Khutbah Idul Adha di Lapangan “Taman At-Taubah”, Masjid Baabut Taubah Pulomas
Prof. Rokhmin Dahuri: Pemimpin Harus Peka Terhadap Berbagai Permasalahan Bangsa Saat Ini
ASKARA – Dewasa ini kejujuran, amanah, keikhlasan, dan persatuan (ukhuwah) telah menjadi barang langka di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Tidak sedikit para pemimpin dan elit bangsa kita yang hanya mengumbar janji pada saat kampanye, tanpa realisasi ketika terpilih menjadi pemimpin atau wakil rakyat. Pencitraan dan hoax dijadikan alat untuk memamerkan kinerjanya.
Demikian disampaikan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS dalam Khutbah Idul Adha di Lapangan “Taman At-Taubah”, Masjid Baabut Taubah. Pulomas, Jakarta Timur, DKI Jakarta, 10 Dzulhijjah 1444 H / 29 Juni 2023, dengan tema “Memaknai Dan Mengamalkan Nilai-Nilai Substansial Idul Adha Untuk Kesuksesan Dan Kebahagian Hidup Manusia Di Dunia Dan Akhirat”.
“Bukan karya nyata dan platinum legacy yang dapat mencerdaskan, mensejahterakan, dan membahagiakan rakyatnya. Persatuan dan persaudaran (ukhuwah) begitu mudahnya digaungkan, terutama oleh para pemimpin. Tetapi, pidato dan kerjaan mereka justru membuat masyarakat kian terbelah (terfragmentasi), seperti kadrun vs. kampret, dan pembelahan masyarakat berbasis perbedaan lainnya. Kasih sayang, perdamaian, dan saling tolong menolong antar komponen bangsa semakin memudar. Sesama Ormas Islam dan Partai Islam masih saling berebut pengaruh, kekuasaan, harta, dan bertikai. Padahal, akhlak utama Rasulullah saw sebagai teladan paripurna kita semua adalah shiddiq (jujur), amanah, fathonah (cerdas dan visioner), tabligh, sabar, pemaaf, penyayang, dan penolong,” ,” ujar Prof. Rokhmin Dahuri.
Menurutnya, banyak faktor yang menyebabkan sejumlah paradoks (kejanggalan) yang menimpa Umat Islam, khususnya di Indonesia, seperti khatib uraikan diatas. Dan, salah satunya adalah karena Umat Islam pada umumnya di dalam menjalankan ibadah mahdhoh; termasuk ibadah haji, ibadah qurban, dan sholat Idul Adha itu hanya bersifat ritual dan seremonial belaka. Tidak memahami artinya, tidak tahu substansi dan maknanya. Apalagi untuk menjalankan (mengimplementasikan) nilai-nilai (substansi) dari berbagai ibadah mahdhah itu dalam kehidupan kesehariannya.
Maka, jangan heran bila sering kali kita menjumpai seorang muslim atau muslimah yang nampak sangat saleh secara individual (sangat baik ‘kesalehan individual’ nya). Dia sudah melaksanakan ibadah haji dan umrah berkali-kali, rajin menunaikan shalat fardhu dan sholat-sholat sunnah, puasa sunah, dan ibadah mahdhoh lainnya. Namun, dia sering menyakiti tetangganya, kikir, tidak suka menolong fakir miskin, korupsi, tidak jujur, pembohong, pendengki, pendendam, tidak mau berkurban untuk menegakkan kalimat Allah (Islam), dan akhlak buruk lainnya. “Dengan perkataan lain, sudah menjadi pemandangan sehari-hari (hal yang lumrah), bahwa kebanyakan muslim dan muslimah di Indonesia itu sangat baik ‘kesalehan individual’nya, tetapi amat buruk ‘kesalehan sosial’ nya,” ucap ucap Anggota Dewan Pembina BAMUSI (Baitul Muslimin Indonesia) itu.
