Rabu, 17 Juni 2026 | 18:36
Ruang Menulis

Mafia Emas Hitam: Perburuan di Balik Bayangan (Seri 5)

Mafia Emas Hitam: Perburuan di Balik Bayangan (Seri 5)
Ilustrasi

Oleh:;Dwi Taufan Hidayat

ASKARA - Raka dan Ardi masih terguncang setelah melarikan diri dari kapal yang terbakar. Di atas sekoci kecil, mereka menyaksikan bangkai kapal perlahan tenggelam ke dasar lautan. Asap hitam mengepul ke udara, bercampur dengan bau solar yang terbakar.

"Gozali pasti masih hidup," gumam Raka, matanya menyipit ke arah laut yang mulai tenang.

Ardi mengangguk. "Orang seperti dia tidak akan mudah mati. Tapi sekarang, kita punya keuntungan. Bisnisnya baru saja hancur lebur."

Tiba-tiba, suara mesin mendekat. Sebuah kapal patroli milik Angkatan Laut melaju ke arah mereka. Lampu sorot menerangi wajah mereka yang lusuh dan penuh luka.

"Kalian di sana! Angkat tangan dan jangan bergerak!" terdengar suara tegas melalui pengeras suara.

Ardi dan Raka saling pandang. Mereka tahu, ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan segalanya. Namun, mereka juga tidak punya pilihan lain.

"Kita ikut saja dulu," bisik Ardi. "Lebih baik berurusan dengan aparat daripada mati tenggelam di tengah laut."

Mereka mengangkat tangan dan membiarkan diri mereka ditangkap.

Penyelidikan Dimulai

Beberapa jam kemudian, mereka berada di dalam kapal patroli, dibawa ke pangkalan militer untuk diinterogasi. Seorang perwira tinggi, Kolonel Sudrajat, menatap mereka dengan penuh selidik.

"Kalian ini siapa? Dan mengapa kalian ada di kapal penyelundup yang baru saja meledak?" tanyanya tajam.

Raka menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara. "Kami bukan bagian dari mereka. Justru kami ingin mengungkap jaringan mereka."

Sudrajat menyilangkan tangan. "Jangan main-main dengan saya. Kapal yang kalian tumpangi bukan sekadar kapal penyelundup. Itu bagian dari sindikat besar yang sudah kami incar selama bertahun-tahun."

Ardi memajukan tubuhnya sedikit. "Kalau begitu, kita punya tujuan yang sama, Pak. Kami bisa membantu Anda membongkar siapa dalang di balik semua ini."

Kolonel itu menatap mereka beberapa saat, lalu mengambil sebuah map berisi foto-foto satelit dan laporan intelijen. Ia melemparnya ke atas meja.

"Kalau kalian benar-benar tahu sesuatu, buktikan."

Raka dan Ardi saling pandang. Ini kesempatan mereka.

"Gozali hanyalah kaki tangan. Ada orang yang lebih besar di belakangnya," kata Raka. "Kami tahu beberapa tempat yang bisa menjadi petunjuk."

Sudrajat mengangguk pelan. "Baik. Kita akan uji informasi kalian. Tapi jika kalian berbohong, kalian akan ditahan seperti kriminal lainnya."

Jejak Gozali

Setelah mendapat persetujuan, Raka dan Ardi diberi kesempatan untuk melacak keberadaan Gozali. Mereka menduga bahwa pria itu akan mencari perlindungan pada seseorang yang lebih berkuasa.

Dari informasi intelijen, sebuah vila di pinggiran kota diduga menjadi tempat persembunyian para petinggi sindikat. Malam itu juga, mereka berangkat bersama satu tim kecil pasukan khusus.

Ketika tiba di lokasi, vila tersebut tampak sepi. Namun, Ardi langsung merasakan ada yang tidak beres.

"Ini terlalu tenang," bisiknya.

Saat mereka mendekat, terdengar suara deru mesin mobil dari belakang vila.

"Mereka akan kabur!" seru salah satu pasukan.

Tanpa pikir panjang, Raka dan Ardi berlari ke arah sumber suara.

Dari balik semak-semak, mereka melihat Gozali masuk ke dalam sebuah SUV hitam bersama beberapa orang lainnya.

"Jangan biarkan dia lolos!" teriak Ardi.

Pasukan khusus segera bergerak. Sebuah tembakan peringatan dilepaskan, tetapi SUV itu tetap melaju kencang ke arah jalan utama.

Raka dan Ardi segera masuk ke mobil lain dan mengejar mereka.

Adu Balap Maut

Jalanan sempit dan berkelok-kelok membuat pengejaran menjadi berbahaya. SUV yang dikendarai Gozali melaju dengan kecepatan tinggi, berusaha menghilangkan jejak.

Ardi yang berada di kursi pengemudi menggertakkan giginya. "Kita harus cari cara menghentikan mereka sebelum mereka mencapai jalan raya."

Raka mengamati sekitar dan melihat sebuah jalan potong.

"Ambil jalur kiri! Kita bisa memotong mereka di depan!"

Ardi mengikuti instruksi dan membelok tajam. Ban mobil berdecit, hampir kehilangan kendali.

Ketika mereka berhasil sampai di titik pemotongan, SUV Gozali sudah berada di depan mata.

Tanpa ragu, Ardi menabrakkan sisi mobil mereka ke bagian belakang SUV itu, membuatnya kehilangan kendali dan tergelincir ke pinggir jalan.

Dengan cepat, Raka dan Ardi keluar dari mobil, menodongkan senjata ke arah kendaraan yang kini terguling.

Pintu SUV terbuka. Gozali keluar dengan tangan gemetar, diikuti oleh dua orang lainnya.

"Jangan bergerak!" seru Raka.

Namun, salah satu anak buah Gozali mencoba menarik senjata.

DOR!

Ardi lebih cepat. Satu peluru bersarang di lengan pria itu, membuatnya jatuh ke tanah.

Gozali tahu bahwa ia sudah kalah. Ia mengangkat tangan dengan wajah ketakutan.

"Oke, oke! Aku menyerah!" katanya dengan suara bergetar.

Raka mendekat dan menarik kerah bajunya. "Siapa bosmu yang sebenarnya?"

Gozali menggeleng. "Aku tak bisa mengatakannya... kalau aku bicara, aku akan mati!"

Ardi mencengkeram lengannya. "Kalau kau tidak bicara, kau akan mati di sini juga."

Setelah beberapa detik ragu, Gozali akhirnya menghela napas berat.

"Baik... aku akan bicara. Tapi kalian harus menjamin keselamatanku."

Raka dan Ardi saling pandang. Mereka akhirnya berhasil menangkap salah satu kunci dari sindikat ini.

Namun, mereka tahu, ini baru awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

(Bersambung ke Seri 6: Pengkhianatan di Balik Meja Perundingan)

Komentar