Satpol PP Di Antara Razia dan Rumah yang Diperbaiki
ASKARA - Pagi itu, pelataran Masjid Istiqlal sudah ramai oleh langkah para peziarah. Di sela arus manusia yang datang dan pergi, Anah berdiri dengan beberapa bungkus tisu di tangan. Ia tak berteriak menawarkan, hanya mendekat perlahan, berharap ada yang membeli. Bagi banyak orang, ia mungkin hanya bagian kecil dari lanskap kota. Namun bagi dirinya, setiap lembar tisu adalah harapan makan hari itu.
Beberapa kali, harapan itu buyar oleh suara langkah tergesa dan seruan penertiban. Ketika petugas datang, Anah terbiasa bergerak cepat. Ada kalanya ia tak sempat menyelamatkan dagangannya. Tisu yang mestinya bisa ditukar dengan uang receh, justru berakhir di tempat sampah. Pengalaman dikejar dan kehilangan barang jualan bukan cerita sekali dua kali, melainkan bagian dari rutinitas yang melelahkan.
Kisahnya kemudian mencuat ke publik melalui laporan Kompas.com berjudul “Dulu Dikejar dan Dagangannya Dibuang, Anah Kini Dapat Bantuan Bedah Rumah Satpol PP” yang terbit pada 19 Februari 2026. Berita itu menuturkan bagaimana perempuan penjual tisu di sekitar Istiqlal tersebut kerap berhadapan dengan razia Satpol PP. Ia menjalani hari hari dengan ketidakpastian, antara berharap pembeli dan cemas akan penertiban.
Anah tinggal di rumah sederhana yang jauh dari kata layak. Dindingnya kusam, bagian tertentu rapuh dimakan usia. Atapnya tak selalu mampu menahan hujan deras. Di sanalah ia kembali setiap petang, setelah seharian berjibaku dengan panas, hujan, dan kemungkinan razia. Rumah itu bukan hanya tempat berteduh, melainkan saksi diam dari kerasnya hidup yang ia jalani.
Suatu hari, arah cerita berubah. Petugas yang biasa ditemuinya di ruang publik datang dengan maksud berbeda. Bukan untuk menertibkan, melainkan untuk membantu. Melalui iuran internal, anggota Satpol PP DKI Jakarta menggagas perbaikan rumah Anah. Dinding diperkuat, bagian yang rusak dibenahi, ruang sempit itu perlahan menjadi lebih layak dihuni.
Di sudut rumah yang sedang direnovasi, Anah menyaksikan perubahan itu dengan mata yang sulit menyembunyikan rasa haru. Tangan yang dulu membuatnya berlari kini membantu mengangkat material bangunan. Tak ada pidato panjang, hanya kerja bersama yang sunyi. Di sela suara palu dan gesekan semen, tumbuh suasana yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Pelataran Istiqlal tetap sama, tetap ramai, tetap menjadi ruang pertemuan banyak nasib. Namun bagi Anah, maknanya sedikit bergeser. Ia pernah melihatnya sebagai tempat penuh kecemasan. Kini, ruang itu juga menyimpan ingatan tentang perubahan sikap dan kepedulian. Hidupnya belum sepenuhnya mudah, dagangan tisunya tetap harus ditawarkan dari satu orang ke orang lain, tetapi ada rasa yang berbeda ketika ia pulang ke rumah.
Rumah yang lebih kokoh memberi rasa aman yang tak ternilai. Ia tak lagi terlalu cemas jika hujan turun deras di malam hari. Di ruang yang diperbaiki itu, ia menyimpan harapan sederhana agar esok lebih ramah. Bagi orang lain, bedah rumah mungkin hanya program sosial. Bagi Anah, itu adalah penanda bahwa dirinya terlihat, diakui, dan dianggap layak dibantu.
Cerita ini tidak menghapus jejak masa lalu ketika dagangannya dibuang. Kenangan itu tetap ada. Namun kini ia berdiri berdampingan dengan pengalaman lain, ketika solidaritas datang dari arah yang tak terduga. Di antara razia dan renovasi, hidup Anah berjalan terus, pelan namun pasti.
Di kota sebesar Jakarta, kisah seperti ini mudah tenggelam oleh berita yang lebih besar dan lebih gaduh. Tetapi di rumah kecil yang dindingnya baru diperbaiki itu, tersimpan cerita tentang keteguhan seorang perempuan dan tentang kemungkinan perubahan dalam relasi antara warga kecil dan aparat kota. Sebuah kisah sederhana, yang tumbuh dari pelataran masjid hingga ruang sempit yang kini terasa lebih hangat.

Komentar