Cerita Bersambung Seri 4: Badai di Balik Kampanye
Oleh: Dwi Taufan Hidayat
ASKARA - Matahari pagi memancar hangat di desa Karangjati, tetapi hawa di antara warga tidak lagi sama. Pemilihan kepala desa yang semakin dekat memicu gelombang intrik yang kian terasa. Kampanye kedua calon, Pak Hadi dan Pak Arifin, mulai memasuki tahap yang lebih intens. Tidak hanya janji-janji yang beredar, tetapi juga isu-isu yang merusak.
Di mushala Al-Hidayah, suasana aktivitas pagi hari mulai terpecah. Ibu-ibu yang biasanya sibuk bersama kini terbagi dalam dua kelompok. Di salah satu sudut, Bu Ratna terlihat bersemangat mendiskusikan rencana penggalangan dana bersama kelompok pendukung Hadi.
“Kita harus buat acara yang meriah. Kalau warga melihat dukungan Pak Hadi di mushala ini, mereka pasti semakin yakin untuk memilihnya,” ujar Bu Ratna dengan senyum penuh percaya diri.
Namun, di sudut lain, Bu Lina dan beberapa ibu lain terlihat sibuk merencanakan kegiatan bersih-bersih mushala. “Bu Ratna itu terlalu sibuk politik. Mushala ini tempat ibadah, bukan panggung kampanye,” gumam salah satu dari mereka.
---
Ibrahim dan Pilihan yang Semakin Berat
Sementara itu, Ibrahim duduk bersama Pak Surya dan beberapa tokoh masyarakat di teras mushala. Pembahasan mereka mengarah pada semakin tajamnya perpecahan di desa.
“Pak Ibrahim, apa tidak sebaiknya kita ambil sikap tegas? Kalau kita tetap diam, orang-orang seperti Pak Hasan dan Bu Ratna akan menguasai mushala ini,” kata Pak Surya.
Ibrahim menggeleng pelan. “Saya tidak ingin mushala ini kehilangan maknanya sebagai tempat persatuan. Kalau kita ikut terpecah, siapa yang akan menjaga mushala ini tetap netral?”
Pak Surya terdiam, meski dalam hatinya ia merasa sikap Ibrahim terlalu lunak. Di tengah percakapan itu, Ustaz Salman datang menghampiri dengan wajah lelah.
“Kita tidak bisa memaksakan semua orang berpikir sama, Pak Surya, Pak Ibrahim. Tapi yang bisa kita lakukan adalah mengingatkan mereka untuk tetap menjaga ukhuwah,” ujar Ustaz Salman.
Namun, Ibrahim tahu bahwa ukhuwah semakin sulit dijaga ketika masing-masing pihak mulai mengutamakan kepentingan mereka sendiri.
---
Kampanye yang Memanas
Di sisi lain desa, Pak Hadi mengadakan acara penggalangan dana besar-besaran. Dengan dukungan beberapa tokoh masyarakat, acara itu dihadiri oleh banyak warga, termasuk sebagian pengurus mushala. Panggung besar dihias megah, lengkap dengan spanduk bertuliskan: “Bersama Hadi, Karangjati Lebih Maju!”
Bu Ratna yang menjadi koordinator acara tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia naik ke panggung dan berbicara dengan penuh semangat.
“Kita butuh pemimpin yang berani membawa perubahan! Pak Hadi telah berkomitmen untuk mendukung mushala kita, koperasi kita, dan seluruh warga Karangjati!”
Sorakan warga menggema, tetapi di antara kerumunan itu, Rania merasa tidak nyaman. Ia hadir atas ajakan Bu Ratna, tetapi suasana yang lebih menyerupai kampanye politik dibandingkan acara kemasyarakatan membuatnya ragu.
Sementara itu, di rumah Pak Arifin, suasana jauh lebih sederhana. Ia memilih mendatangi warga dari rumah ke rumah, berbicara langsung tanpa janji besar. Beberapa pendukungnya mulai khawatir bahwa pendekatan ini tidak cukup kuat untuk melawan strategi Hadi yang lebih gemilang.
“Pak Arifin, kita tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan sederhana. Warga lebih tertarik pada janji-janji besar,” ujar salah satu tim suksesnya.
Namun, Pak Arifin tetap teguh. “Saya tidak mau berjanji yang tidak bisa saya tepati. Biar Allah yang menentukan hasilnya.”
---
Intrik yang Merambah Mushala
Malam itu, mushala Al-Hidayah mengadakan pertemuan warga untuk membahas persiapan acara Maulid Nabi. Tapi, diskusi itu tidak berjalan mulus. Beberapa warga mulai mempertanyakan penggunaan dana mushala, mengaitkannya dengan isu politik.
“Saya dengar, sebagian dana mushala digunakan untuk acara Pak Hadi. Apa itu benar?” tanya salah satu warga dengan nada sinis.
Pak Hasan yang hadir dalam pertemuan itu langsung membantah. “Itu fitnah! Dana mushala hanya untuk kegiatan mushala. Jangan mudah percaya dengan isu!”
Namun, tuduhan itu sudah terlanjur menimbulkan keraguan di hati banyak warga. Beberapa mulai saling berbisik, membahas kemungkinan adanya penyimpangan. Di tengah situasi itu, Ustaz Salman berdiri dan berbicara dengan tegas.
“Saudara-saudaraku, kita semua bersaudara. Jangan biarkan isu dan fitnah memecah belah kita. Kalau ada yang meragukan transparansi dana mushala, kita bisa bahas bersama dengan kepala dingin.”
Kata-kata itu berhasil meredakan ketegangan untuk sementara. Tetapi di luar mushala, bisikan-bisikan curiga terus berlanjut.
---
Akhir Seri 4: Pertemuan Rahasia
Di tengah malam yang sunyi, Bu Ratna mengadakan pertemuan tertutup di rumahnya bersama beberapa pendukung Hadi. Di sana, mereka merencanakan strategi baru untuk memastikan dukungan penuh dari mushala Al-Hidayah.
“Kita harus pastikan mushala ini mendukung Pak Hadi secara terang-terangan. Kalau perlu, kita ajak pengurus mushala untuk bekerja sama,” ujarnya.
Sementara itu, di rumahnya, Ibrahim merasa resah. Ia tahu bahwa gelombang intrik ini tidak hanya mengancam mushala, tetapi juga hubungan antarwarga yang sudah lama terjalin.
“Mas, apa semua ini akan berakhir dengan baik?” tanya Rania dengan suara pelan.
Ibrahim tidak menjawab. Ia hanya memandang ke arah mushala yang terlihat samar di kejauhan, seakan-akan tempat itu menjadi saksi dari badai yang semakin mendekat.
**Bersambung ke Seri 5: Ketegangan

Komentar