Dark Mofo Festival Tasmania Musim Dingin Dan Gelap
Oleh: Yoyon Darsono
ASKARA - Dark Mofo Festival Dark Mofo Festival adalah sebuah perhelatan besar pertunjukan budaya kontemporer dan pesta makanan/kuliner khas Hobart Tasmania Australia yang berlangsung dari tanggal 8 – 24 Juni 2023 di Kota Hobart pinggir laut.
Dark Mofo adalah Festival di Musim dingin dan gelap yang dilaksanakan di lokasi Long House bangunan tertutup (di dalam) dan di luar area Long House dengan beberapa perapian untuk pemanas badan dan dilaksanakan di area taman Winter Feast kota Hobart Tasmania.
Rumah Tempat Singgah:
Tanggal 6 bulan Juni 2023 saya dan rombongan ber enam (6) yakni saya Yoyon Darsono, Bah Nanu, Mang Ayi, Mang Iyay (Yaya), Bi Raspi, dan Pak Deny datang ke Kota Hobart Tasmania Australia. Sedangkan Pak Tisna Sanjaya, Kang Hani dan Kang Hary sudah datang ke Hobart lebih dulu pada tanggal 26 Mei 2023. Suhu udara di Kota Hobart saat itu 6 derajat celcius.
Tentu saja bagi saya sebagai orang Indonesia asal Bandung Jawa Barat sangat merasakan kedinginan yang luar biasa. Jaket paling tebal yang saya bawa dari Bandung langsung dikeluarkan dari kopor dan dipakai. Tentu jaket itu sangat menolong saya dari kedinginan.
Sangat jauh berbeda dengan suhu udara di Indonesia pada umumnya. Di Hobart Tasmania yang lagi musim dingin itu, apabila salah memakai pakaian bisa sakit karena kedinginan. Suhu 6 derajat itu bisa dirasakan seperti tangan kita dimasukan ke dalam kulkas yang dinginya seperti tembus ke dalam tulang.
Satu rumah yang cukup besar dengan 4 kamar satu kamar mandi di atas dan 2 kamar 1 kamar mandi di bawah cukup menampung kami dengan nyaman. Yang tidak nyaman bagi kami adalah suhu udara yang dingin itu, mungkin juga karena kami belum bisa adaptasi. Padahal semua kamar memakai alat pemanas yang bisa digeser-geser disesuaikan dengan kebutuhan.
Terkadang saya ingin selalu dekat dengan alat pemanas itu. Rumah itu memiliki satu dapur di belakang yang memanjang dengan pemandangan yang sanagat indah. Apabila melihat keluar dari kaca terhampar pemandangan rumah-rumah dan pepohonan di bawah, bangunan-bangunan tinggi, jembatan yang panjang yang menhubungkan Kota Hobart dengan kota lain, dan laut (teluk), serta paling ujung pandangan mata adalah terlihat gunung-gunung yang menyambung seperti mengelilingi Kota Hobart.
Rumah itu adalah milik dari orang tuanya Lisa kurator Dark Mofo Festival yang bisa ditempati selama acara berlangsung sampai dengan selesai.
Betah Di Dapur: Ukuran dapur kurang lebih 2.5 X 6 M yang memanjang dan bersih sehat apalagi dengan pemandanganya terlihat sangat indah menjadi benar-benar betah.
Dapur ini dipasilitasi dengan peralatan kompor listrik, pemasak air listrik, ada mejikom pemasak nasi, panci-panci, piring, gelas, tempat cuci piring, dll. Yang bikin betah di dapur adalah hangat, karena sinar matahari langsung masuk ke daput yang menembus kaca dan bisa melihat pemandangan rumah-rumah dan pepohonan yang hijau, gedung-gedung tinggi, laut dan gunung-gunung yang menyambung seperti mengelilingi Kota Hobart Tasmania. Yang bikin betah di dapur yang lainya adalah banyak makanan. Roti plus selai kacang selalu menghiasai meja tempat peralatan dapur.
Ada telor, Indomie, daging Ayam dan beras mati? Beras India yang panjang-panjang yang “bear”. Udara dingin menjadikan perut selalu lapar saja. Terkadang kalau lagi masak ramai-ramat, dapur bisa macet “pagegelek” alias “heurin usik”.
Menu pavorit setiap hari adalah nasi putih, goreng ayam, goreng telor dan Indomie. Menu itu menjadi ciri khas makanan kami karena itu dirasakan yang paling gampang masaknya.
Ada beberapa kesalahan selama di dapur yang tidak disengaja, yaitu menyimpan teko pemasak kopi langsung disimpan diatas meja kayu yang dilapisi seperti melamin dan langsung rusak kepanasan hingga ada bekasnya. Kesalahan kedua adalah lupa memasak air menggunakan teko listrik ditaro diatas kompor listrik hingga plastiknya meleleh bau hangit.
