Rabu, 17 Juni 2026 | 22:45
Ruang Menulis

Cerita Bersambung Seri 17: Membangun Kembali yang Retak

Cerita Bersambung Seri 17: Membangun Kembali yang Retak
Dwi Taufan Hidayat

Oleh: Dwi Taufan Hidayat 

ASKARA - Musim semi telah tiba di Karangjati, dan meskipun cuaca semakin hangat, rasa dingin akibat luka-luka lama masih terasa di hati sebagian warga desa. Namun, ada tanda-tanda perubahan. Pelan tapi pasti, mereka yang dulu terpisah mulai saling mendekat. Pemilu kepala desa telah selesai, namun hasilnya bukanlah akhir dari kisah mereka, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk memulihkan hubungan yang retak.

Ibrahim dan Keterlibatannya dalam Desa

Ibrahim telah berkomitmen untuk memimpin dengan kebijaksanaan. Sebagai kepala desa, ia tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pembangunan sosial. Ia tahu bahwa keberhasilan pembangunan bukan hanya tentang jalan atau jembatan yang kokoh, tetapi juga tentang bagaimana warga bisa hidup berdampingan dengan damai.

Hari itu, Ibrahim duduk bersama sekelompok tokoh masyarakat di ruang balai desa. Mereka membicarakan berbagai program yang akan dijalankan dalam beberapa bulan ke depan. Salah satunya adalah program penguatan ekonomi warga, dengan membuka pelatihan keterampilan yang bisa meningkatkan penghasilan mereka.

Pak Surya, yang sebelumnya sangat mendukung Arifin, kini duduk di meja yang sama dengan Ibrahim. Meskipun hubungan mereka tidak sepenuhnya mulus, mereka berusaha untuk bekerja sama demi kemajuan desa.

“Pak Ibrahim,” kata Pak Surya dengan suara hati-hati, “saya ingin melihat pelatihan ini berhasil. Mungkin, kita bisa mulai dengan pelatihan yang lebih terjangkau bagi ibu-ibu, seperti membuat kerajinan tangan atau memasak.”

Ibrahim mengangguk setuju. “Itu ide yang bagus. Kita juga harus melibatkan warga yang lebih muda, supaya mereka bisa melihat bagaimana usaha kecil bisa membawa perubahan besar.”

Pak Hasan yang duduk di ujung meja menambahkan, “Dan jangan lupa, kita harus memastikan bahwa semua warga, tanpa memandang latar belakang politik, bisa ikut serta. Ini soal kebersamaan, bukan siapa yang menang atau kalah.”

Ibrahim tersenyum, merasa sedikit lega. Meskipun masih ada perbedaan pendapat, setidaknya mereka mulai belajar untuk menurunkan egonya demi tujuan bersama.

Rania dan Peranannya di Mushala

Rania, di sisi lain, semakin aktif di mushala. Ia tidak hanya terlibat dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga dalam berbagai program sosial yang digelar di sana. Setiap minggu, ada pengajian yang dihadiri oleh ibu-ibu dari berbagai latar belakang. Meskipun ketegangan politik masih terasa, Rania berusaha menjaga agar suasana tetap damai.

Suatu hari, setelah pengajian, Rania melihat beberapa ibu-ibu berbicara dengan suara rendah, saling bertukar pendapat tentang kegiatan yang akan datang. Mereka mulai lebih terbuka satu sama lain, meskipun perasaan tidak puas masih ada di antara mereka.

"Ibu Rania," kata Bu Ratna, salah satu ibu yang sudah lama tinggal di Karangjati, "saya merasa ada perubahan di sini. Dulu, kami semua seperti terpecah, tapi sekarang, meskipun tidak sepenuhnya mudah, kami bisa berbicara lagi."

Rania tersenyum lembut. “Kadang, perubahan itu memang perlahan, Bu. Tapi jika kita berusaha dengan sungguh-sungguh, insya Allah, kita bisa membangun kembali rasa persaudaraan yang hilang.”

Bu Lina, yang juga hadir, ikut menimpali. “Saya masih ingat, dulu kami sering bertengkar tentang siapa yang harus memimpin. Tapi sekarang, saya rasa yang paling penting adalah bagaimana kami bisa hidup bersama dengan lebih baik.”

Rania mengangguk, merasa bahwa meskipun tidak ada solusi instan, setiap langkah kecil yang diambil akan membuahkan hasil. Ia berdoa agar persatuan ini terus berkembang, meskipun tantangan masih ada di depan mereka.

Ustaz Salman dan Hikmah dari Al-Qur'an

Ustaz Salman, yang selalu menjadi teladan di mushala, kali ini mengajak jamaah untuk lebih mendalami arti persatuan dalam Islam. Di tengah perbedaan, ia mengingatkan mereka untuk tidak terjebak dalam politik praktis yang bisa mengancam persaudaraan.

“Dalam hidup ini, kita tidak bisa selalu memilih siapa yang akan berada di sisi kita, tetapi kita bisa memilih bagaimana kita berperilaku terhadap orang lain. Allah mengajarkan kita untuk memaafkan, untuk saling memahami, dan untuk menjaga ukhuwah di antara sesama,” ujar Ustaz Salman saat khutbah.

Rania yang mendengarkan dengan seksama merasakan betapa pentingnya pesan ini. Ia tidak bisa mengubah dunia dalam sekejap, tetapi ia bisa memulai dengan dirinya sendiri, dengan mengubah cara pandangnya terhadap orang lain, bahkan jika mereka berbeda pendapat.

Karangjati dan Persatuan yang Diperjuangkan

Meski jalan menuju perdamaian masih terjal, perubahan kecil di Karangjati mulai terlihat. Ibrahim, yang tetap fokus pada program-program yang dapat menyatukan warga, berhasil merancang beberapa proyek yang melibatkan seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang politik. Salah satu proyek besar adalah pembangunan taman desa yang melibatkan semua elemen masyarakat.

Siti, anak Rania, turut serta dalam proyek tersebut bersama teman-temannya. Mereka menanam bunga dan pohon di sekitar taman, bekerja bersama warga yang sebelumnya terpecah. Meskipun ada kekhawatiran dari beberapa pihak, mereka mulai merasakan bahwa kolaborasi ini bisa membawa dampak positif.

Rania melihat anaknya yang sibuk menanam pohon dengan riang, merasa bahwa ada harapan baru yang tumbuh di desa ini. “Mungkin, seperti pohon-pohon ini, kedamaian pun akan tumbuh, perlahan tapi pasti,” pikirnya.


Akhir Seri 17: Langkah Kecil Menuju Harapan Besar

Meskipun Karangjati belum sepenuhnya sembuh dari luka-luka perpecahan, ada tanda-tanda bahwa mereka mulai bergerak menuju persatuan yang lebih solid. Ibrahim dan Rania, bersama dengan warga desa yang lain, terus bekerja keras untuk membangun kembali yang retak, dengan harapan bahwa suatu hari nanti, semua itu akan menjadi kenangan tentang bagaimana mereka berhasil melalui ujian dan bangkit kembali bersama.

Bersambung ke Seri 18: Menatap Masa Depan dengan Penuh Harapan

Komentar