Rabu, 22 Juli 2026 | 01:18
OPINI

Masjid Istiqlal Sarana Politisasi Agama-agama

Masjid Istiqlal Sarana Politisasi Agama-agama
Masjid Istiqlal (int)

Oleh Hasanuddin 

ASKARA - Bagi politisi "bertopeng agama", rumah ibadah seperti masjid, gereja, dan lain-lain itu hanya sarana untuk memperbaiki citra dimata umat beragama.

Tidak terkecuali masjid Istiqlal. Masjid Istiqlal didirikan di era Sukarno dalam satu desain tata ruang dengan Gereja Katedral yang bersebelahan dengan Masjid Istiqlal. Tujuannya tentu membangun opini publik bahwa pemeluk agama Islam dan Kristen bisa beribadah dengan tenang, di lokasi yang berdampingan. 

Mengapa ini dipandang penting oleh Bung Karno, tentu karena Bung Karno memahami betul bahwa agama Kristen masuk di Indonesia dibawah oleh Penjajah Portugis, maupun Belanda yang berkontribusi besar terhadap punahnya puluhan Kesulitan (Negara Islam) di Nusantara disertai rusaknya sistem sosial masyarakat akibat penjajahan. 

Dapat dipahami bahwa kehadiran Masjid Istiqlal yang didesain oleh seorang insinyur beragama Kristen itu, memang tujuannya dalam rangka normalisasi hubungan antara pemeluk agama Islam dengan pemeluk agama Kristen di Indonesia. 

Sukses, Bung Karno sukses mendamaikan umat Islam yang terjajah oleh umat Kristen di masa kolonial. 

Tentu saja semua itu "berkat Rahmat Allah SWT" sehingga umat Islam dapat memaafkan dan menerima kehadiran umat Kristen di Indonesia pasca Kemerdekaan. 

Berbeda dengan misalnya pengusiran, pembunuhan terhadap umat Islam di Eropa, pasca keruntuhan Ottoman Empire.

Kita patut bersyukur bahwa hubungan antar umat beragama di Indonesia sangat baik, meskipun belakangan ini sejumlah orang berpikiran picik mencoba merusak harmoni antar umat beragama dengan mempersoalkan penggunaan Jilbab. Bukan hanya dilakukan oleh pemilik usaha swasta, seperti Rumah Sakit Medistra yang sedang viral, namun juga disponsori oleh pemerintah pusat seperti yang baru-baru ini dalam kasus Paskibraka.

Tentu saja hal seperti itu sangat disayangkan.

Kunjungan Paus Fransiska ke Jakarta dalam waktu dekat, juga dijadwalkan mengunjungi Masjid Istiqlal. Tentu saja itu adalah "politisasi agama". Yang tujuannya tentu agar nampak bahwa pemimpin umat Katolik itu memiliki perhatian atas pentingnya keharmonisan antar umat beragama di Indonesia. 

Kita sambut baik jika demikian niatnya, karena tentu akan berdampak positif bagi para pemeluk agama-agama di tanah air. 

Kita berharap bahwa pasca kunjungan Paus, upaya mempersoalkan penggunaan jilbab misalnya seperti yang dilakukan Rumah Sakit Medistra itu, tidak semakin meluas. 

Bukan hanya Paus yang berkunjung ke Masjid Istiqlal, tapi sejumlah pemimpin negara Barat juga biasanya mengunjungi Masjid Istiqlal itu jika datang ke Jakarta. 

Kita mesti menerima tamu dengan baik, dan memahami bahwa memang Masjid Istiqlal itu adalah sarana politisasi agama. 

Bukan sekedar tempat Ibadah umat Islam, tapi arena bagi para politikus dalam mempolitisasi agama.

Komentar