Prof Rokhmin Dahuri Dorong Indonesia Menjadi Produsen Dan Pengekspor Terbesar Ikan Nila
ASKARA - Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan - IPB University, Prof. Dr. Rokhmin Dahuri, MS menjadi pembicara pada acara Discussion Forum Indonesia Tilapia Blue Food “Budidaya Tilapia: Sumber Protein untuk Ketahanan Pangan dan Pasar Global”
yang diselenggarakan Regal Springs Indonesia di Jakarta, Kamis, 28 Nov 2024.
Pada acara ini, Prof. Rokhmin Dahuri menyampaikan materi bertajuk “Peningkatan Kontribusi Usaha Budidaya Dan Industri Pengolahan Ikan Nila Bagi Ketahanan Pangan, Kualitas SDM, Dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Secara Berkelanjutan".
Dalam paparannya, Prof Rokhmin Dahuri menekankan pentingnya budidaya Tilapia sebagai salah satu solusi utama untuk meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia.
"Tilapia, dengan kandungan protein yang tinggi dan kemudahan budidayanya, memiliki potensi besar untuk menjadi sumber protein yang berkelanjutan," ujarnya.
Kemudian, Prof Rokhmin Dahuri memberikan solusi bagaimana meningkatkan kontribusi usaha budidaya dan industri pengolahan Tilapia/Ikan Nila untuk tiga hal.
"Pertama, peningkatan gizi, kedua peningkatan kualitas SDM dan ketiga, bagaimana memacu ekonomi growth sampai 8 persen," ujarnya.
Bahwa, katanya, kontribusi Ikan Nilai sudah besar, bahkan bisnis Tilapia/Ikan Nila sangat menguntungkan karena seluruh bagian tubuhnya dapat dimanfaatkan (zero waste) dan bernilai jual.
"Mari kita pacu Indonesia menjadi produsen dan pengekspor terbesar Ikan Nila," tegasnya.

Kontribusi Budidaya Tilapia
Selanjutnya, anggota Komisi 4 DPR RI 2024 – 2029 tersebut menyoroti kontribusi budidaya tilapia terhadap perekonomian lokal. "Usaha budidaya tilapia, khususnya di daerah Sumatera Utara seperti di Danau Toba, telah memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat," terangnya.
Meskipun demikian, Prof. Rokhmin Dahuri juga mengakui tantangan yang dihadapi dalam pengembangan sektor budidaya tilapia. Untuk itu, ia menekankan pentingnya penerapan teknologi dan praktik budidaya yang berkelanjutan untuk mengatasi masalah-masalah seperti serangan penyakit dan keterbatasan pasokan pakan berkualitas.
Bagaimana peran usaha budidaya dan industri pengolahan ikan nila dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045?
Lalu, ia memaparkan, ada 6 syarat sebuah negara bisa menjadi negara maju dan makmur, yaitu:
1. Pertumbuhan ekonomi rata rata 7 - 8 % per tahun
Untuk full employment dengan income yang mensejahterakan secara berkeadilan.
Pertumbuhan ekonomi berkualitas, inklusif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
2. Swasembada pangan
Produksi nasional > Konsumsi nasional
Setiap warga negara di seluruh wilayah NKRI mampu mendapatkan pangan bergizi dan sehat dengan jumlah mencukupi setiap saat.
"Bung Karno pernah berpidato dalam peletakan batu pertama pembangunan IPB, bahwa pangan adalah hidup matinya sebuah bangsa. Dan tahun 2000 penelitian FAO bahwa negara dengan penduduk lebih dari 100 juta yang pangannya tergantung dari impor itu impossible," tuturnya.
Menurutnya, indikator dari swasembada pangan produksinya lebih besar daripada konsumsi.

