Prof. Rokhmin Dahuri Ungkap Strategi Universitas Muhammadiyah Cirebon Melalui Kerjasama Penta Helix
ASKARA - Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS menyampaikan, Perguruan Tinggi (PT) memegang peran yang paling sentral dan strategis di dalam membangun SDM unggul dan kapasitas inovasi bangsa Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Prof. Rokhmin Dahuri saat menjadi narasumber pada Kuliah Karya Universitas Muhammadiyah Cirebon, “Peningkatan Kualitas Universitas Muhammadiyah Cirebon dan Kontribusinya Bagi Kemajuan dan Kesejahteraan Masyarakat CIAYUMAJAKUNING” di Kampus Unversitas Muhammadiyah Cirebon, 6 Februari 2024.
Pada kesempatan itu, Prof. Rokhmin Dahuri dalam makalah bertema “Peningkatan Kualitas UMC Dan Kontribusinya Bagi Kemajuan Dan Kesejahteraan Masyarakat CIAYUMAJAKUNING Melalui Pengembangan Kerjasama Penta Helix”, menyampaikan, strategi peningkatan kualitas UMC menuju perguruan tinggi unggul dan berkelas dunia
Untuk itu, terangnya, Universitas Muhammadiyah Cirebon harus terus meningkatkan kapasitasnya (a World-Class University) untuk menghasilkan 3 output utamanya/TRI DARMA: lulusan SDM unggul, invensi dan inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat yang mensejahterakan rakyat.
“Serta turut membangun Dunia yang lebih sejahtera, adil, damai, dan berkelanjutan (sustainable),” ujar Prof. Rokhmin Dahuri saat menyampaikan paparannya pada Studium Generale “Kerjasama Penta Helix Yang Saling Menguntungkan dan Berkelanjutan”.
Sesepuh Universitas Muhammadiyah Cirebon tersebut, memberikan gambaran Umum Perguruan Tinggi Indonesia. Pada 2020 ada 4.593 Perguruan Tinggi, 8,48 Juta Mahasiswa terdaftar, 29.413 Program Studi, 312.890 Dosen. Dari dua puluh Perguruan Tinggi Terbaik di Indonesia 2020 – 2022, menurut Kemenristek Dikti/Kemendikbud Ristek, pada tahun 2020 Institut Pertanian Bogor (IPB) menempati rangking pertama, 2021 ranking kedua, dan pada 2022 ranking ke empat.
Selanjutnya, pada peringkat Perguruan Tinggi menurut QS World University Rangkings (2022) IPB pada peringkat 449. Sementara, pada Peringkat Perguruan Tinggi menurut QS Asian University Rangkings (2022) IPB pada ke 122.4.593 Perguruan Tinggi 29.413 Program Studi 8,48 Juta Mahasiswa terdaftar 312.890 Dosen.
Adapun profil alumni peguruan tinggi (PT) yang dibutuhkan di abad-21 yang penuh dengan ketidakpastian, dan insya Allah hidupnya sukses serta bahagia adalah mereka yang memiliki 8 karakter (ciri) berikut. “Pertama adalah kompeten pada bidang Iptek (Prodi) yang ditempuh selama kuliahnya,” ujar Prof. Rokhmin Dahuri.
Kedua, memiliki kemampuan analisis, sintesis, kritis, kreatif, inovatif, dan problem solving (memecahkan masalah). Ketiga, menguasai dan terampil menggunakan teknologi digital termasuk komputer, HP, dan gadget lainnya.
Keempat, memiliki soft skills seperti dapat memelihara dan memompa motivasi diri, adaptive (cepat belajar dan menyesuaikan diri dengan hal baru), agile (gesit, cekatan), bisa bekerja sama, teamwork, disiplin, entrepreneurship, dan leadership.
Kelima, menguasai sedikitnya satu bahasa asing seperti Inggris, Arab, atau Mandarin.
Keenam, berakhlak mulia termasuk jujur, amanah, fathonah (cerdas dan visioner), tabligh, berempati, menyayangi sesama makhluk Tuhan YME, sabar, dan bersyukur.
Dan, ketujuh adalah beriman dan takwa kepada Tuhan YME menurut agama masing-masing. Lebih dari itu, dia menghormati pemeluk agama lain, dan senang hidup harmonis penuh kedamaian dengan sesama insan, tanpa memandang suku, agama, dan latar belakang primordial lainnya.
Kedelapan, terus membaca dan belajar tentang Iptek baru. Karena, belajar dan menuntut ilmu itu sejatinya harus dari sejak kita lahir hingga sebelum wafat’ (Hadits). Long-life Education.
“Namun, berpengetahuan tidak cukup melalui core subjects saja, harus dilengkapi karakter kuat, kemampuan kreatif, dan didukung kemampuan memanfaatkan teknologi,” kata Anggota Dewan Pakar PP Muhammadiyah ini.
Prof. Rokhmin Dahuri membeberkan fungsi dan peran perguruan tinggi dalam pembangunan indonesia dan dunia. Pengertian, Arti, dan Ruang Lingkup Inovasi “Inovasi adalah pengembangan kegiatan ekonomi baru atau cara-cara baru dalam melakukan kegiatan yang sudah ada”.
Jenis-jenis inovasi: 1. Inovasi teknologi: produk baru, material baru, teknologi pemrosesan (manufaktur) baru, rekayasa baru, dll. 2. Inovasi non-teknologi: jaringan pemasaran baru, inovasi dalam pemasaran, pengembangan praktik organisasi baru atau struktur yang seringkali lebih penting daripada penerapan teknologi produksi baru.
“Memang benar, kemampuan untuk memperoleh manfaat dari teknologi baru sering kali bergantung pada inovasi dalam distribusi dan pengorganisasian yang terjadi secara bersamaan,” kata Prof. Rokhmin Dahuri mengutip O'Connor dan Kjollerstrom, 2008. (Perkembangan Industri di Abad 21)
Dijelaskan, Inovasi adalah cara baru dalam melakukan sesuatu yang menghasilkan perubahan positif. Itu membuat hidup lebih baik (Gallo, 2011). Inovasi = Penemuan + Komersialisasi (Gaynor, 2002). Dalam konteks suatu negara (dunia), inovasi adalah cara terbaik untuk mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi.
“Sebab, inovasi meningkatkan produktivitas; dan produktivitas meningkatkan kemungkinan keuntungan yang lebih tinggi, pendapatan yang lebih tinggi, lapangan kerja baru, produk baru, dan perekonomian yang sejahtera,” kata Prof. Rokhmin Dahuri mengutip Romer, 2018.
Peluang Kerja Sama Penta Helix UMC
Pada kesempatan tersebut, Prof. Rokhmin Dahuri membeberkan pendekatan sistem untuk mewujudkan perikanan tangkap yang mensejahterakan dan berkelanjutan, yaitu: 1. Peningkatan produktivitas (CPUE = Catch per Unit of Effort) secara berkelanjutan (sustainable). Modernisasi teknologi penangkapan ikan (kapal, alat tangkap, dan alat bantu); dan penetapan jumlah kapal ikan yang boleh beroperasi di suatu unit wilayah perairan, sehingga pendapatan nelayan rata-rata > US$ 480 (Rp 7,2 juta)/nelayan ABK/bulan secara berkelanjutan.
