Kamis, 18 Juni 2026 | 00:40
OPINI

Pendidikan: Stigma Kota dan Desa

Pendidikan: Stigma Kota dan Desa
Ilustrasi pendidikan di desa (Dok Pixabay)

Oleh: Maimunah

Mahasiswa Pendidikan Sejarah Univ. Lampung

ASKARA - Kota dan desa dalam lingkup kehidupan sosial sering kali dianggap sebagai dua realitas yang berlawanan, dengan perbedaan yang mencakup kebiasaan, watak, sumber daya manusia, sumber daya alam, makanan, dan berbagai aspek lainnya. Perdebatan mengenai perbedaan kehidupan di kota dan desa kerap terdengar, baik di lingkungan perkotaan maupun pedesaan, dengan beragam perspektif dan pandangan.

Dalam tulisan ini, saya akan menyampaikan gagasan dan pandangan saya mengenai kehidupan di kota dan desa, terutama terkait stigma dan pemikiran yang berkembang di masyarakat pedesaan tempat tinggal saya. Masyarakat di desa saya masih cenderung berpandangan negatif terhadap remaja perempuan yang melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah atau perguruan tinggi. Pandangan ini bahkan berlanjut pada anggapan terhadap pekerjaan yang mereka pilih.

Menurut saya, pandangan seperti ini tidak etis dan menunjukkan sikap kolot yang belum mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Di desa, seorang remaja perempuan sering kali dinilai baik bukan dari segi pendidikan atau pekerjaan, melainkan dari seberapa cepat ia menikah setelah menginjak usia 18-20 tahun. Pertanyaan yang kerap muncul adalah: menikah dengan siapa, apakah pasangannya kaya, dan seberapa cepat mereka punya anak. Sementara itu, remaja perempuan yang berusaha mengejar pendidikan atau bekerja sering kali dicemooh dan dianggap menyusahkan orang tua.

Kalimat-kalimat seperti: “Ngapain sekolah, cewek lagi? Mending cari duit. Ngebebanin bapak-emak aja!” masih sering terdengar. Hal ini, menurut saya, tidak hanya membebani pikiran orang tua, tetapi juga mempengaruhi psikologis anak perempuan yang bertekad untuk mengejar pendidikan.

Saya pribadi merasakan pengalaman ini. Sejak memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, saya sering menerima cemoohan dan pertanyaan yang menyudutkan. Contoh komentar seperti: “Kapan lulus? Kok lama banget sih? Berapa puluh juta lagi biayanya?” membuat saya merasa terbebani. Akibatnya, saya sering merasa kurang nyaman setiap kali libur tiba dan harus pulang ke desa. Bukan karena saya tidak suka pulang ke rumah, tetapi karena malas mendengar pertanyaan-pertanyaan yang meragukan langkah yang saya ambil.

Pengalaman ini sangat berbeda dengan kehidupan di kota yang telah saya jalani selama hampir tiga tahun. Di kota, justru terlihat aneh jika seseorang tidak melanjutkan pendidikan. Masyarakat kota cenderung lebih individualis dan tidak terlalu mencampuri urusan pribadi orang lain.

Tulisan ini dituangkan berdasarkan pandangan dan pengalaman pribadi saya. Pada akhirnya, baik kehidupan di desa maupun di kota memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Perspektif yang beragam ini membentuk paradigma kehidupan sosial yang berbeda. Di era yang semakin terhubung secara luas, kita perlu memahami kedua lingkungan ini agar dapat menciptakan keseimbangan dalam kehidupan sosial.

 

 

Komentar