Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:46
NEWS

Indonesia Terhindar dari Fenomena Gelombang Panas, Begini Kata Pakar ITS

Indonesia Terhindar dari Fenomena Gelombang Panas, Begini Kata Pakar ITS
Ilustrasi

ASKARA - Pakar biologi dari Departemen Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Farid Kamal Muzaki S Si M Si mengungkap bahwa Indonesia bisa terhindar dari gelombang panas di pertengahan 2024 ini karena beberapa faktor.

Padahal sejumlah negara di Asia Tenggara seperti di Vietnam dan Filipina mengalami gelombang panas atau heatwave. Thailand paling ekstrim, suhu bisa mencapai 40,1 derajat celcius.

Dari laman resmi ITS, Farid mengungkap hal ini bisa disebabkan oleh kondisi laut di Indonesia hangat dan dapat menjadi penyangga kenaikan suhu. Laut merupakan komponen alam yang bisa memindahkan suhu panas di ekuator menuju kutub bumi.

“Laut memiliki sifat lebih lambat dingin atau panas daripada daratan, sifat ini yang turut mempengaruhi suhu di darat,” ungkap Farid, Senin (29/7/2024).

Dirinya juga menjelaskan, Indonesia sendiri merupakan negara kepulauan yang artinya didominasi oleh perairan (sekitar 65%). Luas wilayah perairan di Indonesia mencapai 6,32 juta km persegi, sedangkan daratan hanya 1,91 juta km persegi.

Indonesia Terletak di Garis Lintang Rendah
Alasan lain yang membuat Indonesia tak terkena heatwave menurut Farid adalah letaknya yang berada di lintang rendah. Kebanyakan negara yang mengalaminya berada di sekitar garis lintang 10 derajat Lintang Utara (LU).

"Selain itu, minimnya pertumbuhan awan yang akan menghalangi sinar matahari juga menjadi salah satu penyebabnya," jelasnya.

Dosen yang fokus di bidang ekologi laut ini juga mengungkap penyebab negara-negara di Asia Tenggara mengalami heatwave tak lain karena pemanasan global dan perubahan iklim.

Aktivitas pengasaman air laut oleh manusia dapat menurut Farid dapat menyebabkan turunnya pH lautan. Hal tersebut tentunya memicu kerusakan terumbu karang hingga ekosistem laut.

Dengan begitu, Farid mengingatkan untuk tidak menggunakan bahan mengandung emisi hingga menebang pohon untuk menjaga alam ini. Ia juga menegaskan untuk tidak mencemari laut karena merupakan fondasi bagi kehidupan manusia.

“Bagaimanapun, keseimbangan ekosistem dan kondisi kesehatan laut adalah fondasi utama dalam menghadapi kerusakan iklim,” ucapnya.

Senada dengan Farid, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa Indonesia tak terkena dampak dari gelombang panas tersebut. Sehingga, masyarakat Indonesia tak merasakan panasnya cuaca secara berlebihan.

Komentar