Modernisasi armada kapal ikan tradisional yang ada saat ini, sehingga pendapatan nelayan ABK > US$ 480 (Rp 7,2 juta)/nelayan//bulan. Pengembangan 4.000 kapal ikan nasional modern (> 100 GT) dengan alat tangkap yang efisien dan ramah lingkungan untuk memanfaatkan SDI di wilayah laut 12 mil – 200 mil (ZEEI), dan 1.000 Kapal Ikan Modern dengan ukuran > 200 GT untuk laut lepas > 200 mil ( International Waters atau High Seas). Ø Kurangi intensitas laju penangkapan di wilayah overfishing, dan tingkatkan laju penangkapan di wilayah underfishing.
Kalkulasi Ekonomi Pengembangan 2.000 Kapal Ikan Modern di Perairan Indonesia dan ZEEI, yaitu: Pendapatan Kotor = 2,22 milyar kg x US$ 2,5/kg = US$ 5,55 milyar Ø Pendapatan Bersih = 50% x US$ 5,55 milyar = US$ 2,775 milyar/tahun = Rp 41,625 Trilyun/tahun
2. Nelayan harus menangani ikan dari kapal di tengah laut hingga didaratakan di pelabuhan perikanan (pendaratan ikan) dengan cara terbaik (Best Handling Practices), sehingga sampai di darat kualitas ikan tetap baik, dan harga jualnya tinggi à Seperti penggunaan Palkah Berpendingin, Cool Box, RSW, dll.
3. Revitalisasi seluruh pelabuhan perikanan supaya tidak hanya sebagai tambat-labuh kapal ikan, tetapi juga sebagai Kawasan Indsutri Perikanan Terpadu (industri hulu, industri hilir, dan jasa penunjang), dan memenuhi persyaratan sanitasi, higienis serta kualitas dan keamanan pangan (food safety).
4. Untuk jenis-jenis ikan ekonomi penting, harus ditransportasikan dari Pelabuhan Perikanan ke pasar domestik maupun ekspor dengan menerapkan cold chain system
5. BUMN, KOPERASI atau SWATA menyediakan (menjual) sarana produksi dan perbekalan melaut (kapal ikan, alat tangkap, mesin kapal, BBM, energi terbarukan, beras, dan lainnya) yang berkualitas tinggi, dengan harga relatif murah, dan kuantitas mencukupi untuk nelayan di seluruh wilayah NKRI.
6. Pemerintah menjamin seluruh ikan hasil tangkapan nelayan di seluruh wilayah NKRI dapat dijual dengan harga sesuai ‘’nilai keekonomian” (menguntungkan nelayan, dan tidak memberatkan konsumen dalam negeri).
7. Pada saat nelayan tidak bisa melaut, karena paceklik ikan maupun cuaca buruk (rata-rata 3 – 4 bulan dalam setahun), pemerintah wajib menyediakan mata pencaharian alternatif (perikanan budidaya, pengolahan hasil perikanan, pariwisata bahari, agroindustri, dan potensi ekonomi lokal lainnya) à supaya nelayan tidak terjerat renternir, seperti selama ini.
8. Evaluasi dan perbaikan sistem bagi hasil antara pemilik kapal dengan nelayan ABK supaya lebih adil dan saling menguntungkan.
Strategi UMC Kembangkan Kerjasama Penta Helix
Prof. Rokhmin Dahuri memaparkan strategi UMC mengembangkan kerjasama Penta Helix di bidang blue economy. Penta Helix merupakan sebuah model kerjasama inovatif yang menghubungkan Akademisi, Bisnis (Industri), Komunitas Pemerintah, dan Media Masa untuk menciptakan ekosistem kerjasama berdasarkan pada Kreatifitas, Inovasi IPTEK. Sedangkan Struktur Kemitraan Penta Helix, Industri (Swasta), Perguruan Tinggi, Komunitas, Pemerintah, Media Masa.
Peluang Kerjasama Penta Helix UMC di sektor Industri Pengolahan Dan Pemasaran Hasil Perikanan, yaitu: 1. Tradisional Peningkatan kualitas dan daya saing • ikan asap, • pindang, • kering (asin dan tawar), • fermentasi (peda), • terasi, petis, • dll;
2. Modern • live fish, • fresh fish, • pembekuan, • pengalengan, • breaded shrimps and fish, • produk berbasis surimi, • dll; 3. (product development) dan Penyempurnaan packaging serta distribusi produk;
4. Pemerintah harus memastikan, bahwa setiap unit industri pengolahan hasil perikanan memiliki mitra produsen (nelayan dan /atau pembudidaya); 5. Standardisasi dan sertifikasi; 6. Penguatan dan pengembangan pasar domestik dan ekspor.
Sedangkan, definisi Blue Economy (Ekonomi Biru), yaitu: Pada dasarnya Ekonomi Hijau dan Ekonomi Biru muncul sebagai respon untuk memperbaiki kegagalan Paradigma Ekonomi Konvensional (Kapitalisme): Sebelum Pandemi Covid-19; 2 miliar orang miskin, 700 juta orang kelaparan, kesenjangan ekonomi yang semakin melebar, krisis ekologi, dan Pemanasan Global. Ekonomi Hijau adalah ekonomi yang menghasilkan peningkatan kesejahteraan manusia dan keadilan sosial, sekaligus mengurangi risiko lingkungan dan kelangkaan ekologi secara signifikan (UNEP, 2012).
Pada dasarnya Blue Economy adalah penerapan Ekonomi Hijau di wilayah kelautan (dalam Dunia Biru) (UNEP, 2012).vBlue Economy adalah penggunaan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk pertumbuhan ekonomi, peningkatan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan umat manusia, dan secara simultan menjaga kesehatan serta keberlanjutan ekosistem laut (World Bank, 2016).
Blue Economy adalah semua kegiatan ekonomi yang terkait dengan lautan dan pesisir. Ini mencakup berbagai sektor-sektor ekonomi yang sudah berjalan lama (established sectors) dan sektor-sektor ekonomi yang baru dan akan berkembang (emerging sectors) (EC, 2020). Blue Economy juga mencakup manfaat ekonomi kelautan yang mungkin belum bisa dinilai dengan uang, seperti Carbon Sequestrian, Coastal Protection, Biodiversity, dan Climate Regulator (Conservation International, 2020).
Ekonomi biru didefinisikan sebagai model ekonomi yang menggunakan: (1) infrastruktur, teknologi dan praktik ramah lingkungan, (2) mekanisme pembiayaan yang inovatif dan inklusif, dan (3) pengaturan kelembagaan yang proaktif untuk mencapai tujuan ganda yaitu melindungi pantai dan lautan, dan pada sekaligus meningkatkan potensi kontribusinya terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan, termasuk meningkatkan kesejahteraan manusia dan mengurangi risiko lingkungan dan kelangkaan ekologi (PEMSEA, 2011; UNEP, 2012)
Prof. Rokhmin Dahuri menjelaskan pendapat pribadinya, Ekonomi Biru, “Kegiatan ekonomi yang berlangsung di wilayah pesisir dan lautan, dan kegiatan ekonomi di darat (up land area) yang memanfaatkan sumber daya alam pesisir dan lautan untuk menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan umat manusia dengan cara yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.”
