Rabu, 22 Juli 2026 | 01:03
COMMUNITY

Sarasehan 25 Tahun Meninggalnya Romo Mangun: Usulan Menjadi Pahlawan Nasional

Sarasehan 25 Tahun Meninggalnya Romo Mangun: Usulan Menjadi Pahlawan Nasional
Sarasehan 25 Tahun Meninggalnya Romo Mangun (Dok Ikafite)

ASKARA – Dalam rangka memperingati 25 tahun wafatnya Romo YB Mangunwijaya, Ikatan Alumni Filsafat dan Teologi (Ikafite) Universitas Sanata Dharma kembali menggelar serangkaian acara di Yogyakarta, Minggu (25/8). Salah satu kegiatan utama adalah sarasehan mengenang hidup dan karya Romo Mangun, yang diadakan di Aula Paroki Yohanes Rasul Pringwulung.

Sarasehan ini diikuti oleh 77 Sahabat Mangun lintas iman dan berfokus pada dua pertanyaan kunci: Apa saja pemikiran dan tindakan Romo Mangun yang membuatnya layak menjadi pahlawan nasional? dan Apa pula relevansi kepahlawanannya untuk Indonesia kini dan ke depan?

Sarasehan yang dipandu oleh AA Kunto A ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, termasuk perwakilan dari Komunitas Code, Grigak, dan Kedungombo. Mereka berbagi pengalaman dan kenangan tentang perjuangan bersama Romo Mangun. Kunarwoko, panitia dari Ikafite, menekankan pentingnya merefleksikan salah satu pesan Romo Mangun: "Kita harus berpihak pada orang kecil, sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus sendiri."

Slamet, seorang warga dari Kampung Code, mengisahkan bagaimana Romo Mangun hadir di tengah masyarakat yang terpinggirkan, membantu membangun rumah dan balai pertemuan yang mengubah kehidupan sosial mereka. Kornelis, seorang mahasiswa USD yang terlibat dalam pendampingan masyarakat Grigak, bercerita tentang proyek pengadaan air minum di pantai selatan Gunungkidul yang dipelopori oleh Romo Mangun. Kisah-kisah ini menegaskan keberpihakan Romo Mangun pada masyarakat yang kurang beruntung.

Yosep Yapi Taum, dosen sastra USD, menambahkan bahwa Romo Mangun adalah seorang humanis yang memanusiakan manusia lain dan layak menjadi pahlawan nasional. Menurutnya, nasionalisme sejati adalah yang memberikan semangat kemanusiaan, sebagaimana ditunjukkan oleh Romo Mangun dalam karya-karya sastranya.

Romo Mateus Mali, CSsR, seorang teolog moral dari USD, dalam penutupnya menegaskan bahwa Romo Mangun layak menjadi pahlawan nasional karena perjuangan kemanusiaannya, konsep teologi yang kontekstual, serta keberaniannya membongkar pemahaman agama yang sempit. Romo Mangun, menurutnya, adalah teladan dalam berteologi dengan bersolidaritas pada kaum miskin dan terpinggirkan.

Sarasehan ini memperkuat gagasan bahwa Romo Mangun tidak hanya dikenang sebagai seorang pastor dan sastrawan, tetapi juga sebagai pejuang kemanusiaan yang relevan bagi Indonesia masa kini dan masa depan. 

 

 

Komentar