Kamis, 04 Juni 2026 | 09:02
Ruang Menulis

Mafia Emas Hitam: Pengkhianatan di Balik Meja Perundingan (Seri 6)

Mafia Emas Hitam: Pengkhianatan di Balik Meja Perundingan (Seri 6)
Ilustrasi

Oleh: Dwi Taufan Hidayat

ASKARA - Gozali duduk di kursi logam dengan tangan terborgol. Ruangan interogasi di pangkalan militer itu terasa dingin dan sunyi. Cahaya lampu putih menyinari wajahnya yang penuh luka dan lebam.

Di seberangnya, Raka dan Ardi berdiri dengan wajah dingin. Kolonel Sudrajat duduk di samping mereka, memperhatikan setiap gerak-gerik Gozali.

"Baiklah," kata Kolonel Sudrajat sambil menyilangkan tangan. "Kau bilang akan bicara. Siapa dalang di balik semua ini?"

Gozali menelan ludah, matanya melirik ke arah jendela satu arah yang mungkin saja ada orang lain di baliknya. Ia menghela napas panjang.

"Bos besarnya adalah seseorang yang tak bisa disentuh oleh hukum," katanya dengan suara rendah. "Ia punya jaringan di pemerintahan, kepolisian, bahkan militer."

Raka menyipitkan mata. "Siapa namanya?"

Gozali menatap mereka lama sebelum akhirnya bergumam. "Raymond Dharma."

Nama itu membuat Kolonel Sudrajat terkejut.

"Raymond Dharma? Pengusaha minyak itu?" tanyanya, matanya menyala marah.

Gozali mengangguk. "Kalian pikir bisnis Raymond hanya berkutat di minyak legal? Dia punya jaringan luas di penyelundupan BBM, narkotika, dan bahkan perdagangan senjata."

Ardi mengepalkan tangannya. "Kalau itu benar, berarti kita berhadapan dengan kekuatan yang sangat besar."

Kolonel Sudrajat menarik napas panjang. "Ini bukan sesuatu yang bisa kita tangani sembarangan. Raymond bukan hanya seorang mafia, dia juga bagian dari elite politik yang punya banyak koneksi."

Raka mengangguk. "Kalau begitu, kita harus bermain lebih cerdas dari mereka."

Strategi Menjebak Raymond

Malam itu, Raka, Ardi, dan Kolonel Sudrajat mengadakan pertemuan rahasia dengan beberapa petinggi militer yang masih bisa dipercaya. Mereka membahas strategi untuk menjatuhkan Raymond Dharma tanpa menimbulkan kegaduhan yang bisa menguntungkan sang mafia.

"Kita tidak bisa langsung menangkapnya," kata Sudrajat. "Tapi kita bisa memancingnya keluar."

Raka mengangguk. "Kita buat skenario seolah-olah Gozali masih beroperasi. Kita sebarkan informasi palsu bahwa Gozali punya stok BBM ilegal yang siap dikirim."

Ardi menambahkan, "Kalau Raymond menggigit umpan, kita bisa menangkapnya dengan tangan berdarah."

Semua orang di ruangan itu sepakat. Ini bukan misi yang mudah, tapi ini satu-satunya cara untuk menumbangkan mafia minyak terbesar di negeri ini.

Permainan Dimulai

Dua hari kemudian, berita palsu tentang "stok BBM ilegal" mulai disebarkan melalui jalur komunikasi rahasia yang biasa digunakan oleh jaringan penyelundup.

Gozali, yang kini berada dalam pengawasan ketat, berpura-pura masih menjalankan bisnisnya. Ia diizinkan menggunakan salah satu ponselnya untuk menghubungi orang kepercayaan Raymond.

"Aku butuh tempat penampungan untuk barang ini," kata Gozali dalam percakapan telepon.

Dari seberang, suara berat terdengar. "Kau masih hidup, Gozali?"

"Aku lolos," kata Gozali dengan nada meyakinkan. "Tapi aku butuh tempat aman untuk barang-barang ini sebelum polisi mulai mencium jejak."

Ada jeda singkat sebelum suara itu menjawab.

"Aku akan bicara dengan bos. Tunggu kabar dari kami."

Panggilan berakhir. Semua mata tertuju pada Gozali.

"Mereka menggigit umpannya," kata Raka.

Kolonel Sudrajat mengangguk. "Sekarang kita tinggal menunggu langkah mereka berikutnya."

Pengkhianatan di Balik Meja Perundingan

Beberapa hari berlalu, dan akhirnya mereka menerima kabar. Sebuah pertemuan akan diadakan di sebuah gudang tua di pinggiran kota.

Gozali akan dibawa ke sana, dengan tim pasukan khusus yang menyamar sebagai anak buahnya. Mereka akan berpura-pura melakukan transaksi, sementara tim lain bersiap untuk menangkap Raymond dan kaki tangannya.

Malam itu, misi dimulai.

Gudang yang mereka tuju gelap dan sunyi. Hanya ada beberapa lampu redup yang menerangi jalan masuknya.

Saat mereka tiba, beberapa pria bersenjata sudah menunggu di dalam.

Dan di tengah mereka, berdiri Raymond Dharma.

Ia tampak elegan dengan jas mahal dan senyum dinginnya.

"Gozali, kau beruntung masih hidup," katanya sambil melangkah maju.

Gozali mencoba bersikap tenang. "Aku selalu punya cara untuk bertahan, Raymond."

Raymond terkekeh. "Begitu juga aku. Dan aku selalu tahu kapan seseorang berkhianat."

Tiba-tiba, dari balik kegelapan, terdengar suara tembakan.

Salah satu pasukan khusus yang menyamar sebagai anak buah Gozali tumbang.

"Perangkap!" teriak Ardi, segera menarik pistolnya.

Tembakan pun meledak di seluruh ruangan.

Raymond ternyata sudah mengetahui jebakan ini dan mempersiapkan anak buahnya lebih dulu.

Kolonel Sudrajat dan timnya segera membalas tembakan, tetapi mereka terdesak.

Gozali berusaha melarikan diri, tetapi Raymond sudah lebih dulu mengincarnya.

"Kau pikir bisa menjualku begitu saja?" kata Raymond sambil mengarahkan pistol ke kepala Gozali.

Raka dan Ardi berpandangan. Mereka tahu bahwa jika Gozali mati, maka semua informasi penting bisa ikut terkubur.

Ardi menembak ke arah Raymond, tetapi pria itu lebih cepat.

Ia menarik pelatuknya lebih dulu.

DOR!

Gozali terhuyung ke belakang, darah mengucur dari dadanya.

Raymond tersenyum dingin. "Sekarang, tak ada lagi yang bisa menjebakku."

Tapi ia salah.

Kolonel Sudrajat sudah berada di belakangnya.

DOR!

Sebuah peluru bersarang di kaki Raymond, membuatnya jatuh tersungkur.

Anak buahnya melihat pemimpinnya tumbang dan mulai panik. Beberapa dari mereka menyerah, sementara yang lain mencoba melarikan diri.

Pertempuran berakhir dalam waktu lima belas menit.

Raymond Dharma, salah satu mafia minyak terbesar di negeri ini, akhirnya ditangkap.

Namun, di tengah kemenangan itu, Raka dan Ardi tahu bahwa ini belum berakhir.

Ada lebih banyak orang di balik jaringan ini.

Dan mereka harus menggali lebih dalam.

Komentar