Mafia Emas Hitam: Jejak di Pelabuhan Gelap (Seri 2)
Oleh: Dwi Taufan Hidayat
ASKARA - Raka tersentak sadar. Kepalanya berdenyut hebat, tubuhnya terasa kaku. Udara asin bercampur bau solar memenuhi paru-parunya. Ia mencoba menggerakkan tangan, tetapi pergelangannya terikat di belakang kursi dengan kabel plastik yang kuat.
Ia mengedarkan pandangan. Ruangan ini remang-remang, hanya diterangi satu lampu gantung yang berkelap-kelip. Dinding besi berkarat dan lantai berdebu menunjukkan bahwa ini adalah gudang tua di dekat pelabuhan.
Sebuah suara berat memecah keheningan.
"Akhirnya kau bangun juga, Wirawan."
Raka menoleh. Seorang pria berperawakan besar berdiri di hadapannya. Wajahnya dingin, rahangnya kokoh, dan matanya tajam menatapnya seperti predator yang mengawasi mangsanya. Gozali.
Nama itu sudah sering ia dengar dalam penelitiannya. Gozali bukan sekadar preman biasa. Ia adalah perpanjangan tangan dari mafia besar yang mengendalikan perdagangan BBM ilegal di berbagai daerah.
Raka mencoba tetap tenang. "Apa yang kau inginkan?"
Gozali menyeringai. "Kau terlalu banyak tahu, jurnalis."
Ia melangkah mendekat, mengangkat dagu Raka dengan dua jarinya. "Katakan padaku, siapa yang memberimu flashdisk itu?"
Raka terdiam. Ia tahu bahwa jika ia menyebut nama Hendra, itu tidak akan mengubah apa pun. Mereka pasti sudah tahu. Tapi jika ia membuka informasi lebih lanjut, itu hanya akan mempercepat ajalnya.
"Sudah kubilang, aku tidak tahu," kata Raka akhirnya.
Gozali tertawa kecil. "Kau pikir aku bodoh?"
Dengan gerakan cepat, ia mencabut pisau lipat dari sakunya dan menekankan ujungnya ke pipi Raka.
"Kau tahu? Aku bisa membuatmu menghilang tanpa jejak di laut ini. Tak ada yang akan menemukannya."
Raka merasakan ujung pisau itu menyayat sedikit kulitnya, tapi ia menahan diri agar tidak bereaksi.
Tiba-tiba, pintu gudang terbuka. Seorang pria berpakaian serba hitam masuk dengan langkah tergesa.
"Tuan Gozali, kapal sudah siap. Barang harus segera dikirim."
Gozali menggeram pelan, lalu menurunkan pisaunya. "Aku akan mengurusmu nanti, Wirawan."
Ia berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan Raka sendirian di dalam ruangan itu.
Pelabuhan Gelap, 02.30 WIB
Suara ombak menghantam dermaga kayu tua. Beberapa kontainer besar berjajar rapi di sepanjang pelabuhan. Cahaya bulan samar-samar menerangi kapal kargo yang bersandar di ujung dermaga.
Di atas kapal, beberapa pria bertubuh kekar tampak sibuk memindahkan jerigen besar dari truk ke dalam lambung kapal. Aroma solar dan oli begitu kuat.
Di balik tumpukan peti kayu, Ardi, seorang polisi muda yang menyamar, mengamati pergerakan mereka melalui teropong malam. Selama berminggu-minggu, ia telah menyelidiki operasi ini. Tapi baru malam ini ia mendapatkan bukti nyata: pengiriman BBM ilegal ke luar negeri.
Ardi mengaktifkan radionya. "Target terkonfirmasi. Mereka sedang memindahkan BBM ilegal. Minta izin untuk bergerak."
Suara dari radio menjawab. "Negatif. Tunggu perintah lebih lanjut."
Ardi mengumpat pelan. Ia tahu bahwa jika mereka menunggu lebih lama, kapal itu akan berangkat dan mereka akan kehilangan jejak.
Di saat yang sama, ia melihat sesuatu yang mengejutkan. Raka—diikat dan dikawal oleh dua pria bersenjata—dibawa naik ke atas kapal.
Ardi mengepalkan tangan. Ia tak bisa tinggal diam.
Kembali ke Gudang
Raka mencoba menggerakkan jari-jarinya. Kabel plastik yang mengikat pergelangannya kuat, tapi ada sedikit celah. Dengan usaha keras, ia memutar pergelangan tangan hingga tali itu sedikit longgar.
Saat ia hampir berhasil membebaskan diri, suara langkah kaki terdengar mendekat. Dua pria masuk dan menariknya berdiri.
"Waktunya berlayar," kata salah satu dari mereka dengan nada mengejek.
Raka digiring keluar dari gudang menuju dermaga. Angin laut menerpa wajahnya, dingin menusuk tulang. Ia bisa melihat kapal besar yang siap berangkat.
Tapi di antara kegelapan, ia melihat bayangan seseorang yang bergerak di antara peti kemas. Mata Raka menyipit. Itu bukan orang dari kelompok Gozali. Itu Ardi.
Saat Raka melewati tumpukan peti, Ardi bergerak cepat. Dengan satu gerakan, ia menembakkan senjata berperedam ke arah salah satu penjaga.
Pria itu roboh tanpa suara. Raka memanfaatkan kesempatan itu, menyikut wajah penjaga yang lain dan merebut pistol dari tangannya.
Tembakan dilepaskan, membuat suasana menjadi kacau. Orang-orang Gozali berhamburan mencari perlindungan.
Raka dan Ardi berlari ke arah dermaga. "Kita harus hentikan kapal itu!" teriak Ardi.
Tapi sebelum mereka bisa bergerak lebih jauh, suara tembakan memberondong ke arah mereka. Mereka berlindung di balik kontainer.
Gozali muncul, memegang senjata otomatis. "Kau pikir bisa lari begitu saja?"
Raka menatap Ardi. "Ada rencana?"
Ardi mengangguk. "Aku akan mengalihkan perhatiannya. Kau ke kapal, cari bukti lebih banyak."
Raka menghela napas. "Baiklah. Jangan mati, Ardi."
Ardi menyeringai. "Kau juga."
Dengan itu, Ardi melompat keluar dari perlindungan dan menembakkan senjatanya ke arah Gozali dan anak buahnya.
Raka berlari ke arah kapal, melompat ke atas dek, dan langsung mencari ruangan yang berisi dokumen atau komputer.
Di dalam ruangan kontrol, ia menemukan beberapa map tebal berisi daftar pengiriman. Ia segera mengambil foto-foto dokumen itu dengan ponselnya.
Tapi saat ia hendak pergi, seseorang menodongkan pistol ke kepalanya.
"Tidak sejauh itu, jurnalis."
(Bersambung ke Seri 3: Sandera di Laut Lepas)

Komentar