Peran Ilmu Komunikasi dalam Mewujudkan Kesehatan Mental
Oleh: Angel Ling Lim
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB
ASKARA - Mental yang sehat adalah kondisi yang diimpikan semua orang. Bagaimana tidak, mental adalah hal terpenting dalam proses sosial di masyarakat, khususnya pada anak remaja. Masa remaja adalah fase transisi menuju kedewasaan yang sulit ditentukan batas waktunya. Perubahan tanda-tanda fisik kedewasaan menjadi ciri awal dimulainya masa remaja. Pada periode ini juga individu cenderung lebih responsif dan hal ini bisa berkontribusi pada masalah kesehatan mental. Kesehatan mental seseorang bisa diidentifikasi memburuk ketika seseorang mulai mengalami kecemasan berlebih, tingkat stress yang tinggi, dan perilaku impulsif seperti tindakan melukai diri sendiri.
Menurut data yang dimuat laman Our Better World dari data Kementerian Kesehatan 2013, sekitar 9 juta penduduk Indonesia mengalami depresi. Ada pun sebagai akibatnya ditemukan 3,4 kasus bunuh diri per 100.000 orang di Indonesia. Sekitar 16 juta orang berusia 15 tahun ke atas, ditemukan kasus bunuh diri yang diawali gejala kecemasan dan depresi oleh pelakunya. Karena hal inilah, diperlukan solusi untuk menanggulangi urgensi kesehatan mental di Indonesia, yang dapat menjadi penyebab dari tindakan yang sangat merugikan bagi setiap pelakunya.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kesehatan Mental
Penyebab gangguan mental umumnya tidak diketahui pasti. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko nya. Beberapa jenis gangguan kesehatan mental juga dapat dipicu atau bertambah parah karena memiliki trauma yang dialami saat kecil atau remaja. Ketahui beberapa faktor yang memengaruhi kesehatan mental berikut ini.
● Stratifikasi Sosial
Pembagian tingkatan sosial-ekonomi yang ada di masyarakat ternyata berhubungan dengan jenis gangguan mentalnya. Ternyata di antara strata tingkat tinggi, menengah, dan rendah terdapat gangguan mental yang berbeda dalam kelompok masyarakatnya. Berbagai studi mengemukakan bahwa adanya gangguan mental pada kelompok sosial rendah lebih besar dibandingkan kelompok sosial tinggi.
● Interaksi Sosial
Kualitas interaksi sosial seseorang sangat berpengaruh pada kesehatan mental. Misalnya lingkungan kehidupan tempat kita tinggal, yang memberi peluang untuk meningkatkan hubungan antar sesama. Sementara tempat tinggal yang terasing atau terpencil akan menghambat seseorang dalam hubungan interaksi sosial. Tempat tinggal yang terisolasi dan terasing dapat menimbulkan gangguan mental.
● Keluarga
Keluarga yang lengkap dan harmonis akan meningkatkan kesehatan anggota keluarganya. Namun banyak kondisi anggora keluarga yang menyebabkan adanya risiko terganggunya mental anggota keluarga, diantaranya: perceraian dan perpisahan, keluarga yang tidak harmonis dan mendidik, perlakuan dan cara pengasuhan yang salah.
● Perubahan Sosial
Perubahan sosial dapat menimbulkan kepuasan bagi masyarakat karena adanya kesesuaian dengan suatu harapan. Selain itu, perubahan sosial juga bertujuan meningkatkan keutuhan dan kesehatan mental bagi masyarakat. Dampak positif dari perubahan sosiall-ekonomi misalnya industrialisasi yang membuat luasnya lapangan pekerjaan dan memungkinkan naiknya status sosial masyarakat terutama untuk kelas bawah dan menengah . Tapi, dibalik baiknya perubahan itu, akan ada tantangan untuk masyarakat akibat munculnya aturan dan nilai sosial yang baru.