Pemanfaatan Blue Economy Indonesia
Lautan global menyediakan barang dan jasa ekosistem yang penting bagi umat manusia yang mencakup pengaturan iklim Erath, sistem pendukung kehidupan serta penyediaan pangan, mineral, energi, dan sumber daya alam lainnya, rekreasi, dan nilai-nilai spiritual.
Laut tidak hanya penting bagi perekonomian dunia, tetapi juga keseimbangan dan kelangsungan hidup lingkungan (Noone et al., 2013). Antara lain: 1. Ekonomi 2. Ekologi 3. Rekreasi dan spiritual 4. Keamanan & pertahanan, dan geopolitik 5. Penelitian dan pendidikanTotal potensi ekonomi sebelas sektor Kelautan Indonesia: US$ 1,348 triliun/tahun atau 5 kali lipat APBN 2021 (Rp 2.400 triliun = US$ 190 miliar) atau 1,3 PDB Nasional saat ini.
Teknologi untuk meningkatkan Kualitas Produk Ekspor Kelautan Dan Perikanan, jelas Prof. Rokhmin Dahuri, memanfaatkan radiasi untuk mengawetkan produk secara fisik, sehingga bisa mengurangi kandungan bahan-bahan berbahaya seperti bakteri, logam berat, histamin, dan lainnya. Teknologi ini juga bisa meningkatkan nilai gizi, rasa, dan tekstur produk.
Peluang kerjasama Penta Helix UMC di Sektor Industri Bioteknologi Perairan, antara lain: 1. Pengembangan bioprospecting dan ekstraksi senyawa bioaktif (bioactive compounds/natural products) dari biota perairan untuk bahan baku bagi industri nutraseutikal (healthy food & beverages), farmasi, kosmetik, cat film, biofuel, dan beragam industri lainnya.
2. Genetic engineering untuk menghasilkan induk dan benih ikan, udang, kepiting, moluska, rumput laut, tanaman pangan, dan biota lainnya yang unggul: SPF (Specific Pathogen Free), SPR (Specific Pathogen Resistance), dan Cepat Tumbuh (Fast Growing). 3. Rekayasa genetik organisme mikro (bakteri) untuk bioremediasi lingkungan yang tercemar. 4. Konservasi: genetik, spesies, dan ekosistem
Ekstraksi Senyawa Bioaktif, terdiri: 1 Sponges dan Karang Lunak Bastadin, Okadaic Acid, Monoalide sebagai Anti kanker, anti bakteri, anti asma, anti fouling. 2. Spirulina (micro algae) Pycocyanin, Klorofil, Zeasantin untuk Kesehatan hati dan ginjal, kesehatan mata, antikanker, antiracun, menurunkan kolesterol, menurunkan lipida darah.
3. Rumput Laut (Sargassum sp, Eucheuma sp, dan Gracillaria sp) Alginat, Karagenan, untuk Agar-agar Alginat (tekstil, farmasi, pupuk, dll) karagenan (pengental, stabilisator), agar-agar (farmasi, makanan). 4. Invertebrata: Tunicate (Tridemnum sp) bermanfaat untuk Penyembuhan penyakit leukimia, B-16 melanoma, dan M5076 sarcoma.
5. Tempurung Penyu Obat luka dan tetanus, 6 Kuda Laut Flavonoid, Triterpenoid, Steroid, dan Saponin sebagai Obat penenang atau obat tidur; dan sebagai obat kuat semacam Viagra, 7 Empedu Ikan Buntal Tetrodotoksin, untuk memperbaiki saraf otak yang rusak dan sebagai zat anestesi.
8. Limbah Krustasea Khitin dan Khitosan Kertas, tekstil, bahan perekat (adhesives), sebagai bahan pengkelat dan obat penyembuh luka, 9. Teripang Kolagen, MPS (mucopolisacarida), EPA, dan DHA bermanfaat untuk enyembuhan stroke, asma, diabetes melitus, jantung koroner, hepatitis, psoriasis, asam urat, dan radang sendi/osteoarthritis.
Peluang Kerjasama Penta Helix UMC Di Sektor Perikanan Budidaya, kata Prof. Rokhmin Dahuri melalui pendekatan sistem untuk pembangunan perikanan budidaya yang berdaya saing, mensejahterakan, dan berkelanjutan. Antara lain: 1. Revitalisasi semua unit usaha (bisnis) budidaya laut (mariculture), budidaya perairan payau (coastal aquaculture), dan budidaya perairan darat untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, daya saing, inklusivitas, dan keberlanjutan (sustainability) nya.
2. Ekstensifikasi usaha di kawasan perairan baru dengan komoditas unggulan, baik di ekosistem perairan laut (seperti kakap putih, kerapu, lobster, dan rumput laut Euchema spp); perairan payau (seperti udang Vaname, Bandeng, Nila Salin, Kepiting, dan rumput laut Gracillaria spp); maupun perairan darat (seperti nila, patin, lele, mas, gurame, dan udang galah).
3. Diversifikasi usaha budidaya dengan spesies baru di perairan laut, payau, dan darat. 4. Pengembangan usaha akuakultur untuk menghasilkan komoditas (raw materials) untuk industri farmasi, kosmetik, functional foods & beverages, pupuk, pewarna, biofuel, dan beragam industri lainnya.
Komoditas Potensial Budidaya Laut: Eucheuma sp. Abalone Padina sp. Kerang Mutiara Kakap Merah Kerapu Baronang Teripang Bawal Bintang Kerang Hijau Lobster Gonggong. Komoditas Potensial Budidaya Payau: Rumput Laut Gracilaria sp. Udang Windu Udang Vannamei Bandeng Kakap Putih Tilapia (Nila Saline). Komoditas Potensial Budidaya Air Tawar> Nila Sidat Ikan Mas Bawal Air Tawar Gurame Tawes Patin Udang Galah Lele Lobster Air Tawar.
Mengutip Parker, (1998), Prof. Rokhmin Dahuri menjabarkan pengertian Akuakultur, “Akuakultur adalah produksi ikan, krustasea, moluska, invertebrata, alga, mikroba, tumbuhan, dan organisme lain melalui penetasan dan pemeliharaan di ekosistem perairan.”
Sedangkan Komoditas (Output) Budidaya Perikanan, antara lain” a) Peran dan fungsi budidaya perairan secara konvensional menyediakan: (1) protein hewani termasuk ikan bersirip, krustasea, moluska, dan beberapa invertebrata; (2) rumput laut; (3) ikan hias dan biota perairan lainnya; dan (4) perhiasan seperti tiram mutiara dan organisme akuatik lainnya.
b) Peran dan fungsi akuakultur non-konvensional (di masa depan): (1) pakan berbahan dasar alga; (2) produk farmasi dan kosmetika dari senyawa bioaktif mikroalga, makroalga (rumput laut), dan organisme perairan lainnya; (3) bahan baku yang berasal dari biota perairan untuk berbagai jenis industri seperti kertas, film, dan lukisan; (4) biofuel yang berasal dari mikroalga, makroalga, dan biota perairan lainnya; (5) pariwisata berbasis budidaya perikanan; dan (6) penyerap karbon yang mengurangi pemanasan global.