Disisi lain, kata Prof. Rokhmin Dahuri, Indonesia merupakan negara penyumbang jamaah haji terbesar di dunia setiap tahunnya. Bahkan pada tahun ini, kuota haji Indonesia mencapai 221.000 jamaah atau mengalami peningkatan sekitar 10 ribu jamaah dibandingkan tahun sebelumnya. Sayangnya, peningkatan kuota jamaah haji tersebut seolah hanya sebagai simbol saja dan tidak terlalu berdampak terhadap perbaikan kualitas diri maupun bangsa kita. “Sehingga, tak heran bila perilaku akhlakul mazmumah (tercela) seperti pembunuhan, begal, perjudian, perzinahan, saling hujat, saling hantam, flexing (pamer kemewahan), korupsi, kolusi dan nepotisme masih menghiasi negeri ini. Lantas, dimanakah nilai dan makna ibadah Haji yang telah dilaksanakan oleh ratusan ribu jamaah kita setiap tahunnya ?” ujar Anggota Dewan Pakar ICMI Pusat itu.
Oleh karena itu, Prof, Rokhmin Dahuri mengajak marilah kita jadikan Idul Adha kali ini sebagai momentum bagi kita Umat Islam di Indonesia pada khususnya, dan di dunia pada umumnya. Untuk bangkit, memaknai dan mengamalkan nilai-nilai (hikmah) substansial dari setiap ibadah mahdhoh yang kita kerjakan, terutama ibadah haji, sholat Idul Adha, dan ibadah qurban. Sebagaimana diingatkan oleh Presiden pertama RI, Dr.Ir. Soekarno (Bung Karno), bahwa kita “Umat Islam harus mengambil api (substansi, ruh) Islam, bukan asapnya (ritual dan seremoni nya) saja”.
Dalam kesempatan itu, Prof. Rokhmin Dahuri menyampaikan, Hari Raya Idul Adha adalah satu dari dua hari raya umat Islam setelah Idul Fitri. Kalau di hari Raya Idul Fitri, kita Umat Islam merayakan kemenangan melawan hawa nafsu setelah lulus berpuasa Ramadhan selama sebulan penuh. Maka, di hari Raya Idul Adha ini, kita merayakan kemenangan perjuangan Keluarga Nabi Ibrahim a.s., dalam menegakkan Tauhid, taat melaksanakan perintah Allah SWT dengan ikhlas karena-Nya, dan mengalahkan godaan serta rayuan setan.
“Pada hari Idul Adha ini kita berada dalam Yaumun Nahr, hari yang sangat dimuliakan dan diagungkan oleh Allah SWT, dimana hari ini kemudian disusul dengan hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah), yakni hari-hari dimana kita justru diharamkan berpuasa. Itu menandakan bahwa hari ini adalah hari istimewa bagi setiap muslim dan muslimah, karena seiring dengan itu, hari Idul Adha ini adalah hari dimana kita diperkenankan untuk bersuka-ria, makan dan minum favorit kita. Namun, di dalam keriangan pesta itu tidak boleh bersifat boros (tabdzir) dan berlebihan (isyraf),” ujarnya.
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan 2001 – 2004 tersebut mengajak untuk selain bersuka cita dan bersyukur kepada Allah, kita pun mesti mempelajari, mengambil, dan melaksanakan nilai-nilai (hikmah) dari Idul Adha. Hal ini, menurutnya, sangat penting, karena pada dasarnya tujuan utama dan akhir (the ultimate goal) dari setiap ibadah kepada Allah SWT, termasuk ibadah haji dan ibadah qurban adalah agar kita menjadi hamba Allah muslim dan muslimah yang taqwa.

Taqwa adalah menjalankan semua perintah Allah; menjauhi setiap larangan-Nya; dan dengan kemampuan (power) yang kita miliki kita berupaya maksimal untuk menghadirkan ekosistem (situasi dan kondisi) kehidupan masyarakat (berbangsa dan bernegara) yang kondusif bagi setiap orang untuk menjalankan ketaqwaannya (amal saleh), bukan sebaliknya kondusif untuk berbuat yang diharamkan Allah.
“Karena faktanya, bahwa perintah Allah (seperti shalat, puasa, zakat, haji, menuntut ilmu, berprestasi, menolong orang, dan berbuat baik kepada sesama) itu terbukti dan pasti mendatangkan kebaikan (maslahat) bagi pelakunya maupun bagi masyarakat (bangsa) nya. Dan, sebaliknya larangan Allah (seperti berjudi, minum minuman beralkohol, narkoba, berzina, korupsi, flexing, menzalimi orang lain, malas, kikir, membuang sampah sembarangan, merusak lingkungan hidup, dan lainnya) itu terbukti buruk dan mendatangkan mudharat (malapetaka) bagi pelaku dan masyarakat (bangsa) nya,” tuturnya.
