Rabu, 22 Juli 2026 | 20:04
OPINI

Satu Jam Bersama Romo Mangun

Satu Jam Bersama Romo Mangun
Bersama Romo Mangun (Dok Rm Yos)
ASKARA - Tiga bulan sebelum wafatnya Romo Mangun pada 10 Februari 1999, saya bertemu beliau di Bandara Comoro, Dili, Timor Timur, pada awal Desember 1998. Saat itu, Romo Mangun menyapa saya dengan penuh kehangatan, “Lha iki, Romo Bintoro, aku arep omong karo kowe,” katanya sambil mengajak saya memasuki ruang tunggu setelah menunjukkan KTA kepada Provost TNI AU. Sementara itu, Romo Minarto, Pr dan Romo Agus, Pr, dua imam Diosis KAS yang berkarya di Paroki Turiskai, menunggu di lobi keberangkatan bandara.

Romo Mangun memulai pembicaraan dengan mengatakan, “Mbak Yu mu nang gon ku ora trimo adhine dikon Bapak Kardinal mlebhu dadi Rama tentara.” Kalimat itu membuka diskusi mendalam yang penuh emosi dan refleksi tentang pro dan kontra penugasan saya sebagai seorang pastor yang masuk menjadi perwira organik militer. Saya mengetahui bahwa Romo Mangun adalah salah satu tokoh Gereja Katolik yang paling vokal menolak imam tertahbis menjadi militer tulen, dengan alasan dualisme ketaatan.

Saat itu, saya merasa ini adalah kesempatan yang diberikan oleh providentia Dei untuk menyampaikan curahan hati serta alasan nurani saya kepada beliau. Saya menjelaskan bahwa penugasan saya adalah perutusan dari Uskup, meskipun sebelumnya Bapak Kardinal Julius Darmaatmaja, SJ, pernah mengundang Romo Mangun untuk membahas isu ini, tetapi beliau menolak hadir.

Untuk menjawab kekhawatiran Romo Mangun, saya mengutip tulisannya dalam buku Militer dan Kaum Bersenjata. Dalam buku itu, Romo Mangun menceritakan tentang beberapa jenderal Jerman lulusan Akademi Militer Prussia yang menolak perintah Hitler melakukan Holocaust. Mereka tetap memegang nilai-nilai kemanusiaan di atas perintah panglima tertinggi. Nilai-nilai ini, menurut saya, menunjukkan bahwa moralitas dan kemanusiaan dapat berjalan beriringan dengan tugas militer.

Saya pun berbagi pengalaman saat menjalani pelatihan di Akademi Militer Magelang, di mana saya tidak hanya belajar dasar-dasar militer, tetapi juga dibekali moralitas Saptamarga dan sejarah perjuangan TNI. Saya sampaikan kepada Romo Mangun bahwa TNI memiliki jati diri sebagai tentara rakyat, pejuang, nasionalis, dan profesional. Prinsipnya, tentara tidak boleh menyakiti hati rakyat dan harus membantu mengatasi kesulitan mereka. Karena itu, saya tidak melihat adanya konflik antara tugas saya sebagai imam dan tanggung jawab sebagai tentara.

Romo Mangun mendengarkan dengan seksama. Sebagai mantan Tentara Pelajar, ia menyebutkan bahwa dirinya terinspirasi oleh pidato Ignatius Slamet Riyadi di Ambarawa tahun 1948 tentang perjuangan yang tidak hanya fisik, tetapi juga moral dan spiritual. Saya pun mengutip pandangannya tentang ksatria: “Ksatria adalah mereka yang dengan ikhlas bahkan menerima kesialan dalam hidupnya.”

Pembicaraan kemudian bergeser ke situasi Timor Timur. Saya bertanya kepada Romo Mangun tentang kehadirannya di Baucau sebagai pembicara atas undangan Romo Marthino Gusmao, Pr, dengan tema Menjadi Manusia Merdeka. Saya khawatir tema tersebut provokatif. Namun, Romo Mangun justru balik bertanya, “Apa benar, Indonesia berhak atas kemerdekaan Timor Timur? Jangan sampai pemerintah Indonesia mengkhianati amanat konstitusi UUD 1945 alinea 2: ...bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa.”

Beliau menjelaskan bahwa rasa senasib dan sependeritaan dari penjajahan Belanda menjadi dasar keindonesiaan. Namun, Timor Timur yang dijajah Portugis memiliki suasana batin dan budaya yang berbeda. Maka, menurut Romo Mangun, wajar jika masyarakat Timor Timur menginginkan referendum untuk menentukan nasib mereka sendiri.

Percakapan kami terhenti ketika boarding announcement pesawat Garuda tujuan Bali diumumkan. Sebelum berpisah, Romo Mangun memberikan pesan mendalam: “Le…le, sakjane ciloko tenan kowe imam koq dadi soldadu... Ming aku seneng, sing dipilih Kardinal iku kowe. Mbok terusno yo, kowe tak pangestoni.”

Kata-kata itu terus terngiang di benak saya sebagai wasiat dari Romo Mangun, yang seakan memberi restu atas penugasan saya. Dengan penuh rasa syukur, saya membalas, “Romo Mangun, matur sembah nuwun, karena wejangan dan tulisan-tulisan Romo memberi keberanian kepada saya untuk menerima penugasan berat ini. Matur sembah nuwun saya dipun pangestoni.”

Empat belas hari sebelum beliau wafat, Presiden BJ Habibie, sahabat kuliahnya di Aachen, mengeluarkan maklumat tentang opsi pro-integrasi dan pro-kemerdekaan bagi Timor Timur pada 27 Januari 1999. Keputusan ini menjadi langkah penting dalam menentukan nasib Timor Timur, yang akhirnya melalui referendum pada 30 Agustus 1999 memilih untuk merdeka dari Indonesia.

Satu jam pertemuan di Bandara Comoro menjadi pengalaman tak terlupakan bersama sang idola. Romo Mangun bukan hanya seorang imam dan cendekiawan, tetapi juga inspirasi dalam perjalanan imamat saya. Beliau mengingatkan bahwa untuk menjadi ksatria sejati, kita harus berani memilih jalan sulit, tetap setia pada perutusan, dan senantiasa memohon kepada Tuhan agar memberikan kekuatan untuk menjalani panggilan hidup dengan penuh ketaatan hingga akhir hayat.

 

 

 
 

Komentar