Mafia Emas Hitam: Sandera di Laut Lepas (Seri 3)
Oleh: Dwi Taufan Hidayat
ASKARA - Raka merasakan dinginnya moncong pistol menekan pelipisnya. Napasnya tertahan, jantungnya berdegup kencang. Di hadapannya berdiri seorang pria bertubuh tegap dengan sorot mata penuh ancaman.
"Kau pikir bisa lolos begitu saja, jurnalis?"
Raka mengenali suara itu. Gozali.
Di luar ruangan kontrol, suara teriakan dan langkah kaki terdengar riuh. Perkelahian antara Ardi dan anak buah Gozali masih berlangsung. Namun, Raka tahu bahwa dalam waktu singkat, mereka akan menyadari bahwa ia ada di sini—dan itu berarti tak ada jalan keluar.
Gozali menekan pistolnya lebih keras. "Serahkan ponselmu."
Raka berpikir cepat. Ia sudah memotret dokumen-dokumen penting. Jika ponsel itu jatuh ke tangan mereka, semua bukti akan hilang.
"Aku tak membawa apa-apa," jawab Raka dengan suara setenang mungkin.
Gozali tertawa kecil. "Jurnalis memang selalu pintar berbohong."
Tiba-tiba, ia meraih saku Raka dan menarik keluar ponselnya. Dengan satu gerakan kasar, ia melempar ponsel itu ke lantai dan menginjaknya kuat-kuat hingga layar retak.
"Sayang sekali," katanya dengan nada mengejek.
Raka menahan napas, pikirannya berputar mencari cara untuk bertahan. Tapi sebelum ia sempat bertindak, dua pria berbadan kekar masuk ke dalam ruangan dan menariknya dengan paksa.
"Kita bawa dia ke ruang mesin," perintah Gozali.
Raka tak punya pilihan selain mengikuti mereka. Ia diseret keluar, melewati lorong sempit kapal yang bau solar dan besi karat. Kapal ini bukan sembarang kapal kargo—ini adalah kapal penyelundupan. Dan sekarang, ia terjebak di dalamnya.
Dek Kapal, 03.15 WIB
Di luar, Ardi masih bersembunyi di balik kontainer. Ia melihat bagaimana Raka dibawa ke dalam kapal. Situasinya semakin buruk.
Ia menekan radio di sakunya. "Pusat, ini Unit 207. Saya membutuhkan backup di koordinat saya. Seorang jurnalis dalam bahaya."
Namun, hanya suara statis yang terdengar.
Ardi mengumpat pelan. Komunikasi mereka mungkin sudah terganggu. Itu berarti ia sendirian.
Ia mengintip ke arah kapal. Beberapa orang masih berjaga di dermaga, bersenjata lengkap. Masuk ke dalam tanpa ketahuan adalah misi bunuh diri.
Namun, ia tak bisa meninggalkan Raka begitu saja.
Ardi menarik napas dalam, lalu bergerak perlahan di antara bayangan. Ia harus menemukan cara untuk masuk ke dalam kapal tanpa menarik perhatian.
Ruang Mesin Kapal
Raka didorong kasar ke lantai besi yang dingin. Ruangan itu penuh dengan suara gemuruh mesin yang bergetar. Panas dan pengap, bau oli menyengat hidungnya.
Di hadapannya, Gozali berdiri dengan tangan bersedekap.
"Kau tahu kenapa kau masih hidup, Wirawan?" tanyanya.
Raka menatapnya tajam. "Karena kau butuh sesuatu dariku."
Gozali tersenyum tipis. "Pintar. Aku butuh tahu siapa lagi yang tahu tentang ini. Kau bekerja sendiri atau ada orang lain?"
Raka diam.
Gozali mendekat, lalu menendang dadanya hingga ia terbatuk keras.
"Jangan buat aku kehilangan kesabaran," katanya dingin.
Raka tersenyum lemah meski dadanya nyeri. "Kau sudah kehilangannya sejak lama."
Gozali mendengus, lalu mengisyaratkan pada anak buahnya. "Pastikan dia tak bisa kabur. Kapal ini akan berlayar dalam sepuluh menit."
Raka membelalakkan mata. Jika kapal ini berangkat, ia akan dibawa entah ke mana—dan mungkin takkan pernah kembali.
Ia harus bertindak sekarang.
Dek Kapal, 03.25 WIB
Ardi akhirnya berhasil naik ke kapal melalui rantai jangkar. Ia bergerak cepat di antara bayangan, berusaha menghindari para penjaga.
Ia harus menemukan Raka sebelum kapal ini meninggalkan pelabuhan.
Namun, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, seseorang menodongkan senjata ke belakang kepalanya.
"Berhenti di tempat."
Ardi mengangkat tangan, pura-pura menyerah. Tapi saat pria itu sedikit lengah, ia berbalik cepat, menepis senjatanya dan menghantam dagunya dengan siku.
Pria itu terhuyung. Ardi segera meraih pistolnya dan menjatuhkannya ke laut sebelum berlari ke dalam kapal.
Ia tahu waktunya tak banyak.
Ruang Mesin
Raka berusaha melepaskan ikatan di tangannya. Kabel plastik itu kuat, tapi ia bisa merasakan bahwa perlahan-lahan ia mulai melonggarkannya.
Di luar, ia mendengar langkah kaki.
Tiba-tiba, pintu ruang mesin terbuka.
Seorang pria bertopeng hitam masuk. Raka bersiap untuk bertarung—tetapi kemudian pria itu melepas topengnya.
"Ardi?"
Ardi mengangguk. "Kita harus keluar dari sini."
Ia segera memotong ikatan Raka dengan pisau lipat.
Namun, sebelum mereka bisa bergerak, alarm kapal berbunyi keras.
"Kita ketahuan," kata Raka.
Ardi mengumpat. "Tak ada pilihan lain. Kita harus bertarung."
Suara langkah kaki mendekat.
Ardi mengangkat pistolnya, bersiap menghadapi musuh yang akan masuk.
Pintu ruang mesin didobrak. Beberapa pria bersenjata masuk.
"Serahkan diri kalian, atau mati di tempat," salah satu dari mereka berkata.
Raka dan Ardi saling bertukar pandang.
Pilihan mereka hanya dua: bertarung atau mati.
(Bersambung ke Seri 4: Neraka di Tengah Laut)

Komentar