Mutiara laut selatan telah memenuhi 43% mutiara dunia, antara lain: Senyawa bioaktif yang diambil dari biota laut untuk Industri Farmasi dan Kosmetik. Sebagai MegaMarine Biodiversity Indonesia mempunyai potensi terbesar di dunia. Semua unit usaha pada program-1 (Revitalisasi), program-2 (Ekstensifikasi), dan program-3 (Diversifikasi) harus sesuai atau menerapkan: (1) economy of scale; (2) Integrated Supply Chain Management System (Pra-produksi, Produksi, Industri Pengolahan, dan Pemasaran); (3) teknologi mutakhir yang tepat (Best Aquaculture Practices, Industry 4.0); dan (4) prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
Best Aquaculture Practices: (1) induk dan benih unggul (SPF, SPR, dan fast growing); (2) pakan berkualitas dan cara pemberian yang tepat dan benar; (3) pengendalian hama & penyakit; (4) menajemen kualitas air; (5) pond design & engineering; dan (6) biosecurity. Ø Industry 4.0 technologies: Big Data, IoT, AI, Drone, Cloud Computing, dan Nanotechnology à “Precision, Efficient, Competitive, and Sustainable Aquaculture”
Prinsip pembangunan berkelanjutan: (1) RTRW yang melindungi kawasan budidaya perikanan; (2) laju (intensitas) budidaya < Daya Dukung Lingkungan mikro (kolam) maupun makro (kawasan); (3) pengendalian pencemaran supaya lingkungan perairan tetap suitable dan sustainable untuk usaha aquaculture; dan (4) konservasi biodiversity pada tingkat spesies, ekosistem, dan genetik.
Pastikan bahwa semua unit usaha akuakultur harus menghasilkan keuntungan bersih yang mensejahterakan pelaku usaha, dengan pendapatan bagi karyawan (buruhnya) > US$ 300 (Rp 4,5 juta/karyawan/bulan). US$ 480 dihitung berdasarkan garis kemiskian versi Bank Dunia (2023): US$ 3,2/orang/hari atau US$ 96/orang/bulan. Rata-rata ukuran keluarga akuakultur 5 orang (ayah, ibu, dan 3 anak), dan pada umumnya yang bekerja hanya ayah.
Rekayasa Genetik (Genetic Engineering)
Penerapan rekayasa genetik dalam industri bioteknologi kelautan, mengarah kepada bioteknologi di bidang akuakultur. Rekayasa genetik banyak digunakan pada ikan konsumsi (salmon, udang, nila, dll) maupun ikan hias (zebra, tetra, dll) untuk menghasilkan ikan (biota laut) unggul sesuai keinginan seperti: bebas penyakit (SPF), tahan terhadap serangan penyakit (SPR), fast growing, tahan terhadap perubahan lingkungan, merubah karakteristik biokimia dari daging ikan (cita rasa), mengubah jalur metabolisme (efisiensi pakan), dll.
Pengendalian Pencemaran Lingkungan (bioremediasi), yaitu: 1. Degradasi hidrokarbon tumpahan minyak Pseudomonas putida, 2. Degradasi Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) Kelompok bakteri Actinobacter, Pseudomonas monteilii, Pseudomonas stutzeri, dan Pseudomonas xanthomarina, Cycloclasticus sp, 3. Degradasi Plastik Kocuria palustris, Bacillus pumilus, Bacillus subtilis, Pseudomonas sp., dan Moraxella sp, 4. Degradasi Persistence Organics Pollutans (PCB) Pseudoalteromonas, Psychrobacter, Arthrobacter, Dehalobium chlorocoercia, dan Burkholderia xenovorans, 5. Bioadsorpsi Logam Berat Enterobacter cloaceae, Vibrio harveyi, Pseudomonas, Escherichia, Bacillus, Desulfovibrio, Desulfomicrobium, Desulfotomaculum, dan Pseudomonas aeruginosa.
Modal Dasar Pembangunan Indonesia
Prof. Rokhmin Dahuri menyatakan Indonesia memiliki potensi (modal dasar) pembangunan yang sangat besar dan lengkap untuk menjadi negara-bangsa yang maju, adil-makmur, dan berdaulat. Namun, tegasnya, karena belum ada Peta Jalan Pembangunan Bangsa (Nasional) yang komprehensif dan benar serta dilaksanakan secara berkesinambungan, kualitas SDM relatif rendah, dan defisit kepemimpinan (nasional, propinsi, kabupaten/kota, dan desa).
“Maka, sudah 76 tahun merdeka, Indonesia masih sebagai ‘lower-middle income country’, belum sebagai negara yang maju, adil-makmur, dan berdaulat (Cita-Cita Kemerdekaan – RI),” ujar Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia ini.
Lalu, Prof Rokhmin Dahuri memaparkan sepuluh permasalahan dan tantangan pembangunan Indonesia. Antara lain: 1.Pertumbuhan Ekonomi Rendah (< 7% per tahun), 2. Pengangguran dan Kemiskinan, 3. Ketimpangan ekonomi terburuk ke-3 di dunia, 4. Disparitas pembangunan antar wilayah, 5. Fragmentasi sosial: Kadrun vs Cebong, dll, 6. Deindustrialisasi, 7. Kedaulatan pangan, farmasi, dan energy rendah, 8. Daya saing & IPM rendah, 9. Kerusakan lingkungan dan SDA, 10.Volatilitas globar (Perubahan iklim, China vs As, Industry 4.0).
“Jumlah penduduk 278 juta orang (terbesar keempat di dunia) dengan jumlah kelas menengah yang terus bertambah, dan dapat bonus demografi dari 2020 – 2040 merupakan potensi human capital (daya saing) dan pasar domestik yang luar biasa besar,” kata Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2009 – 2014; dan 2020 – Sekarang.
Pertama kali dalam sejarah NKRI Pada tahun 2019 angka kemiskinan lebih kecil dari 10% Namun, dampak dari pandemi Covid-19, pada 2022 tingkat kemiskinan meningkat lagi menjadi 9,6% atau sekitar 26,4 juta orang. Dari 200 negara anggota PBB di dunia, hanya 17 negara dengan PDB US$ > 1 trilyun World Bank (2022).
Sedangkan perbandingan pertumbuhan ekonomi, pengangguran, kemiskinan, dan koefisien GINI antara sebelum dan saat masa Pandemi Covid-19 (BPS, 2023), perhitungan angka kemiskinan atas dasar garis kemiskinan versi BPS (2023), yakni pengeluaran Rp 580.000/orang/bulan. Garis kemiskinan = Jumlah uang yang cukup untuk seorang memenuhi 5 kebutuhan dasarnya dalam sebulan.
Sementara menurut garis kemiskinan Bank Dunia (3,2 dolar AS/orang/hari atau 96 dolar AS/orang/bulan (Rp 1.440.000)/orang/bulan), jumlah orang miskin pada 2023 sebesar 111 juta jiwa (37% total penduduk).