● Sosial Budaya
Hubungan budaya dengan kesehatan mental dikemukakan oleh Wallace (1963) (dalam Notosoedirdjo, M., & Latipun, 2007) meliputi tiga hal yaitu: kebudayaan yang mendukung dan menghambat kesehatan mental, kebudayaan memberi peran tertentu terhadap penderita gangguan mental, berbagai bentuk gangguan mental karena faktor budaya, dan upaya peningkatan pencegahan gangguan mental dalam telaah budaya.
Peran Ilmu Komunikasi Dalam Mewujudkan Kesehatan Mental
Mengimbau urgensi kesehatan mental pada remaja di Indonesia, komunikasi bisa saja menjadi solusi bagi anak muda mewujudkan kesehatan mentalnya. Berikut adalah beberapa teori komunikasi yang relevan:
● Komunikasi Intrapersonal
Metode yang paling sederhana adalah dengan melibatkan mengenali kebiasaan berbicara secara internal. Komunikasi Intrapersonal, yang juga dikenal sebagai percakapan internal atau obrolan dengan diri sendiri, mengacu pada proses dialog internal yang digunakan sebagai cara untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. Menurut Nisak, self-talk positif dalam kehidupan sehari-harinya, membantu remaja merasa lebih tenang ketika menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasinya (Nisak, 2021). Self-Talk adalah suatu cara dari orang-orang untuk menangani pesan negatif yang mereka kirimkan kepada diri mereka sendiri (Erford, 2015). Self-Talk yang positif adalah bentuk komunikasi diri, mengucapkan frasa positif yang dapat meningkatkan kepercayaan diri.
● Komunikasi Interpersonal
Effendi (1986) mengemukakan bahwa, pada hakikatnya komunikasi antarpribadi adalah komunikasi antar seorang komunikator dengan seorang komunikan. Komunikasi interpersonal merupakan ilmu yang dipandang mampu mewujudkan kesehatan mental seseorang, karena komunikasi interpersonal bersifat dialogis. Sifat dialogis ditunjukan melalui komunikasi lisan yang menampilkan percakapan dua arah. Jenis komunikasi tersebut dianggap paling efektif untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku manusia. Jadi komunikator mengetahui tanggapan komunikan pada saat itu juga, komunikator mengetahui dengan pasti apakah pesan-pesan yang dikirimkan diterima atau ditolak, berdampak positif atau negatif.
Masalah kesehatan mental merupakan topik yang sangat populer dikalangan dunia termasuk dalam organisasi kesehatan dunia (WHO) yang memberikan pendapat bahwa memahami peran komunikasi dalam kesehatan mental itu merupakan masalah yang serius dan sangat penting. Komunikasi interpersonal dapat menjadi strategi yang membantu menjaga stabilitas mental remaja, dan komunikasi intrapersonal atau self-talk adalah alat yang memungkinkan remaja untuk mengarahkan diri mereka sendiri menuju tujuan kesehatan mental yang lebih baik. Dalam konteks komunikasi interpersonal juga menyoroti bagaimana komunikasi dua arah dan lingkungan sekitar dapat memengaruhi perilaku seseorang. Jadi, komunikasi interpersonal berpengaruh terhadap kesehatan mental seseorang, karena pada prosesnya komunikasi interpersonal bersifat dialogis, yang mana komunikan akan berperan untuk menyeimbangi peran komunikator, agar tercipta pola komunikasi yang baik.
Pihak-pihak profesional yang memang ahli di bidang kesehatan mental sebaiknya lebih fokus pada pasien-pasien yang memiliki latar belakang kesehatan mental supaya mereka dapat memahami kondisi dirinya sendiri dan bisa belajar untuk mencintai dirinya sendiri. Selain itu, masyarakat juga harus lebih peduli terhadap orang sekitar yang memiliki masalah kesehatan mental dan mulai perhatikan komunikasi interpersonal antar sesama. Bijaklah dalam mengambil keputusan, berhenti untuk berfikir negatif atau overthinking, rangkulah mereka. Jangan hanya berdiam diri atau mengadu nasib bahkan sampai mencaci maki dan menghina, jadilah manusia yang bisa bermanfaat untuk orang lain, jangan merugikan siapapun termasuk dirimu sendiri.

Komentar