Maka, lanjut Prof. Rokhmin Dahuri, sudah hampir 78 tahun merdeka, yang berarti Umat Islam Indonesia yang merupakan mayoritas penduduk (87 – 90% total penduduk Indonesia) secara kolektif sudah 78 kali menunaikan ibadah haji, ibadah qurban, ibadah puasa ramadhan, dan 78 kali merayakan Idul Adha dan Idul Fitri. Harusnya, semua ibadah itu telah mampu menjadikan semua Umat Islam Indonesia hidup sukses dan bahagia, serta mampu mewujudkan cita-cita luhur Kemerdekaan RI, yakni Indonesia yang maju, adil-makmur, dan berdaulat (Indonesia Emas). Hal ini sesuai dengan janji (komitmen) Allah sebagaimana firman-Nya di dalam QS. At-Talaq (65): 2 – 5, dan QS. Al-’Araf (7): 96, yang pasti benarnya.
Artinya: Ayat 2 “…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” Ayat 3 “…Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya….” Ayat 4 “… Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. Ayat 5 “…dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.” Surat Al-Araf Ayat 96 Artinya : “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”
Pertanyaannya, kemudian mengapa kehidupan Umat Islam, baik di Indonesia maupun di tingkat dunia pada umumnya masih kurang sejahtera dan tertinggal. Indonesia, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, pun masih sebagai negara berpendapatan menengah (middle-income country) dengan GNI (Gross National Income) atau Pendapatan Nasional Bruto per kapita 4.784 dolar AS (BPS, 2022). Padahal, suatu negara bisa dinobatkan sebagai negara kaya (makmur) atau berpendapatan tinggi (high-income country), bila GNI per kapitanya diatas 13.205 dolar AS (World Bank, 2022).
Lebih dari itu, angka kemiskinan pun masih tinggi, sekitar 26,36 juta jiwa atau 9,57% total penduduk. Dan, jumlah penduduk yang rentan miskin mencapai 40 persen (BPS, 2022). Sedangkan, menurut World Bank (2022), angka kemiskinan Indonesia masih sekitar 37% total penduduk atau sekitar 100 juta orang. Yang lebih menyesakkan dada adalah, bahwa sekitar 183,7 juta orang (68% total penduduk Indonesia) tidak mampu memenuhi makanan bergizi seimbang, dengan harga hanya Rp 22.126 per hari (Litbang Kompas, 9 Desember 2022). Selain itu, sekitar 61,7 persen dari 65 juta unit rumah yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara tergolong tidak layak huni (Bappenas, 2019).
“Dalam hal ketimpangan antara penduduk kaya vs. miskin (economic inequality) pun, Indonesia merupakan negara terburuk ketiga di dunia, setelah Rusia dan Thailand. Menurut laporan Credit Suisse’s Global Wealth Report 2019, 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 44,6% kue kemakmuran secara nasional, sementara 10% orang terkaya menguasai 74,1%,” ungkap Ketua Dewan Pakar Ikhwanul Mubalighin itu.

Yang pasti, tegas Prof. Rokhmin Dahuri, kemiskinan, kekurangan gizi, kelaparan, ketimpangan kaya vs. miskin, dan ketertinggalan sebuah negara-bangsa adalah bertentangan (tidak sesuai) dengan nilai-nilai Islam, termasuk nilai-nilai yang terkandung dalam Idul Adha. Sebab, agama Islam sebagai pedoman hidup manusia, dengan segenap syariat dan aturannya diturunkan oleh Allah SWT adalah untuk kebaikan dan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat, dan untuk rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Baqarah [2]: 201; QS. Al-Qasas [28]: 77; QS. Al-Anbiya [21]: 107).