3. Swasembada energi
Produksi nasional > Kebutuhan nasional
Transisi energi, dari energi fosil ke energi bersih dan terbarukan sesuai target emisi GRK - NDC.
4. Ekonomi dan industri manufaktur berbasis inovatif
Transformasi Struktural Ekonomi: dari berbasis SDA dan buruh murah ke berbasis industri manufaktur dan inovasi.
Kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB > 30%
5. Peningkatan kualitas SDM
Peningkatan IPM, dari 71 menjadi 90; Nilai PISA; Daya Inovasi; dan Produktivitas.
Pengurangan angka stunting dan gizi buruk
Peningkatan pelayanan Kesehatan, Pendidikan, Pelatihan & Penyuluhan, R & D, dan Agama
6. Good government & Polhukam kondusif
Pemerintahan yang smart, clean, professional, efisien, transparan, akuntabel, partsipatif, dan melayani.
Kehidupan berbangsa yang meritokratif, demokratis, stabil, dan damai.
Selanjutnya, Prof Rokhmin Dahuri menguraikan terkait kontribusi usaha budidaya dan industri pengolahan ikan nila bagi kualitas SDM DAN perekonomian bangsa Indonesia. Antara lain:
Sekitar 60% total asupan protein hewani yang dikonsumsi rakyat Indonesia berasal dari ikan (Litbang Kemenkes, 2018).
Kandungan gizi ikan nila yang kaya protein (20%), omega-3, vitamin D, vitamin A, zinc, zat besi, kalsium, dan mikro nutrien lainnya membuat ikan nila sangat bagus untuk kesehatan dan kecerdasan manusia (kualitas SDM) yang mengkonsumsinya.

Pada 2023, dari total produksi ikan Indonesia sebesar 5,487 juta ton; 1,369 juta ton (25%) berupa ikan nila. Dengan volume produksi 1,369 juta ton, ikan nila menempati peringkat-1, disusul oleh ikan lele 1,137 juta ton dan udang sebesar 821.060 ton.
Indonesia merupakan produsen ikan nila terbesar kedua di dunia (26% total produksi dunia), setelah China.
Pada 2023 sekitar 99,2% produksi ikan nila untuk memenuhi pasar domestik (nasional), hanya 0,8% (11.166 ton) yang diekspor, dengan nilai USD 82 juta (Rp 1,3 trilyun).
"Banyak menyerap tenaga kerja dan menghasilkan multiplier effects yang luas," terang Ketua Umum MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia) itu.
Diantara Top 10 komoditas ekspor produk perikanan nasional 2023, ungkap Prof Rokhmin Dahuri, ternyata Tilapia/Nila berada diurutan ke-8 dengan kontribusi terhadap total ekspor perikanan sebesar 1,45%.
Dari sisi ekspor, China dominan dengan nilai mencapai USD 268 juta dan langsa pasar sebesar 33,2% di tahun 2022. Meskipun begitu pertumbuhannya relatif moderator yakni hanya sekitar 2,8% dibandingkan tahun sebelumnya.
"Sedangkan Indonesia, pada periode sama nilai ekspornya hanya mencapai USD 79 juta dengan pertumbuhan yang cenderung meningkat yaitu mencapai 19%," ujarnya.

Selanjutnya, Ketua Dewan Pakar ASPEKSINDO (Asosiasi Pemerintah Daerah Pesisir dan Kepulauan se Indonesia) itu membeberkan kontribusi usaha budidaya Ikan KJA
di Danau Toba terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat
Propinsi Sumatera Utara. Antara lain:
Sekitar 90 % total volume dan 75% total nilai ekspor ikan Nila Indonesia berasal dari usaha KJA di Danau Toba. Dengan nilai Ekspor sebesar USD 100 Juta (Rp 1,5 trilyun) per tahun (KKP, 2019).
Menyediakan lapangan kerja: sekitar 2.500 orang pembudidaya (on farm); dan 12.500 orang yang bekerja di sektor hulu (pabrik pakan, alsintan, hatchery, dan lainnya), di sektor hilir (industri pengolahan filet ikan nila, pabrik es, cold storage, packaging, dan lainnya), rumah makan, hotel, transportasi, dan industri serta jasa terkait lainnya.
Menciptakan multiplier effects ekonomi yang cukup besar. Peningkatan ketahanan pangan dan status gizi masyarakat. Pemasok ikan nila yang lezat dan bergizi tinggi untuk wisatawan.
Mengurangi ketimpangan sosial-ekonomi antar wilayah dan antar kelompok penduduk. Produk filet kemasan Toba Tilapia menjadi yang terbaik di dunia, dan terlaris di pasar AS, Jepang, dan Uni Eropa (FAO, 2016).
Sementara itu, kontribusi ekonomi sektor pariwisata baru akan bisa menyamai kontribusi ekonomi sektor perikanan budidaya di Danau Toba saat ini, diperkirakan pada 2041 (Deltares dan Bank Dunia, 2017).
Pada kesempatan tersebut, anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pesisir dan Laut Pembangunan, Universitas Bremen, Jerman itu menyarankan strategi pembangunan budidaya dan industri pengolahan ikan nila yang produktif, efisien, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan

1. Menjaga, merevitalisasi, dan mengembangkan perusahaan-perusahaan ikan nila terpadu-berkelas dunia (seperti PT. Regal Spring dan PT. Suri Tani Pemuka), sehingga Indonesia menjadi pengekspor ikan nila (volume dan nilai) terbesar di dunia.
2. Revitalisasi seluruh unit usaha budidaya ikan nila rakyat, supaya lebih produktif, efisien (menguntungkan), berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan (sustainable) dengan menerapkan Good Aquaculture Practices (Cara-cara Budidaya Ikan Terbaik): (1) lokasi budidaya sesuai RTRW, (2) penggunaan benih unggul (SPF, SPR, dan fast growing) bersertifikat, (3) pakan berkualitas dan teknik pemberian pakan presisi (FCR rendah, bila mungkin FCR = 1), (4) teknologi budidaya mutakhir seperti RAS dan bioflock, (5) pengendalian hama & penyakit, (6) pengelolaan kuantitas dan kualitas air, dan (7) biosecurity.
3. Pengembangan usaha budidaya ikan nila di wilayah-wilayah (ekosistem) perairan baru (ekstensifikasi): danau, bendungan, sungai, sawah (mina padi), dan bekas tambak udang di Pantura, sesuai dengan Daya Dukung Lingkungan masing-masing wilayah.
4. Penguatan dan pengembangan industri pengolahan (manufacturing industry) dan kemasan ikan nila untuk menghasilkan produk hilir (finished products) baru yang berdaya saing tinggi, dan tanpa limbah (zero-waste).
5. Penguatan dan pengembangan usaha hatchery (pembenihan) untuk menghasilkan indukan (broodstocks) dan benih ikan nila unggul, dengan jumlah yang mencukupi usaha pembesaran ikan nila di seluruh wilayah NKRI.
6. Penguatan dan pengembangan industri pakan berkualitas tinggi, harga relatif murah, dan volume mencukupi.
7. Penguatan dan pengembangan sistem logistik dan rantai pasok secara terintegrasi.

8. Penguatan dan pengembangan infrastruktur, termasuk jaringan jalan, telkom, internet, listrik, dan air bersih.
9. Pengelolaan lingkungan perairan agar tidak tercemar.
10. Kerjasama saling menguntungkan antara perusahaan besar dan UMKM.
11. Kebijakan politik-ekonomi yang kondusif: moneter, fiskal, naker, iklim investasi, dan kemudahan berbisnis.
Fakta Nutrisi Ikan Nila (Tilapia), yaitu:
Setiap 100 gram ikan nila mengandung sekitar 20 gram protein. Dengan kandungan lemak yang rendah, ikan nila cocok untuk diet rendah lemak. Setiap 100 gram ikan nila mengandung sekitar 0,5 gram lemak dan 110 kkal.
Kaya Akan Vitamin D: Membantu menjaga kepadatan tulang yang sehat, mencegah osteoporosis,dan menguatkan fungsi otot.
Menguatkan sistem kekebalan tubuh: Dampak positif untuk kesehatan jantung, regulasi tekanan darah, dan perlindungan terhadap penyakit kronis (diabetes tipe 2 dan kanker).
Omega-3 Yang Tinggi: Menjaga kesehatan jantung (mengurangi tekanan darah dan trigliserida)
Mendukung kesehatan otak dan mata: Mengurangi peradangan dalam tubuh dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
"Saya mengajak semua pihak untuk terus memacu Indonesia menjadi produsen tilapia terbesar di dunia, dengan tujuan meningkatkan ketahanan pangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," kata Duta Besar Kehormatan Kepulauan Jeju dan Kota Metropolitan Busan, Korea Selatan itu

Komentar