditegaskan dalam Al-Qur'an dan Hadits. Hal ini menjadi dasar dalam membangun perilaku ekonomi yang berlandaskan ketakwaan, untuk menciptakan kesejahteraan dan keberkahan dalam kehidupan.
KH. Mohamad Hidayat mengutip beberapa ayat Al-Qur'an yang menegaskan pentingnya perilaku finansial yang saleh:
QS. Al-Baqarah: 254: Allah menyeru orang-orang beriman untuk membelanjakan rezeki di jalan-Nya sebelum datang hari di mana jual beli dan syafa’at tidak berlaku.
QS. Al-Baqarah: 168: Umat manusia dianjurkan untuk mengonsumsi yang halal dan baik, serta menjauhi langkah-langkah setan.
Rasulullah SAW juga mengingatkan pentingnya mencari rezeki dari sumber yang halal: “Mencari rezeki yang halal hukumnya wajib atas setiap orang Muslim.” (HR. Thabrani).
“Pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki. Ambillah rezeki yang halal dan tinggalkanlah rezeki yang haram.” (HR. Ibnu Majah)
Beliau mengingatkan bahwa keberkahan terletak pada kepatuhan umat Islam terhadap ajaran agama, terutama dalam aspek ekonomi.
Transaksi yang Berlandaskan Kesalehan
Dalam konteks muamalah, kesalehan finansial tercermin dalam kegiatan transaksi bisnis. QS. An-Nisa: 29 melarang umat Islam untuk memakan harta secara batil, kecuali melalui perniagaan yang dilakukan dengan suka sama suka.
Rasulullah SAW menyampaikan: “Semoga Allah merahmati seseorang yang murah hati ketika menjual, ketika membeli, dan ketika menagih utang.” (HR. Bukhari).
Umar bin Khattab pun menegaskan pentingnya pemahaman hukum syariat dalam berdagang. “Janganlah berjualan di pasar kami, orang-orang yang tidak mengerti tentang muamalah (transaksi jual beli),” serunya, demi menjaga keadilan dan prinsip-prinsip Islam dalam transaksi.
Membangun Kesalehan Finansial
Kesalehan finansial adalah bentuk ketaatan kepada Allah dalam muamalah maliyah (ekonomi). Hal ini mencakup: Mencari rezeki yang halal dan baik, Bertransaksi dengan adil dan jujur, Membelanjakan harta untuk kemaslahatan, Memberikan manfaat kepada sesama melalui distribusi harta yang tepat.
KH. Mohamad Hidayat menegaskan bahwa kesalehan finansial bukan hanya jalan menuju keberkahan hidup, tetapi juga menjadi wujud nyata ketakwaan seorang mukmin.
Pilar Keberkahan dan Keberlanjutan Ekonomi Islami
KH. Mohamad Hidayat, menegaskan bahwa kesalehan finansial adalah salah satu indikator ketakwaan seseorang. Seorang mukmin yang memiliki kesalehan finansial akan merencanakan, mengelola, dan menggunakan hartanya dengan penuh tanggung jawab. Ia tidak hanya fokus pada keuntungan pribadi, tetapi juga memastikan bahwa harta yang dimilikinya memberi manfaat bagi diri sendiri, keluarga, institusi, dan masyarakat luas.
Seorang mukmin yang memiliki kesalehan finansial menyadari bahwa segala bentuk kepemilikan duniawi kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Rasulullah SAW mengingatkan dalam HR. Ibnu Hibban dan Tirmidzi: "Kaki seorang hamba tidak akan beranjak pada hari kiamat hingga dia ditanya empat perkara; tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya untuk apa dia pergunakan, tentang hartanya dari mana didapatkan dan untuk apa dibelanjakan, tentang raganya untuk apa dia pergunakan."
Ayat dan hadis ini mengajarkan bahwa harta bukan hanya sekadar alat pemenuhan kebutuhan, tetapi juga amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan.
Kunci Keberkahan Negeri
KH. Mohamad Hidayat menekankan bahwa kejujuran dan kehati-hatian dalam mengelola harta harus menjadi karakter utama seorang mukmin dalam menjalankan aktivitas ekonomi.
Korupsi, gratifikasi, dan kolusi adalah praktik yang bertentangan dengan nilai kesalehan finansial. Riba dan transaksi yang merugikan orang lain adalah sumber kehancuran ekonomi umat. Jika nilai-nilai Islam diterapkan oleh para pengusaha, pejabat, dan pemimpin, maka negeri ini akan diberkahi Allah SWT.
Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-A’raf: 96: “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka sendiri.”
Kesalehan finansial menjadi bagian penting dalam menjalankan Islam secara kaffah, mencakup interaksi manusia dengan sesama (hablum minannas) dan dengan Allah (hablum minallah). KH. Mohamad Hidayat, menjelaskan bahwa muslim yang kaffah adalah mereka yang memenuhi kesalehan dalam tiga aspek utama: ritual, sosial, dan finansial.
Pilar Utama Berislam Kaffah
Kesalehan finansial merujuk pada perilaku ekonomi yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Dalam QS. Al-Baqarah: 208, Allah memerintahkan umat Islam untuk memasuki Islam secara keseluruhan (kaffah), tidak hanya dalam ibadah mahdhoh, tetapi juga dalam aspek muamalah.
Seorang muslim yang kaffah mencari rezeki dengan halal, mengelola harta dengan bijak, dan menjalin hubungan harmonis dengan masyarakat. Tidak cukup hanya rajin beribadah, tetapi juga harus bebas dari korupsi, kolusi, dan transaksi yang tidak sesuai syariat.
Prinsip-Prinsip Kesalehan Finansial
Kesalehan finansial harus diterapkan dengan berpedoman pada prinsip berikut: Kejujuran dan Transparansi dalam pengelolaan keuangan, Menghindari Pendapatan Haram, termasuk riba, perjudian, dan praktik maksiat lainnya, Bijak dalam Pembelanjaan, menghindari boros, dan menggunakan harta untuk kegiatan yang maslahat.
Investasi yang Halal dan Amanah dengan tetap mempersiapkan kebutuhan masa depan dan menghindari risiko berlebihan, Pengelolaan Utang yang Sehat, melunasi utang sesuai waktu atau lebih cepat, serta menghindari jeratan utang yang tidak perlu, Distribusi Harta Sesuai Syariah, melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf, untuk memastikan sirkulasi kekayaan yang adil.
Kesalehan finansial juga mencakup profesionalisme dalam dunia kerja. Muslim yang bertakwa harus menunjukkan integritas dan kapabilitas yang tinggi, dengan menghindari praktik koruptif, baik dalam hal keuangan, data, maupun informasi.
Self-assessment menjadi langkah penting dalam menjaga kesalehan finansial, termasuk menghindari kebiasaan boros dan menjaga dana darurat untuk kebutuhan tak terduga.
Manfaat Kesalehan Finansial
Dengan menerapkan kesalehan finansial, seorang muslim dapat mencapai:
1. Stabilitas Keuangan: Kehidupan yang seimbang secara ekonomi, tanpa tekanan utang atau pembelanjaan berlebihan.
2. Keberkahan Hidup: Rezeki yang halal membawa ketenangan dan keberkahan dalam kehidupan.
3. Kesejahteraan Sosial: Kontribusi terhadap masyarakat melalui distribusi kekayaan yang adil dan sesuai syariat.
"Kesalehan finansial adalah bentuk nyata dari pengamalan Islam kaffah. Dengan ini, setiap muslim tidak hanya menjadi pribadi yang taat, tetapi juga membawa keberkahan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara," ujar KH. Mohamad Hidayat.

Komentar