Al-Baqarah [2]:201 Artinya: Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". Al-Qasas [28]:77 Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Al-Anbiya[21]:107 Artinya : Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
Islam pun melarang manusia hidup bermegah-megahan (flexing), menumpuk harta, dan tidak menolong anak yatim dan orang miskin untuk bisa hidup sejahtera (QS. Al-Humazah [104]: 2; dan QS. Al-Ma’un [107]: 1, 2,3, dan 7). Karena, bermegah-megahan, menumpuk harta, dan tidak menolong orang miskin adalah akar masalah (the root cause) dari ketimpangan ekonomi dan ketidak-adilan. Rasulullah saw bersabda “Tidaklah beriman kepadaku orang yang kenyang semalaman, sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya, padahal ia mengetahuinya” (HR. At-Tabrani).
Paradoks lainnya yang melanda Umat Islam dan bangsa Indonesia adalah di bidang literasi, penguasaan IPTEK dan inovasi, produktivitas kerja, kejujuran, amanah dan akhlak mulia lainnya, serta ukhuwah Islamiyah. Riset yang dilakukan di 61 negara, bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked, oleh Central Connecticut State University pada 2016, mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan negara terburuk kedua dalam hal kemampuan literasi, hanya satu tingkat diatas Boswana yang terburuk. Finlandia, Norwegia, Islandia, Amerika Serikat, dan Australia secara berurutan menempati peringkat-1,2,3,4, dan 5.
“Sementara itu, Singapura, Malaysia, dan Thailand menduduki peringkat-36, 53, dan 59. Kapasitas IPTEK bangsa Indonesia juga masih rendah, kelas-3 (technology-adaptor country), belum mencapai kapasitas negara maju, kelas-1 (technology-innovator country) (UNESCO, 2020),” tandas Profesor Emeritus dalam Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Shinhan, Republik Korea itu.
Dalam hal kapasitas inovasi, menurut Prof. Rokhmin Dahuri, pada 2022 Indonesia berada di urutan ke-75 dari 132 negara di dunia, dan peringkat-6 di ASEAN (Global Innovation Index, 2022). Swiss, Amerika Serikat, Swedia, Inggris, dan Korea Selatan menempati peringkat–1,2,3,4, dan 5 di dunia. Padahal, ayat Al-Qur’an pertama yang turun di muka bumi ini adalah perintah membaca (literasi), Iqra! (QS. Al-‘Alaq [96]: 1). Dan, kita tahu bahwa membaca (literasi) adalah langkah (gerbang) pertama dan utama bagi seseorang untuk menguasai IPTEK dan menghasilkan inovasi. Banyak Hadits Nabi Muhammad saw yang mewajibkan orang-orang yang beriman untuk menuntut ilmu. Contohnya: “Menuntut ilmu itu diwajibkan atas mukmin dan mukminat” (HR. Muslim). Dan, Allah pun sangat menghargai dan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan (QS. Al-Mujadalah [58]: 11).
Islam mendorong umatnya untuk bekerja keras dan produktif sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw di banyak Haditsnya, antara lain: “Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan karena upaya keterampilan kedua tangannya (kerja keras) pada siang hari, maka pada malam itu, ia diampuni oleh Allah” (HR. Ahmad). “Sungguh, seorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta kepada orang lain, baik orang lain itu memberinya atau menolaknya” (HR. Bukhari). Namun, faktanya produktivitas tenaga kerja Indonesia hanya setara dengan 13,1 dolar AS per jam kerja, yang menempati urutan-5 di kawasan ASEAN. Bangsa yang paling produktif di kawasan ini adalah Singapura sebesar 73,7 dolar AS per jam kerja, disusul Brunei Darussalam di peringkat-2, sebesar 57,9 dolar AS per jam kerja. Kemudian, Malaysia (ke-3) sebesar 26 dolar AS per jam kerja, dan Thailand (ke-4) sebesar 15,2 dolar AS per jam kerja (ilostat.ilo.org, Desember 2021).

Setiap hari raya Idul Adha, setidaknya kita terus diingatkan kembali tentang Hikmah Ibadah Haji dan Hikmah Ibadah Qurban, guna meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Peristiwa ibadah haji seharusnya mampu menyadarkan kita, bahwa pada hakikatnya umat manusia adalah satu keluarga, satu kesatuan, serta sama dan setara dalam pandangan Allah SWT. Tidak ada manusia yang lebih unggul dan lebih baik dari yang lainnya, kecuali atas dasar ketakwaan atau ketaatannya kepada Allah SWT.
