Seminar Forum Indramayu Studi, Prof Rokhmin Dahuri: Lawan Stunting dengan Konsumsi Ikan
ASKARA - Cendikiawan Muslim yang juga Pakar Ekonomi Kelautan, Prof. Dr. Ir. H. Rokmin Dahuri MS menyampaikan Islam telah mengajarkan kepada umatnya tentang bagaimana cara hidup bahagia dan sukses baik di dunia maupun di akhirat.
Demikian disampaikan Prof. Rokhmin Dahuri pada acara Seminar Nasional “ Yuk Makan Ikan : Kaya Akan Manfaat (Cegah dan Tangkal Stunting Sejak Dini)”, Forum Indramayu Studi (FIS) di Sekolah TK Hidayatushibyan, Samping Masjid Arahan Kidul, Desa Arahan Kidul, Indramayu, Sabtu (3/2).
“Setidaknya terdapat tiga kunci sukses dunia akhirat. Maka dari itu, hal pertama yang mesti dilakukan adalah jadilah yang terbaik apapun dan dimanapun. Kita mesti bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla atas nikmat dan karunia-Nya,”ujar Ketua Umum Dulur Cirebon itu.
Aktivitas masa kanak-kanaknya sampai sekarang selalu penuh dengan urusan laut dan ikan. Maka, sebagai anak nelayan, perhatian Prof. Rokhmin Dahuri terhadap nelayan dan lautan amat besar. Wajar bila sejak kecil ia pun bertekad membangun bidang kelautan dan perikanan.
“Saya mempraktekkan prinsip ini, qadarullah mulai SD di Gebang, SMP di Babakan, SMA 2 di Cirebon. lulus dengan predikat juara satu terus,” ungkap Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Gotong Royong 2001-2004.

Kemudian Prof. Rokhmin Dahuri yang dikenal sebagai Tokoh Nasional Inspiratif asal Cirebon menceritakan perjalanan hidupnya. Pria kelahiran Desa Gebang Mekar (Kampung Nelayan) – Cirebon tanggal 16 November 1958 mendapat beasiswa dari Kanada.
Dia berhasil menyelesaikan program Doktor bidang Ilmu Ekologi dan Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan dari School for Resources and Environmental Studies, Dalhousie University, Halifax, Nova Scotia, Canada pada tahun 1991.
Penerima piagam penghargaan Dosen Teladan I Tingkat Nasional (1995) dan Indonesian Development Award (1999) ini memiliki filosofi hidup: “Menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama umat manusia dan semesta alam, bekerja keras dan profesional serta hidup dekat dengan Tuhan”.
“Tahun 1995 saya dinobatkan menjadi dosen terbaik nomor 1 seluruh Indonesia, dan dapat hadiah dari Presiden Soeharto sebesar 200 juta rupiah,” kata Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University ini.
Maka, Prof. Rokhmin Dahuri mengingatkan jangan pernah minder dan jangan putus asa dari rakhmat Allah ketika kita menjadi wong cilik, menjadi petani, anak nelayan dst. Karena dalam pandangan Allah manusia yang paling baik dan mulia adalah yang paling bertakwa.
Hal ini, sebagaimana Allah berfirman dalam QS Al Hujurat: 13. Inna Akromakum Indallahi Atqokum, orang yang paling mulia di mata Tuhan adalah yang paling bertakwa. Kemudian ditegaskan jenis kelaminmu suku bangsamu tidak bisa membuat kamu Mulia kalau kamu tidak bertakwa.
“Itu pesan penting bahwa kita semuanya bisa mulia, yaitu yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Jadi apapun jangan pernah minder, jangan pernah menganggap orang yang paling baik, mulia di sisi Allah itu yang menjadi presiden, menteri, anggota Dewan, orang kaya yang penting bertakwanya,” paparnya.