“Indonesia menduduki peringkat ke-3 sebagai negara dengan tingkat kesenjangan ekonomi tertinggi (terburuk) di dunia,” terang Menteri Kelautan dan Perikanan-RI 2001 – 2004 itu.
Deindustrilisasi terjadi di suatu negara, terangnya, manakala kontribusi sektor manufakturnya menurun, sebelum GNI (Gross National Income) perkapita nya mencapai US$ 12.536. Menurut laporan Credit Suisse’s Global Wealth Report 2019, 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 44,6% kue kemakmuran secara nasional, sementara 10% orang terkaya menguasai 74,1%.
“Kekayaan 4 orang terkaya (US$ 25 M = Rp 335 T) sama dengan total kekayaan 100 juta orang termiskin (40% penduduk) Indonesia (Oxfam, 2017). Sekitar 0,2% penduduk terkaya Indonesia menguasai 66% total luas lahan nasional (KPA, 2015),” kata Ketum Dulur Cirebonan (CIAYUMAJAKUNING) itu.
Bahkan, lanjutnya, sekitar 0,2% penduduk terkaya Indonesia menguasai 66% total luas lahan nasional (KPA, 2015). Sekarang 175 juta ha (93% luas daratan Indonesia) dikuasai oleh para konglomerat (korporasi) nasional dan asing (Institute for Global Justice, 2016).
Dalam hal, kata Prof. Rokhmin Dahuri, ketimpangan ekonomi (penduduk kaya vs miskin), Indonesia merupakan negara terburuk ketiga di dunia, dimana 1% (satu persen) penduduk terkayanya memiliki total kekayaan sama dengan 45% total kekayaan negara. Yang terburuk adalah Rusia, dimana satu persen orang terkayanya memiliki total kekayaan sama dengan 58,2% kekayaan negara. Disusul Thailand, sekitar 54,6% (Oxfam International, 2021).
Kekayaan 4 orang terkaya Indonesia (US$ 25 M = Rp 335 T) sama dengan total kekayaan 100 juta orang termiskin (40% penduduk) Indonesia (Oxfam International, 2017). Sekitar 0,2% penduduk terkaya Indonesia menguasai 66% total luas lahan nasional (KPA, 2015). “Institute for Global Justice menyebutkan, sekitar 175 juta ha (93% luas daratan Indonesia) dikuasai oleh para konglomerat (korporasi) nasional dan asing,” ungkapnya.
Sejak krisis multidimensi 1997 – 1998, Indonesia mengalami deindustrialisasi, yakni suatu kondisi perekonomian negara, dimana kontribusi sektor manufakturing (pengolahan) nya sudah menurun, tetapi GNI per kapitanya belum mencapai 12.695 dolar AS (status negara makmur).
Pada 1996 kontirbusi sektor manufacturing terhadap PDB Indonesia sudah mencapai 29%, tapi tahun 2020 kontribusinya hanya sebesar 19%. “Padahal, seperti sudah saya sebutkan diatas, GNI perkapita Indonesia tahun lalu hanya 3.870 dolar AS,” sebutnya.
Sejak krisis multidimensi 1997 – 1998, Indonesia mengalami deindustrialisasi, yakni suatu kondisi perekonomian negara, dimana kontribusi sektor manufakturing (pengolahan) nya sudah menurun, tetapi GNI (Gross National Income) per kapitanya belum mencapai 12.536 dolar AS (status negara makmur). “Pada 1996 kontirbusi sektor manufacturing terhadap PDB Indonesia sudah mencapai 29%, tapi tahun 2020 kontribusinya hanya sebesar 19%Padahal, seperti sudah saya sebutkan diatas, GNI perkapita,” tandasnya.
Yang sangat mencemaskan adalah bahwa 30% anak-anak kita mengalami stunting, 17,7% bergizi buruk, dan 10,2% berbadan kurus akibat kurang makanan bergizi (Kemenkes dan BKKBN, 2022). Dari 154 negara yang disurvei, angka prevalansi stunting Indonesia merupakan yang tertinggi ke-27 (UNICEF dan WHO, 2022). Apabila masalah krusial ini tidak segera diatasi, maka generasi penerus kita akan menjadi generasi yang lemah fisiknya dan rendah kecerdasannya (a lost generation).
Resultante dari kemiskinan, ketimpangan ekonomi, stunting, dan gizi buruk adalah IPM Indonesia yang baru mencapai 72 tahun lalu. “Padahal, menurut UNDP sebuah bangsa bisa dinobatkan sebagai bangsa maju dan makmur, bila IPM nya lebih besar dari 80,” katanya.
“Biaya yang diperlukan orang Indonesia untuk membeli makanan bergizi seimbang (sehat) sebesar Rp 22.126/hari atau Rp 663.791/bulan. Harga tersebut berdasarkan pada standar komposisi gizi Helathy Diet Basket (HDB) (FAO, 2020). Atas dasar perhitungan diatas; ada 183,7 juta orang Indonesia (68% total penduduk) yang tidak mampu memenuhi biaya tersebut,” terang Prof. Rokhmin Dahuri mengutip Litbang Kompas, 2022 di Harian Kompas, 9 Desember 2022.
Masalah lainnya, Prof. Rokhmin Dahuri mengatakan, kekurangan rumah yang sehat dan layak huni dari 45 Juta rumah tangga masih 61,7 % rumah tidak layak huni. Padahal, perumahan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia (human basic needs) yang dijamin dalam Pasal 28, Ayat-h UUD 1945. “Hingga 2021, Indeks Pembangunan Manusia Indonesia berada diurutan ke-114 dari 191 negara, atau peringkat ke-5 di ASEAN,” terang Ketua Dewan Pakar MPN (Masyarakat Perikanan Nusantara) itu.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Rokhmin Dahuri membeberkan, sejumlah hal diantaranya menurut data UNICEF, Indonesia masih menjadi negara dengan nilai prevalensi stunting yang tinggi (31,8%), dimana dari nilai ini Indonesia masih kalah dibanding dengan negara tetangga seperti Malaysia (20,9%) dan Filipina (28,7%).
Sementara itu, Prof. Rokhmin Dahuri membeberkan, Riset yang bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked, dilakukan oleh Central Connecticut State University pada 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.
Hingga 2022, peringkat Global Innovation Index (GII) Indonesia berada diurutan ke-75 dari 132 negara, atau ke-6 di ASEAN. Pada 2018-2022, Indeks Daya Saing Indonesia semakin menurun, hingga 2022 diurutan ke-44 dari 141 negara, atau peringkat ke-4 di ASEAN.Hingga 2019, Global Entrepreneurship Index Indonesia berada diurutan ke-75 dari 137 negara atau peringkat ke-6 di ASEAN. Hingga 2021, Kategori Negara Berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) versi UNDP, Indonesia berada diurutan ke-114 dari 191 negara, atau peringkat ke-5 di ASEAN.
Implikasi dari rendahnya Kualitas SDM, Kapasitas Riset, Kreativitas, Inovasi, dan Entrepreneurship adalah: Proporsi ekspor produk manufaktur berteknologi dan bernilai tambah tinggi hanya 8,1%; selebihnya (91,9%) berupa komoditas (bahan mentah) atau SDA yang belum diolah. Sementara, Singapura mencapai 90%, Malaysia 52%, Vietnam 40%, dan Thailand 24% (UNCTAD dan UNDP, 2021).
Peta Jalan Pembangunan Menuju Indonesia Emas 2045
Menurut Prof. Rokhmin Dahuri, untuk menuju Indonesia emas 2045 maka diburtuhkan roadmap atau peta jalan agar Indonesia keluar dari jebakan negara dengan penghasilan ekonomi menengah atau Midle-Income Trap. Adapun persyaratan Sosial-Ekonomi dari Negara Middle-Income menjadi Negara Maju, Adil-Makmur dan Berdaulat itu adalah Pertumbuhan ekonomi rata-rata 7% per tahun selama 10 tahun dan berkualitas.
“Kemudian investasi plus ekspor harus lebih besar dari konsumsi dan impor (I + E > K + Im), Koefisien Gini atau kesenjangan ekonomi kurang dari 0,3 (inklusif), serta Ramah Lingkungan & berkelanjutan (Sustainable),” ujar guru besar Mokpo National University Korea Selatan itu.
Mengutip PBB (2008), Prof. Rokhmin Dahuri menguraikan definisi transformasi struktural ekonomi, “Transformasi Ekonomi Struktural meliputi: (1) realokasi faktor-faktor produktif dari pertanian tradisional ke pertanian modern, industri manufaktur, dan jasa; (2) realokasi faktor-faktor produktif tersebut ke dalam kegiatan sektor manufaktur dan jasa; (3) pergeseran faktor produktif dari sektor dengan produktivitas rendah ke sektor dengan produktivitas tinggi; dan (4) membangun kapasitas negara untuk mendiversifikasi struktur produksi nasional untuk menghasilkan kegiatan ekonomi baru, memperkuat hubungan ekonomi dalam negeri, dan membangun kemampuan teknologi dan inovasi dalam negeri.”
Kaya Sumber Daya Alam (SDA)
Lanjutnya, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang 77% wilayahnya (termasuk ZEEI) berupa laut. Wilayah pesisir dan laut Indonesia mengandung potensi ekonomi berupa SDA terbarukan, SDA tidak terbarukan, dan jasa-jasa lingkungan (environmental services) yang luar biasa besar, sekitar US$ 1,4 trilyun/tahun atau 1,5 kali PDB Indonesia dan dapat menciptakan lapangan kerja bagi sedikitnya 45 juta orang (30% total angkatan kerja).
Prof. Rokhmin Dahuri menyebut, ada 11 sektor ekonomi kelautan yang bisa dikembangkan yakni: (1) perikanan tangkap, (2) perikanan budidaya, (3) industri pengolahan hasil perikanan, (4) industri bioteknologi kelautan, (5) ESDM, (6) pariwisata bahari, (7) perhubungan laut, (8) industri dan jasa maritim, (9) kehutanan pesisir (coastal forestry), (10) sumber daya wilayah pulau-pulau kecil, dan (11) SDA kelautan non-konvensional.
Sebelas (11) sektor Ekonomi Kelautan yang potensi nilai ekonominya US$ 1,4 trilyun/tahun itu dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi (> 7%/tahun) dan berkualitas (menyerap banyak tenaga kerja), mengurangi ketimpangan ekonomi, mengurangi disparitas pembangunan antar wilayah, dan memperkuat kedaulatan pangan, energi, farmasi, dan mineral. "Total nilai ekonomi kesebelas sektor itu sekitar 1,4 triliun dolar AS/tahun, hampir 1,4 PDB Indonesia saat ini atau 8 kali APBN 2020," ujarnya.
Dalam paparannya, Prof Rokhmin Dahuri menjelaskan, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi negara-bangsa yang maju, adil-makmur, dan berdaulat. Modal Dasar Pembangunan Indonesia yaitu: Jumlah pendudk 278 orang (terbesar keempat di dunia) dengan jumlah kelas menengah yang terus bertambah, dan dapat bonus demografi dari 2020 – 2040, merupakan potensi human capital (daya saing) dan pasar domestik yang luar biasa besar melalui kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) baik di darat maupun di laut.
Secara geoekonomi dan geopolitik, kata Prof. Rokhmin Dahuri, letak Indonesia yang sangat strategis, dimana 45% dari seluruh komoditas dan produk dengan nilai 15 trilyun dolar AS/tahun dikapalkan melalui ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) (UNCTAD, 2012). “Selat Malaka (ALKI-1) merupakan jalur transportasi laut terpadat di dunia, 200 kapal/hari,” terangnya.
Selat Malaka, sambungnya, sebagai bagian dari ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia)-1 merupakan jalur transportasi laut terpendek yang menghubungkan Samudera Hindia dengan Samudera Pasifik. Menghubungkan raksasa-raksasa ekonomi dunia, termasuk India, Timur-Tengah, Eropa, dan Afrika di belahan Barat dengan China, Korea Selatan, dan Jepang di belahan Timur.
ALKI-1 melayani pengangkutan sekitar 80% total minyak mentah yang memasok Kawasan Asia Timur dari negara-negara Timur Tengah dan Afrika. Jumlah kapal yang melintasi ALKI-1 mencapai 100.000 kapal/tahun. Sementara, Terusan Suez dan Terusan Panama masing-masing hanya dilewati oleh 18.800 dan 10.000 kapal per tahun (Calamur, 2017). Pendapatan Otoritas Terusan Suez mencapai rata-rata Rp 220 milyar/hari atau Rp 80,7 trilyun/tahun.
“Malangnya, sampai sekarang, Indonesia belum menikmati keuntungan ekonomi secuil pun dari fungsi laut NKRI sebagai jalur transportasi utama global. Landscape Geopolitik Saat Ini Indonesia Berada Diantara Persaingan Internasional Antara Kekuatan Besar (Great Power),” ujarnya.
Prof. Rokhmin Dahuri yang juga Penasehat 8 Gubernur dan 20 Bupati Indonesia tersebut menjabarkan potensi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sebagai modal dasar pembangunan diantaranya Jumlah penduduk 274 juta orang (terbesar keempat di dunia) dengan jumlah kelas menengah yang terus bertambah, dan dapat bonus demografi dari 2020 – 2040.
“Ini merupakan potensi human capital (daya saing) dan pasar domestik yang luar biasa besar,” tuturnya.
Potensi lainnya dalah bahwa Indonesia Kaya Sumber Daya Alam (SDA) baik di darat maupun di laut. Kemuidan posisi geoekonomi dan geopolitik yang sangat strategis, dimana 45% dari seluruh komoditas dan produk dengan nilai 15 trilyun dolar AS/tahun dikapalkan melalui ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia).
“Indonesia juga merupakan negara rawan bencana alam (70% gunung berapi dunia, tsunami, dan hidrometri). Artinya mestinya sebagai tantangan yang membentuk etos kerja unggul (inovatif, kreatif, dan entrepreneur) dan akhlak mulia bangsa. Mestinya sebagai tantangan yang membentuk etos kerja unggul (inovatif, kreatif, dan entrepreneur) dan akhlak mulia bangsa,” katanya.