Long House:
Long House adalah Rumah Panjang tempat kita pertunjukan di Kota Hobart Tasmania Australia. Bangunan itu terbuat dari konstruksi besi yang cukup tebal, kuat dan cukup tinggi. Dindingnya memakai mica/plastik yang transparan, sehingga apa pun kegiatan di dalam akan terlihat dari luar. Gedung itu dilengkapi dengan Lampu-lampu penerangan di atas dengan cahaya putih, dan dibagian sayap kanan dan kiri atas dipasang lampu-lampu warna yang dapat diatur baik terang maupun redupnya.
Gedung Long House ini juga memiliki beberapa pintu besar yang dapat dibuka dengan cara digeser. Di dalamnya disediakan 5 toilet duduk yang bersih dan satu kamar mandi air hangat. Sarana lain adalah sound system yang dapat dipergunakan sebagai penunjang tata suara untuk kebutuhan musik.
Persis ditengah-tengah Long House sebagai tempat pertunjukan “JEPRUT”, dipasang Patung Ibu Bumi setinggi 4 meter berdiri seolah di atas perahu kecil yang dibuat langsung di tempat itu oleh Pematung Hany dan Hary.
Di area Patung ini juga digunakan sebagai tempat untuk para pemusik dengan menggunakan alas kayu (level) setinggi kurang lebih 15 cm. Gedung Long House ini juga sering digunakan dan dipakai untuk berkumpul dan diskusi serta kegiatan oleh keturunan orang-orng suku Aborigin.
Pemanas Ruangan Long House
Pemanas yang digunakan di dalam ruangan Long House adalah pemanas dengan bentuk menyerupai lampu petromak dengan memakai gas sebagai sumber api pemanasnya. Jumlah pemanas ada 2 buah yang pendek dan 1 pemanas yang tinggi. 2 pemanas yang pendek diletakan 1 di depan dan 1 di belakang area panggung yang didekatkan ke pemusik untuk supaya para musisi yang duduk bersila tidak kedinginan.
1 pemanas yang tinggi diletakan di belakang untuk para penonton. Bayangkan dengan suhu kisaran 4 – 7 derajat celcius apabila tidak ada pemanas sudah pasti kami sangat kedinginan. Memakai pemanas pun tetap jari-jari tangan merasa kedinginan hingga berpengaruh pada tidak terasanya menengkep lubang-lubang nada suling dan lubag-lubang nada pada tarompet karena tangan jari-jari “ba’al” kedinginan. Hal serupa juga dirasakan oleh Mang Ayi yang memainkan kacapi pantun.
Jadwal Pelaksanaan Pertunjukan
Pelaksanaan pertunjukan dimulai pada tanggal 8 – 11 Juni 2023 dan tanggal 14 – 18 Juni 2023, mulai pada pukul 17.00 – 21.45 waktu setempat, yang dibagi 3 sesion.
Sesi Pertama:
Pukul 17.00 – 18.30
Istirahat:
Pukul 18.30 – 18.45
Sesi kedua:
Pukul 18.45 – 20.15
Istirahat:
Pukul 20.15 – 20.30
Sesi ketiga:
Pukul 20.30 – 21.45
Jalanya Pertunjukan Jeprut - Rakus
Peralatan musik, sound system dan semua perlengkapan untuk kebutuhan pertunjukan sudah disiapkan beberapa menit bahkan satu jam sebelumnya.
Kain samping batik yang sudah dipasang ditata rapi, serbuk kunyit, arang dari batu bara hitam yang sudah di blender menjadi serbuk, ember-ember cat tembok, sapu, sikat, kayu pengocek cat, koas cat, dll siap dimainkan semuanya. Begitupun alat musik Kacapi, Suling, Rebab, Tarompet, Kendang dan Vokal sudah siap.
Tepat pada pukul 17.00 musik pembuka mulai dimainkan dengan menggunakan kacapi dan suling dengan suasana menyambut para penonton datang memasuki ruangan Long House. Suara suling besar dengan nada rendah masuk dalam getar kawat kacapi membuat suasana di dalam ruangan itu menjadi hangat tetapi sedikit menjadi berkesan mistis karena dupa mulai mengepul tebal dan wangi ke langit-langit Long House.
Pada awalnya saya berprasangka bahwa kepulan asap dari dupa setidaknya dapat menggangu para penonton. Tapi setelah diperhatikan penonton tidak goyah dengan kepulan asap yang terus “ngelun” hingga asapnya memenuhi ruangan Long House. Mungkin karena kepulan asap itu adalah doa maka mereka para penonton tetap berkerumun memenuhi Long House tempat pertunjukan.