Tetapi, Prof. Rokhmin Dahuri mengingatkan, bukan berarti orang muslim tidak boleh menjadi kepala Negara. Boleh menjadi kepala Negara tetapi jangan seperti Firaun yang kerjanya pembohong, yang kerjanya hanya pencitraan, yang zolim mengaku sebagai tuhan.
“Sebagai muslim harus kaya tapi jangan seperti Qorun. Tapi jadilah seperti sahabat Nabi yaitu Abddurrahman bin Auf. Menjadi ilmuwan diperbolehkan tapi jangan seperti Hamam yang kerjanya menipu rakyat, tapi jadilah ilmuwan seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Seperti Ibnu Al Khawarizmi,” kata Duta Besar Kehormatan Kepulauan Jeju dan Kota Metropolitan Busan, Korea Selatan ini.
Selanjutnya, Prof. Rokhmin Dahuri menceritakan bahwa kesuksesan Mark Zuckerberg dalam membuat Facebook sebagai media sosial terpopuler di dunia saat ini adalah hasil dari “berguru” kepada salah satu ilmuwan Muslim.
Dalam salah salah satu komentarnya, “Saya heran ada orang-orang yang terlalu mengidolakan saya, padahal saya sangat mengidolakan ilmuwan Muslim Al-Khawarizmi karena tanpa Algoritma dan Aljabar, maka jangan pernah bermimpi ada Facebook, WhatsApp, BBM, Line, games bahkan komputer.”
Lalu, siapa Al-Khawarizmi? Nama lengkapnya adalah Muhammad Ibn Musa Al-Khawarizmi, dilahirkan di Uzbekistan(194 H/780 M) dan wafat di Baghdad (266 H/850 M). Dia adalah perintis dalam ilmu matematika dan ilmu-ilmu pasti yang lain.
Al-Khawarizmi adalah pelopor dalam penggunaan angka nol dalam matematika yang dikenal dengan nama algoritma. Ia menulis buku babon tentang matematika, yaitu “al-Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabar wa al-Muqabalah (Kompendium tentang Hitung Aljabar dan Persamaan, tahun 825 M).
“Itulah Islam yang benar tercermin dalam surat Albaqarah ayat 201 dikenal sebagai doa sapujagat. Di antara mereka ada juga yang berdoa, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka,” jelasnya.
Untuk itu, kata Prof. Rokhmin Dahuri, jadilah orang terbaik, apapun posisi kita dimanapun berada. Selanjutnya untuk kiat sukses yang kedua, silaturrahim menjalin persaudaraan. “Jangan pernah ada perasaan iri, dengki, hasud. Makanya dia mengingatkan orang yang shalatnya rajin tapi ada rasa dengki,” kata Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2020 – Sekarang.
Prof. Rokhmin Dahuri membeberkan bahwa silaturrahim membawa nilai positif, pertama umur panjang, kedua rezeki ditambah. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah menjalin silaturrahim." (HR Bukhari).
Kiat sukses ketiga, bertakwa kepada Allah, yakni melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan menjauhi segala larangan-Nya. Harus dicatat bahwa perintah Allah itu bukan hanya berupa salat, puasa, zakat, haji, dan ibadah mahdhah lainnya. “Tetapi juga terkait muamalah (kesalehan sosial) seperti mengais rezeki secara halal, konsumsi makanan yang halal lagi baik, hidup bersih, menuntut dan mengamalkan iptek, bekerja keras, jujur, ikhlas, disiplin, menyayangi sesama, toleran, merawat dan melestarikan lingkungan, dan amal saleh lainnya,” paparnya.
Maka, lanjutnya, menjalankan shalat tahajud. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al ISra ayat 79,"Pada sebagian malam lakukanlah salat tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."

