Cerpen: Di Balik Senyum Henri
ASKARA - Hujan deras membasahi kota. Henri duduk di teras rumahnya, menatap kosong ke jalanan basah. Kedua matanya redup, seolah menyimpan beban yang tak terlihat. Ponselnya berkedip-kedip, notifikasi dari media sosial berdatangan. Di layar, ada foto seorang anak muda yang baru saja mengakhiri hidupnya. Komentar netizen beragam—ada yang berduka, ada pula yang mencemooh.
Henri menarik napas panjang. Dunia digital seakan menelannya bulat-bulat. Hidupnya dikelilingi pencitraan, kepalsuan, dan standar kebahagiaan yang dipaksakan. Di media sosial, ia dikenal sebagai anak muda yang ceria, sukses, dan penuh motivasi. Tapi, hanya ia yang tahu kebenarannya. Di balik senyumnya, ada luka yang dalam.
Sejak kecil, Henri selalu berusaha memenuhi ekspektasi orang lain. Ayahnya seorang pengusaha sukses yang menginginkannya menjadi penerus. Ibunya, sosialita yang bangga memperkenalkan putranya sebagai anak berprestasi. Namun, di balik pencapaian yang dipamerkan ke publik, Henri merasa hampa.
"Ayah bangga sama kamu," ujar sang ayah saat Henri memenangkan lomba bisnis tingkat nasional. Tapi kebanggaan itu hanya bertahan sebentar, sebelum ayahnya kembali sibuk dengan pekerjaan.
Di sekolah, Henri populer. Banyak teman yang mengajaknya nongkrong, tetapi hanya sedikit yang benar-benar mengenalnya. Setiap keluh kesahnya sering dijawab dengan, "Udah lah, hidup lo udah enak, jangan banyak ngeluh."
Tak ada yang tahu betapa kesepiannya ia.
Satu-satunya orang yang bisa memahami Henri adalah Fajar. Mereka berteman sejak kecil, tumbuh bersama. Fajar bukan orang kaya, tetapi ia punya sesuatu yang Henri rindukan—ketenangan.
"Lo tuh kayak hidup di dua dunia, Hen," ujar Fajar suatu malam saat mereka duduk di rooftop gedung kampus. "Satu dunia yang lo tunjukin ke orang lain, satu lagi dunia yang lo pendam sendiri."
Henri hanya tersenyum. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya, apakah ada orang yang benar-benar mengenalnya?
Lama-lama, perasaan kosong itu semakin menyesakkan. Kelelahan mental yang ia pendam berubah menjadi gangguan tidur, kecemasan berlebihan, bahkan pikiran-pikiran gelap.
Semua meledak saat bisnis startup yang ia bangun dengan susah payah mengalami kegagalan. Media sosial yang dulu memujanya kini berubah menjadi neraka. Komentar penuh hinaan dan cemoohan membanjiri akun-akunnya.
"Anak orang kaya, gagal sedikit langsung drama!"
"Makanya jangan sombong!"
"Udah lah, berhenti aja! Lo bukan siapa-siapa!"
Henri menatap komentar itu satu per satu. Tangannya gemetar. Hatinya terasa seperti diiris.
Malam itu, ia mengirim pesan suara kepada Fajar. Suaranya berat, penuh kepedihan.
"Jar, gue capek..."
Fajar yang saat itu sedang sibuk dengan pekerjaannya tak langsung mendengar pesan itu.
Keesokan paginya, berita tentang Henri memenuhi media sosial.
"Seorang mahasiswa berprestasi ditemukan tak bernyawa di kamarnya."
Fajar membaca berita itu dengan tangan bergetar. Air matanya jatuh tanpa ia sadari.
Ia segera membuka pesan suara yang dikirim Henri semalam. Suara sahabatnya yang terdengar lirih kini terasa seperti teriakan terakhir yang meminta tolong.
Fajar terjatuh berlutut. Hatinya penuh sesal.
"Mengapa aku tidak segera mendengarkan?"
Pemakaman Henri dihadiri banyak orang. Teman-temannya, keluarganya, bahkan orang-orang yang dulu mencibirnya kini datang dengan wajah duka.
Di antara pelayat, Fajar berdiri diam. Dalam hatinya, ia berjanji untuk tidak membiarkan hal ini terjadi pada orang lain.
Dunia telah kehilangan satu lagi jiwa yang seharusnya bisa diselamatkan.
Sementara itu, media sosial kembali ramai. Orang-orang membicarakan Henri, menyesali kepergiannya, namun tak lama kemudian, dunia kembali berjalan seperti biasa.
Hanya orang-orang terdekatnya yang benar-benar merasakan kehilangan itu.
Hanya Fajar yang setiap malam masih membuka pesan suara terakhir Henri, bertanya-tanya, "Bagaimana jika aku bisa menolongnya?" (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar