Menaklukkan Zafran, Kesabaran adalah Kunci
Oleh: Tb Adhi
TUHAN selalu punya cara untuk membuat kita bahagia.
-19 Agustus 2021: Ia memanggil pulang belahan jiwa, istri tercinta, RR. Yudansha Azrina (Deci)
-November 2021: Rt.Delasara Irwinda Adhi Putri, atau Dela, anak kedua kami, diketahui positif hamil. Nikmat mana lagi yang lebih baik dari ini?
Kehamilan Dela mengakhiri penantian melelahkan lebih dari tiga tahun, pasca pernikahannya dengan Reza Rizki Arjai (Reza) pada 1 Desember 2018.
-1 Oktober 2022: Dela masuk ruang observasi RSPI Bintaro Jaya pkl 06.00 WIB.
*Pkl 06.30 WIB:, Dibawa ke Ruang Operasi.
*Pkl 06.48 WIB: Tangisan pertama Zaffran Deza Azzaki, disusul azan ayahnya, Reza Rizky Arjai.
*Zafran Dezza Azzaki, berat 2, 978 gram, panjang 47 cm.
-Cara aneh Tuhan untuk membuat kita tetap bahagia tak pernah terduga. Deci pergi, Tuhan menghadirkan cucunya. Inilah bagian dari dinamika kehidupan. Ada yang datang, mengganti yang pergi.
Al Fatihah untuk almarhumah istriku.
-Sehat selalu untuk anak-anak dan menantuku; Tb.Aditya Rangga Nugraha (Huga), Rt.Delasara Irwinda Adhi Putri, Reza Rizki Arjai. InsyaAllah keluarga kecil kita tetap bahagia.
-13 Maret 2023, di usia lima bulan, Zafran Deza Azaki menjejak tanah suci. Dia dibawa umroh oleh kedua orangtuanya, juga nenek Ida Naida, ibunda Reza.
Zafran menjadi jamaah umroh termuda kala itu. Tak mengherankan jika dia menjadi kesayangan satu pesawat, termasuk para pramugari yang bergantian melihat keadaanya.
Sepanjang penerbangan, bahkan selama sekitar 11 hari di Mekah dan Madinah, dia tak pernah menangis, apalagi sakit. Bahkan ketika mamahnya agak demam sekembali ke tanah air, Zafran tetap bugar.
Abang haji Zafran Deza Azaky sudah membuat prestasi tersendiri.
*****
SETELAH menikah Dela langsung tinggal bersama suaminya di daerah Kreo, Tangerang. Mereka sudah menabung dan membangun rumah di lingkungan keluarga besar suaminya yang asli dari sana. Namun, mereka tetap berusaha menyenangkan kami, terutama tentu mamahnya. Mereka menyambangi kami ke Rumah Ciputat setiap akhir pekan.
Dela dan Reza tetap bekerja. Meski begitu, Dela sering menyatakan pada mamahnya jika mereka tidak sengaja bermaksud menahan diri untuk tidak langsung punya momongan. Dalam hitungan bulan, bilangan tahun, mamahnya juga tidak pernah sekali pun bertanya mengenai kemungkinan kehamilannya. Mamahnya juga selalu melarang saya untuk menanyakan hal itu.
"Jangan tanya-tanya. Kasihan. Nanti mereka tersinggung," begitu mamahya sering mengingatkan saya.
Saat mamahnya sakit, diabetes, dan harus bolak-balik menjalani perawatan, Dela dan Reza hampir setiap malam menemani tidur di rumah sakit, saya dan kakaknya bergantian berjaga pagi hingga sore.
Kondisi mamahnya tidak kunjung membaik setelah lebih dari 30 hari dirawat di RS Siloam Lebak Bulus. Bermula dari diabetes namun kemudian merambah ke mana-mana, pecahnya pembuluh darah di otak, stroke, sebelum Tuhan memanggilnya pulang. Saat berpulang, Huga dan Dela berada di samping mamahnya. Itu di hari kedua kepindahan perawatannya ke RS Fatmawati.
Bulan-bulan pertama setelah kepergian mamahnya Huga kerap menangis. Ia merasa menyesal karena belum bisa membahagiakan mamahnya. Saya sering menghibur dia. Mengingatkan padanya bahwa dia sudah sangat menyenangkan hati mamahnya dengan memberangkatkannya umroh setahun sebelum diabetesnya kronis.
Sekarang sudah masuk Bulan Radjab. Tak lama lagi Ramadhan. Ini akan menjadi ramadhan keempat yang saya dan Huga jalani, setelah 2022, 2023 dan 2024.
Semoga Tuhan masih memberi kesempatan kepada kami untuk dapat menemui Ramadhan.
*****
SUATU kali Dela pernah membuat saya terhenyak. "Papah mau menikah lagi? Kata Aa papah punya pacar. Nggak apa-apa sih. Ade sama Aa nggak keberatan kok," katanya, di tepi ranjang perawatan RS Mayapada, Serpong, pertengahan 2023.