Key Global Trends
Prof. Rokhmin Dahuri mengutarakan, populasi dunia diperkirakan akan tumbuh hingga hampir 10 miliar pada tahun 2050, sehingga meningkatkan permintaan pertanian – dalam skenario pertumbuhan ekonomi yang terbatas – sekitar 50% dibandingkan tahun 2013.
Pertumbuhan pendapatan di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah akan mempercepat transisi pola makan menuju konsumsi daging, buah-buahan, dan sayur-sayuran yang lebih tinggi dibandingkan serealia, memerlukan perubahan output yang sepadan dan menambah tekanan pada sumber daya alam (FAO, 2017).
“Saat ini berbagai macam kebutuhan manusia telah banyak menerapkan dukungan internet dan dunia digital sebagai wahana interaksi dan transaksi,” kata Anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pengembangan Pesisir dan Lautan, Universitas Bremen, Jerman itu
Selain itu, kata Prof. Rokhmin Dahuri, pertumbuhan penduduk menyebabkan permintaan terhadap produk pangan terus meningkat dan berdampak pada ketersediaan lahan. “Hampir 800 juta orang mengalami kelaparan kronis dan 2 miliar orang menderita defisiensi mikronutrien (FAO, 2017),” ujarnya.
Pada prinsipnya ada 5 kecenderungan global (key global trends) yang mempengaruhi kehidupan dan peradaban manusia di abad-21, yakni: (1) jumlah penduduk dunia yang terus bertambah; (2) Industri 4.0 (Revolusi Industri Keempat); (3) Perubahan Iklim Global (Global Climate Change); (4) Dinamika Geopolitik; (5) Era Post-Truth.
Pertama adalah jumlah penduduk dunia yang terus bertambah. Pada 2011 jumlah penduduk dunia sebanyak 7 milyar orang, kini sekitar 7,9 milyar orang, tahun 2050 diperkirakan akan menjadi 9,7 milyar, dan pada 2100 akan mencapai 10,9 milyar jiwa (PBB, 2021).
Implikasinya tentu akan meningkatkan kebutuhan (demand) manusia akan bahan pangan, sandang, material untuk perumahan dan bangunan lainnya, obat-obatan (farmasi), jasa pelayanan kesehatan, jasa pelayanan pendidikan, prasarana dan sarana transportasi dan komunikasi, jasa rekreasi dan pariwisata, dan kebutuhan manusia lainnya.
Implikasi selanjutnya adalah bahwa magnitude dan laju eksplorasi serta eksploitasi SDA dan jasa-jasa lingkungan (envrionmental services) baik di wilayah (ekosistem) daratan, lautan maupun udara akan semakin meningkat.
Kedua, era Industri 4.0 (Revolusi Industri Keempat) yang melahirkan inovasi teknologi dan non- teknologi baru yang mengakibatkan disrupsi hampir di semua sektor pembangunan dan aspek kehidupan manusia. Jenis-jenis teknologi baru yang lahir dan berubah super cepat di era Industri 4.0 berbasis pada kombinasi teknologi digital, fisika, material baru, dan biologi.
Antara lain adalah IoT (Internet of Things), AI (Artificial Intelligence), Blockchain, Robotics, Cloud Computing, Augmented Reality dan Virtual Reality (Metaverse), Big Data, Biotechnology, dan Nannotechnology (Schwab, 2016). Namun, hingga saat ini perkembangan industri teknologi digital masih bergerak pada sektor jasa dan distribusi saja (e-commerce dan e-government).
“Padahal seharusnya pemanfaatan berbagai teknologi industry-4.0 dapat meningkatkan dan mengefektifkan sektor eksplorasi, produksi, dan pengolahan (manufacturing) SDA untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang terus meningkat secara berkelanjutan,” terang Ketua Dewan Pakar Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (ADKASI) itu.
Ketiga, Perubahan Iklim Global (Global Climate Change) beserta segenap dampak negatipnya seperti gelombang panas, cuaca ekstrem, naiknya permukaan laut, pemasaman laut (ocean acidification), banjir, kebakaran lahan dan hutan, dan peledakan wabah penyakit; bukan hanya mengurangi kemampuan ekosistem bumi untuk menghasilkan bahan pangan, farmasi, energi, dan SDA lainnya. Tetapi, juga akan membuat kondisi lingkungan hidup yang tidak nyaman bahkan dapat mematikan kehidupan manusia (Sach, 2015; Al Gore, 2017).
Keempat, ketegangan geopolitik yang menjurus ke perang fisik (militer) seperti yang terjadi antara Rusia vs Ukraina. Ketegangan geopolitik yang lebih besar sebenarnya adalah antara AS serta para sekutunya (seperti Jepang, Australia, Inggris, dan Uni Eropa) vs China serta sekutunya (seperti Rusia, Korea Utara, dan Iran). Selain karena faktor ideologi, penyebab ketegangan geopolitik dan perang adalah perebutan wilayah dan SDA (resource war).
Sejumlah kawasan sangat rawan terjadinya perang, sperti Timur Tengah, Afrika, Laut China Selatan, Semenanjung Korea, dan Asia Timur. Invasi Rusia terhadap Ukraina telah memicu kenaikan harga pangan dan energi, inflasi yang tinggi, dan resesi ekonomi global. Akibat dari terganggunya produksi pupuk, pangan, dan energi serta rantai pasok global.
Kelima, Post-truth atau Paska Kebenaran adalah kondisi di mana fakta (kebenaran) tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal (Hartono, 2018). Post-truth dianggap sebagai fenomena disrupsi dalam dunia politik yang secara besar-besaran diintensifkan oleh teknologi digital secara masif menjadi suatu prahara (Wera, 2020).
Pada era post-truth sekarang ini bangsa Indonesia perlu bersikap waspada karena hoaks politik dapat melemahkan ketahanan nasional, bahkan memecah belah NKRI, sehingga mengganggu proses pembangunan nasional yang sedang berjalan (Amilin, 2019).
“Kelima kecenderungan global diatas mengakibatkan kehidupan dunia bersifat VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, and Ambiguous), bergejolak, tidak menentu, rumit, dan membingungkan (Radjou and Prabhu, 2015),” terang Duta Besar Kehormatan Kepulauan Jeju dan Kota Metropolitan Busan, Korea Selatan itu.
Sembilan Kebijakan Pembangunan TSE untuk Indonesia
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Rokhmin Dahuri menterjemahkan definisi Sembilan kebijakan pembangunan TSE. Yakni: 01. Dari dominasi eksploitasi SDA dan ekspor komoditas (raw materials) dan buruh murah, ke dominasi sektor manufaktur atau HILRISASI (sektor sekunder) dan sektor jasa (sektor tersier) yang produktif, berdaya saing, inklusif, mensejahterakan, dan berkelanjutan (sustainable). Pengelolaan ESDM berdasarkan pada Pasal 33 UUD 1945: hasilkan: Rp 20 juta/warga negara/bulan.