Luar biasa, sebuah pertunjukan dengan kekuatan energi magnetik yg dapat mengunci penonton diam ditempat, terhipnotis melihahat berbagai proferty lukis mulai dari beberapa buah samping batik yang menggantung yang sudah terlukis dengan serbuk rempah yg mewangi terpajang sangat artistik; kemudian mereka juga melihat patung yg menjulang setinggi 4 m yang merupakan Ibu Bumi; mereka juga mendengarkan alunan musik dari suara Kacapi dan vokal ceritera pantun Mang Ayi, suara tarompet, suling, rebab dari Yoyon Darsono, Vokal bi Raspi, dan suara kendang dari Mang Iyay, dan melihat "parukuyan" (dupa) yang tanpa henti terus mengeluarkan asap kemenyan yg mewangi ke langit-langit Long House dari Bah Nanu yang sigap bersila sambil berdoa; 33 samping batik yg ditata secara artistik melingkari para pemain musik yg berada di bawah patung Ibu bumi.
Batik-batik satu persatu di guyur dengan cat tembok warna putih, ditaburi serbuk rempah kunyit, jahe, dll oleh Tisna Sanjaya. Semua pemandangan itu membuat para penonton benar-benar terkesima dan terkunci diam seolah terhipnotis melihat semua yg baru pertama kali mereka melihatnya. Muka-muka mereka melongo, kadang seperti senyum keheranan seolah sedang berpikir dan penuh dengan tanda tanya, ini apa?
Kira-kira begitu pertanyaanya. Energi musik awal sebagai opening yang dilanjutkan dengan musik Rajah dan fatwa pantun seperti mengantarkan perasaan magis. Tetapi setelah pendoa berdiri dengan mengangkat "parukuyan" sambil berjalan menari dengan lembut menjadi perhatian dan sorotan mata penonton yang benar-benar fokus terhadap pembawa dupa.
Suasana mulai berubah ketika pendoa menghampiri penonton yang diberikan buah apel sebagai media bahwa yang sudah diberikan buah apel akan diajak menari dalam suasanah sakral. Sesi ini membuat suasana mencair dan gembira hingga beberapa penonton seolah menunggu antrian untuk diberikan buah apel dan diajak menari oleh pembawa dupa yang terus mengepul.
Adegan yang paling seru adalah di bagian akhir dari setiap sesi, dimana para penonton seperti tidak sabar untuk ikut menari memutar mengelilingi para pemusik di area patung dengan penuh suka cita. Bah Nanu melepaskan Dupa nya dan mulai mengajak para penonton untuk ikut bergabung dan menari dengan gaya Ronggeng Gunung. Suara Bi Raspi seolah memberikan semangat untuk terus nari memutar berjalan maju dan mundur sesuai apa yang dilakukakn Bah Nanu.
Adegan akhir dari setiap sesi dapat dilakukan dan diikuti oleh anak-anak sampai orang tua tanpa batas. Mereka seperti bernafsu untuk bisa ikut menari memutar mengelilingi para pemusik di bawah patung Ibu Bumi. Pertunjukan Jeprut Ibu Bumi dan Rakus ini berakhir dengan happy ending, hingga tepuk tangan para penonton tidak bisa lagi terbendung sebagai ungkapan kegembiraan dan kepuasan saat mereka menonton dan ikut bagian dari pertunjukan sampai acara berakhir.
Menurut catatan Panitia Dark Mofo, Festival ini dihadiri oleh kurang lebih 30 ribu pengunjung, selama musim festival 2023.
Terima Kasih
Yoyon Darsono, Penata Musik – musisi pada Greed – Jeprut - Dosen Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung – Jurusan Musik Program Studi Angklung dan Musik Bambu.
Tanggal 12 Juni 2023 adalah waktunya bebas tidak ada pertujnjukan. Saya dan kawan-kawan di bawa jalan-jalan ke Musium Mona yang berada di bawah tanah. Perjalanan dari Hobart ke Mona Musium ditempuh kurang lebih 30 Menit dengan Kapal Pesiar.
Tanggal 13 Juni 2023, kita berkesempatan untuk Rekording/rekaman musik yang dipakai dalam perform Rakus.
Lokasi Rekaman di Studio Mona.
GREED, sebuah performance interaktif yang mengukir nama Tisna Sanjaya dan Jeprut dalam ingatan warga kota Hobart dan pengunjung Dark Mofo dari seluruh dunia.Baru pertama kali mereka mengalami sebuah pagelaran seni yang membuat seluruh anggota keluarga larut dalam riuh ramai pertunjukan intermedia.
Seorang bapak mencetak tubuhnya, anak melukis di atas kain batik, dan ibu yang menari riang diiringi musik yang menghipnotis. Sungguh sebuah pengalaman yang luarbiasa.

Komentar