Agar Stunting Berkurang
Pada kesempatan tersebut, Menurut Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Nusantara itu, kondisi Stunting atau masalah kurang gizi kronis di Indonesia sangat ironis mengingat potensi sumber gizi yang melimpah yaitu dari sektor perikanan dan kelautan. Angka stunting di Indonesia mencapai 27,7%. Padahal berdasarkan acuan WHO (Badan Kesehatan Dunia PBB-red), batas amannya maksimum 20%.
“Masalah kesehatan masyarakat dapat dianggap kronis bila prevalensi stunting lebih dari 20 persen, dan prevelensi di Indonesia saat ini 27,7%. Artinya, secara nasional masalah stunting di Indonesia tergolong kronis, terlebih lagi di 18 provinsi yang prevalensinya melebihi angka nasional,” terang Dosen Kehormatan Mokpo National University Korea Selatan itu.
Berdasarkan laporan Kemenkes dan BKKBN, bahwa 30.8% anak-anak kita mengalami stunting growth (menderita tubuh pendek), 17,7% bergizi buruk, dan 10,2% berbadan kurus akibat kurang makanan bergizi. Dan, penyebab utama dari gizi buruk ini adalah karena pendapatan orang tua mereka sangat rendah.
“Kita tahu bahwa stunting mengakibatkan penderitanya berfisik lemah, rentan sakit, dan rendah kecerdasannya (lost generation). Bonus demografi pada 2021-2030 bisa menjelma jadi malapetaka demografi sehingga Indonesia terjebak sebagai negara berpendapatan menengah (middle-income trap), alias gagal menjadi negara maju, adil-makmur, dan berdaulat pada 2045,” ujar Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia tersebut.
Lalu, Prof. Rokhmin Dahuri menyampaikan bagaimana agar stunting kita bisa berkurang. Menurutnya, penyebab stunting karena anak mendapat asupan gizi yang buruk, tidak berprotein dan tidak ada vitamin.
Prof. Rokhmin Dahuri membeberkan, konsumsi orang Indonesia terhadap beras rata-rata 121 kg pertahun padahal rata-rata dunia mengkonsumsi beras 50 gram per orang pertahun, dan menurut penelitian litbang makan beras tidak boleh lebih 60kg per orang pertahun.
“Ternyata menurut WHO penyakit diabetes yang paling tinggi di Indonesia. Penyebab utamanya adalah karena makan beras terlalu banyak, maka perlu dikurangi lalu ditingkatkan protein hewani yaitu dari ikan,” terang Ketua Dewan Pakar Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (ADKASI) itu.
Dalam kesempatan itu, Prof. Rokhmin Dahuri memaparkan ikan menjadi produk strategis dalam pencegahan stunting, menurut Prof Rokhmin karena mempunyai keunggulan nutrisi dibandingkan dengan red meat (daging sapi, ayam) dan telur. Selain itu, potensi produksi perikanan di Indonesia sangat besar dengan keragaman jenis ikan di Indonesia sangat tinggi dan tersedia sepanjang tahun.
Ikan, jelasnya, merupakan makanan terbaik yang banyak mengandung nutrisi yang sangat berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan otak. Dengan mengonsumsi ikan, dapat menjaga tubuh tetap sehat dan terhindar dari penyakit fisik maupun mental.
“Ikan memiliki kandungan protein rata-rata 22 persen, sedangkan ayam dan telur hanya 16 persen. Ikan itu tidak mengandung asam lemak jenuh yang menyebabkan kolesterol, jantung, stroke. Ikan membuat kecerdasan karena mengandung iridium enzim,” katanya.
Sekarang konsumsi ikan di Indonesia rata-rata baru 55 kg perorang/tahun. Sedangkan orang luar rata-rata 100kg per tahun. Menurutnya, hal ini masalah besar bahwa dari 27 kabupaten yang ada di Jawa Barat produsen perikanan terbesar di Indonesia terletak di Indramayu.
“Hampir 40 persen ikan hasil tangkapan dari laut itu di Indramayu, Sayangnya, konsumsi makan ikan di Indramayu baru 40kg perorang/tahun. Semestinya bagi ibu-ibu yang sedang mengandung harus banyak makan ikan, sayuran, sampai anak itu umur balita,” terangnya.
Kedua, stunting itu akibat pola asuh yang salah, Stunting itu bisa dicegah dengan menambah gizi. Namun. Katanya, hal ini kalau penghasilannya Rp7,5 juta minimal per bulan. Menurut Bank Dunia orang yang dikatakan tidak miskin itu kalau pengeluaran sehari 3 dolar sehari. Sebulan perlu 90 dolar, 1,5 juta
Untuk pencegahan stunting Prof Rokhmin mendorong pemenuhan kebutuhan gizi bagi ibu hamil dengan ikan dan produk olahan salah satunya melalui bantuan sosial (bansos) dari pemerintah. “Bagi keluarga miskin wajib menerima bansos paket komoditas atau produk olahan,” pungkas Profesor Emeritus, Shinhan University, Korea Selatan itu.

Biasakan Makan Ikan
Sebelumnya, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut Kementerian Kelautan Perikanan, Dr. Ir. Kusdiantoro mengaku bersyukur menjadi orang Indramayu. Apalagi produksi ikan terbesar ada di Indramayu.
“Sayangnya masyarakat Indramayu masih miskin. Padahal kalau anak-anak mulai diajarkan makan ikan bisa menjadi cerdas. Contohnya Prof. Rokhmin Dahuri, anak nelayan asli tapi bisa menjadi profesor, ahli perikanan. Saya ingin menunjukkan anaknya berhasil meski ibu bapaknya nelayan,” katanya.
Untuk itu, dia mendorong anak-anak Indramayu rajin belajar agar kedepan bisa lebih baik kehidupannya tanpa meninggalkan sebagai seorang muslim, itu yang utama. “Biasakan anak-anaknya makan ikan supaya menjadi pintar,” katanya.
Selain itu, Kusdiantoro mengingatkan, agar tidak membuang sampah botol plastik ke pantai sehingga laut menjadi kotor, nelayan pun tidak bisa lagi menangkap ikan. “Buanglah sampah botol plastic itu ke tong sampah, jangan ke pinggir laut. Supaya laut kita tetap sehat, dan bisa memberikan manfaat bagi nelayan,” imbuhnya.
Kusdiantoro menyampaikan, bahwa Prof. Rokhmin Dahuri sudah selesai dengan urusan dunia, sudah tidak lagi memikirkan materi. “Makanya beliau ingin mengabdikan dirinya untuk fokus memajukan masyarakat, khususnya di Indramayu dan Cirebon,” kata Kusdiantoro.

Komentar