Menunggu Fajar Pembawa Harapan
ASKARA - Tokoh masyarakat Papua Selatan, Johanes Gluba Gebze, menyampaikan refleksi mendalam tentang harapan dalam tulisannya yang puitis dan penuh makna. Ia menggambarkan penantian akan fajar sebagai perjalanan menuju kebangkitan yang membawa harapan baru bagi negeri.
"Menunggu fajar pembawa harapan itu terbit seperti pesona indah yang sedang bergulir di bibir cakrawala. Meskipun pelan tetapi pasti akan tiba mencapai puncak langit tertinggi, menyinari seluruh jagat yang tadi masih dibalut kelam," tulis Johanes dengan penuh keyakinan, Jumat (29/11).
Menurutnya, fajar adalah simbol harapan dan jawaban dari penantian panjang. Namun, ia menyadari bahwa kehadiran harapan itu membutuhkan kesabaran dan keteguhan hati. Johanes menyampaikan bahwa jika jawaban belum tiba, maka penantian itu akan terus berlangsung.
"Jikapun belum, kami akan menunggu di titik negeri ini sampai senyuman lebar suka cita itu tiba," ujarnya, menggambarkan betapa besar keinginan masyarakat untuk melihat kebangkitan dan kebahagiaan di tanah air mereka.
Ia juga menyoroti suasana fajar pagi yang masih hening, tanpa tanda kehadiran Sang Pangeran Negeri yang dinantikan. Bagi Johanes, keheningan itu adalah simbol bahwa harapan masih dalam perjalanan menuju negeri ini.
"Fajar pagi ini belum ada tepukan yang terdengar bersama kicauan bertalu-talu burung pagi dan kokokan ayam. Berarti, Sang Pangeran Negeri belum tiba di fajar pagi hari ini. Sampai nanti, sampai Putera Mahkota Negeri tiba," tutupnya, mengajak masyarakat untuk tetap percaya bahwa harapan akan tiba pada waktunya.

Komentar