Saat itu saya baru menjalani operasi jantung dan pemasangan ring yang kedua. Entah mengapa dia mengatakan itu. Mungkin saja sekadar merasa kasihan. Mungkin juga kakaknya yang cerita macam-macam, misalnya menyebut saya banyak merenung dan sering sakit.
Yang jelas wajah saya terasa memerah. Malu, jengah, sama sekali tak menyangka ada pertanyaan seperti itu dari Dela. Namun, saya masih sepenuhnya sadar saat menjawab dengan spontan. "Ah, nggak. Papah masih sayang sama mamah. Papah sayang sama keluarga kecil kita. Apalagi sekarang ada abang Zafran."
Dela tersenyum."Ya udah kalau begitu. Terserah papah ajah. Ade sama Aa nggak masalah kok," kata Dela lagi.
Itu percakapan pertama sekaligus terakhir. Omongan terkait hal itu tak pernah lagi terjadi. Hingga detik ini.
Begitu pun saya happy-happy saja. Saya sanggah dengan keras saat sebagian teman bilang jika saya tak bisa 'move on'. Walau demikian, sebagian dari teman-teman yang mengenal saya dengan baik mungkin merasa salut juga karena ternyata saya bisa bertahan sekian lama.
Mungkin karena saya ternyata sangat mencintai keluarga saya. Itu yang membuat saya senantiasa merasa aman dan nyaman saja. Saya selalu merasa harus melindungi dan menjaga keselamatan keluarga kecil saya, dan karenanya harus berbagi pikiran dan perasaan.
Cinta keluarga menjadi fondasi penting bagi kebahagiaan hidup. Saya beruntung masih menjalani sisa-sisa bonus dari perjalanan kehidupan saya. Namun, saya masih memiliki dua anak, seorang menantu, dan seorang cucu yang meningkatkan semangat hidup saya.
*****
ZAFRAN DEZA AZAKY menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan, membawa kegembiraan dan kebanggaan. Dia adalah anugerah yang tak ternilai, penghibur hati, dan penyemangat hidup.
Semoga Zafran terus tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, berakhlak baik dan kelak dermawan. Tangguh dan kuat dalam menapaki fase-fase kehidupan.
Demikianlah. Saya dan juga Huga juga terus menjalani kehidupan. Pada pergantian 2024 ke 2025, saya dan Huga menikmatinya di rumah saja berdua. Beberapa hari menjelang pergantian tahun Keluarga Kreo sudah pamit ke luar kota.
Rabu pagi, di awal 2025 itu, saya sedang mandi ketika Huga berteriak dari luar. "Nyusul si abang yuuuk!"
"Gaaaass," saya menjawab spontan.
Dalam perjalanan, di tol Jagorawi, saya hubungi Dela.
"De, papah sama Aa nyusul neeeh. Kita dah di tol Jagorawi," kata saya dengan nada riang.
Jawabannya tidak seperti yang saya bayangkan, dari kejauhan suara Dela terdengar tidak menyenangkan.
"Ngapain siih nyusul? Ade kan pengen bertiga ajah. Lagian kan udah Ade kasih pegangan buat tahun baruan," seru Dela nun jauh di Cimahi.
Sambungan telepon terputus. Saya jadi salting sendiri. Huga, yang paham watak adiknya, tersenyum sendiri.
Saya bilang akhirnya, lewat pesan WA. Nggak kok. Nggak nyusul. Kita mau makan sate maranggi di Cikampek. Saya kirim seperti itu.
Kami melanjutkan perjalanan dalam diam. Ada beberapa menit seperti itu sebelum dering telepon memecahkan kebisuan. Dela.
"Ya, udah, kalau mau ke sini datang aja. Ade baru mau makan di kota, nanti ade shareloc tempatnya.
Nyesss.
Sirna sudah rasa gundah.
Jadilah akhirnya saya dan Huga mengisi hari pertama 2025 bersama Reza, Dela, Zafran dan Diaz, salah seorang keponakan saya yang juga sepupu Dela.
Itu menjadi hari yang benar-benar sangat berkualitas untuk saya dan Zafran.
"Opa, opa," kata Zafran melalui video call malam tadi.
Seminggu terakhir ini kami semakin dekat. Dia sudah tidak menolak lagi jika saya hendak menggendongnya. Karena tidak setiap hari bertemu, saya harus bersabar untuk menaklukkan hatinya.
Berbeda sikapnya terhadap kakek dan nenek Kreo. Zafran sudah akrab dengan ayah dan ibu Reza yang tinggal berdekatan. Pada hari-hari kerja Zafran dititipkan di sana.
Saya selalu mencoba berbesar hati.
Kesabaran adalah kunci...

Komentar