02. Dari dominasi impor dan konsumsi ke investasi, produksi, dan ekspor. v Karena sekitar 2/3 perdagangan global berjalan melalui GVC = Global Value Chain (Rantai Nilai Global) à Maka, bila Indonesia ingin memacu pertumbuhan ekonominya diatas 7% per tahun, produk dan jasa (goods and services) buatan Indonesia harus terintegrasi ke dalam GVC à Artinya: produk dan jasa Indonesia mesti berdaya saing tinggi (Kualitas top, Harga relatif murah, dan Suplai mampu memenuhi kebutuhan konsumen/pasar setiap saat).
Partisipasi Indonesia dalam GVC sebagian besar terbatas pada proses manufaktur sederhana seperti perakitan, dan tingkat partisipasinya rendah dibandingkan negara-negara berkembang lainnya. v Pangsa ekspor global produk manufaktur Indonesia pada tahun 2021 adalah 0,38%, dibandingkan dengan Vietnam sebesar 2%, dan Malaysia sebesar 2,9%. Pangsa ekspor manufaktur Indonesia kurang dari 1%, dibandingkan Malaysia dan Thailand yang masing-masing mencapai 1,5%, dan Vietnam 3,5% (UNCTAD, 2022).
Modernisasi sektor primer (kelautan dan perikanan, pertanian, kehutanan, dan ESDM) secara produktif, efisien, berdaya saing, inklusif, ramah lingkungan dan berkelanjutan à Untuk meningkatkan Produktivitas Ekonomi Bangsa. TFP (Total Productivity Factor) Indonesia menurun 50% sejak tahun 2010, jauh di bawah negara-negara ASEAN (World Bank, 2023).
03. Modernisasi sektor primer (kelautan dan perikanan, pertanian, kehutanan, dan ESDM) secara produktif, efisien, berdaya saing, inklusif, ramah lingkungan dan berkelanjutan à Untuk meningkatkan Produktivitas Ekonomi Bangsa. v TFP (Total Productivity Factor) Indonesia menurun 50% sejak 2010, jauh di bawah negara-negara ASEAN (World Bank, 2023).
Ciri Ekonomi Modern, yaitu: Pertama. Ukuran unit usaha memenuhi economy of scale, Kedua, Menerapkan ISCMS (Integrated Supply Chain Management System). Ketiga, Menggunakan teknologi mutakhir pada setiap mata rantai Supply Chain System, dan Keempat, Mengikuti prinsip-prinsip Sustainable Development.
04. Revitalisasi industri manufakturing yang unggul sejak masa Orba: (1) Mamin, (2) TPT (Tekstil dan Produk Tekstil), (3) Elektronik, (4) Otomotif, (5) Kayu dan Produk Kayu, dan lainnya.
05. Pengembangan industri manufakturing baru: EBT (Energi Baru Terbarukan), Chips, Semikonduktor, Baterai Nikel, Electrical Vehicle, Bioteknologi, Nanoteknologi, Kemaritiman, Ekonomi Kreatif, dan lainnya.
06. Pengembangan berbagai Ekonomi dan Industri di Luar Jawa, Wilayah Perdesaan, dan Wilayah Perbatasan à Untuk mengurangi disparitas pembangunan antar wilayah.
07. Peningkatan pendapatan negara, yang saat ini baru mencapai Rp 2.777 trilyun (13% PDB), jauh lebih kecil ketimbang rata-rata tax ratio (pendapatan) negara-negara berkembang-maju (emerging economies) lainnya sebesar 28% PDB, dan negara-negara maju yang mencapai 40% PDB (Bank Dunia, 2023). Dengan cara: (1) Pengelolaan ESDM dan hutan berdasarkan pada Pasal 33 UUD 1945, dengan hasil Rp 20 juta/warga negara/bulan; dan (2) peningkatan tax rate (dari 12% menjadi 20%) dan tax base (pembayar pajak).
08. Semua pembangunan ekonomi (butir-1 s/d 4) mesti berbasis pada Pancasila (pengganti Kapitalisme), Ekonomi Hijau (Green Economy), Ekonomi Biru (Blue Economy), Ekonomi Sirkuler, dan Ekonomi Digital (Industry 4.0) serta TKDN > 50%. v Pengembangan Ekosistem Kendaraan Listrik dan EBT. v Kebijkan fiskal yang mendukung program transisi energi untuk menurunkan emisi karbon sebesar 31,9% dan meningkatkan proporsi EBT dalam National Energy Mix menjadi 25% pada 2030.
09. Menyiapkan SDM (Human Capital) Indonesia unggul (knowledgeable, skillful, expert, top work ethics, dan berakhlak mulia) yang mampu merencanakan, mengimplementasikan, dan melakukan MONEV kedelapan kebijakan/program pembangunan ekonomi diatas. Melalui: (1) program Upskilling dan Reskilling tenaga kerja yang ada saat ini (existing working force), dan (2) penyempurnaan sektor kesehatan, pendidikan, R & D (LITBANG), pelatihan & penyuluhan, dan Agama.
Industri 4.0 & Industri Akuakultur
Revolusi Industri Keempat (Industri-4.0) menawarkan serangkaian teknologi, dan beberapa di antaranya dapat diterapkan pada Sistem Akuakultur untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi (profitabilitas), daya saing, dan keberlanjutan. Sangat tepat untuk menerapkan istilah ‘Aquaculture 4.0’ pada budidaya perairan yang didorong oleh teknologi disruptif ini. v Beberapa “Proyek Aquaculture 4.0” yang menarik telah terbukti berhasil di sektor akuakultur.
Karakteristik Dasar Budidaya Perikanan 4.0, yaitu: Meningkatkan akurasi, presisi, dan keterulangan dalam proses akuakultur, Memfasilitasi tingkat otomatisasi yang lebih tinggi atau kontrol bawaan dalam pemantauan rutin sistem akuakultur, Menyediakan sistem pendukung keputusan yang dapat diandalkan dan ditandai dengan program terkomputerisasi untuk mengumpulkan dan menganalisis data serta mensintesis informasi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah dengan algoritma komputer atau intervensi manusia atau keduanya, Mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual, dan penilaian subjektif, Budidaya Perairan yang Lebih Produktif, Efisien, Kompetitif, dan BerkelanjutanContoh Betapa Raksasanya Potensi Ekonomi Budidaya Udang Vanammei
Selanjutnya, Prof. Rokhmin Dahuri menguraikan potensi lahan pesisir yang cocok: 3 juta ha. v Dalam 5 tahun kita kembangkan 0,5 juta ha (17%) untuk budiaya intensif Udang Vanammei: Pertama, Padat tebar : 60 PL (benur)/m2. Kedua, Produktivitas: 40 ton/ha/tahun. Ketiga, Produksi: 500.000 ha x 40 ton/ha/th = 20.000.000 ton/th = 20 milyar kg/th. Keempat, Pendapatan kotor: 20 milyar kg/th x US$ 5/kg = US$ 100 milyar/th = Rp 1.350 triliun/th (50% APBN 2018) atau 10% pertumbuhan ekonomi (PDB). Kelima, Pendapatan bersih: Rp 40 juta/ha/bulan. Keenam, Lapangan kerja on-farm: 500.000 ha x 4 orang/ha = 2 juta orang. Ketujuh, Lapangan kerja off-farm: 500.000 ha x 6 orang/ha = 3 juta orang.

Komentar