Sebagaimana firman Allah dalam Al Quran surat Al Hujurat ayat 13 “ Inna akramakum ‘indallahi atqakum (sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah Swt adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian)”. Ibadah haji merupakan ajaran dan ritual keagamaan sekaligus Rukun Islam pamungkas, dengan tujuan untuk menapaktilasi perjuangan ketauhidan Nabi Ibrahim a.s. dan putranya, Nabi Ismail a.s. Namun, ibadah ini hanya akan menjadi sebuah simbol atau ritual yang tidak terlalu berguna, apabila kita tidak mampu menangkap makna terdalam dari setiap aktivitasnya.
Pada dasarnya, Al- Qur’an tidak menjelaskan secara tekstual tentang makna setiap kegiatan ibadah haji. Namun, banyak sekali hikmah dan makna-makna yang tercermin dalam pelaksanaan ibadah haji tersebut yang bermanfaat untuk kehidupan manusia, baik dalam acara-acara ritual maupun non ritualnya, dalam bentuk kewajiban ataupun larangannya, dan dalam bentuk real ataupun simboliknya. Kesemuanya itu pada akhirnya mengantarkan jamaah haji semakin meyakini akan ke-Esaan Allah SWT, semakin mengingatkan tentang adanya neraca keadilan Allah di akhirat kelak, serta para jamaah haji akan semakin mengerti makna kemanusiaan yang universal tanpa perbedaan antara satu dengan yang lain.
“Semua itu akan terasa begitu dahsyat dan bergetar dalam hati seorang yang melaksanakan ibadah haji, ketika dia berupaya benar-benar menghayati makna-makna yang ada di balik ibadah haji tersebut. Para Ulama menjelaskan, ada beberapa makna filosofis dan substansial dalam pengamalan ibadah haji,” sebut Anggota Dewan Pakar Majelis National KAHMI itu.
Pertama: Ibadah haji dimulai dengan niat sambil meninggalkan pakaian biasa dan menggunakan pakaian ihram (putih). Dalam pakaian ihram itulah, dapat kita artikan bahwa semua kita adalah sama, tidak ada sikap diskriminasi dan tidak ada perbedaan diantara kita, apakah status sosial, ekonomi, profesi, politik dan sebagainya. Sehingga, kita semua tidak ada yang paling mulia dan terhormat kecuali kemampuan taqwa kita kepada Allah Swt. Dengan pakaian putih pula, seseorang akan merasakan kelemahannya, keterbatasannya serta pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah SWT. Pakaian inilah yang akan menjadi satu-satunya pakaian kita, ketika kita telah meninggalkan dunia yang fana ini. Harta dan benda, jabatan, istri, anak-anak tidak akan menyertai kita kea lam kubur, alam barzakh, dan akhirat.
Kedua, Dengan pakaian ihram, maka semua larangan harus dihindari dan ditinggalkan oleh pelaku ibadah haji. Dilarang untuk menyakiti binatang/hewan, dilarang membunuh, dilarang mencabuti pepohonan dan lain sebagainya. Mengapa?. Karena pada hakikatnya, manusia berperan memelihara makhluk-makhluk Allah lainnya serta memberinya kesempatan seluas mungkin untuk mencapai tujuan penciptaanNya. Setiap penciptaan pasti ada tujuan dan manfaatnya untuk kehidupan manusia. Selain itu, pada saat menggunakan pakaian ihram juga dilarang untuk memakai wangian, berhias, menggunting rambut dan kuku dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran akan jati diri kita dan menghadap Allah dengan sebagaimana adanya.
Ketiga, Ka'bah yang dikunjungi merupakan simbol atas nilai -nilai kemanusiaan. Disana misalnya ada Hijr Ismail (pangkuan Nabi Ismail a.s.), saat Ismail dipangku oleh ibundanya, Siti Hajar, seorang wanita hitam, miskin bahkan budak. Namun demikian, peninggalannya diabadikan Allah SWT untuk memberikan pelajaran kepada manusia, bahwa Allah memberi status seseorang bukan karena keturunan atau status sosial, bukan karena kecantikannya, bukan karena hartanya, tetapi karena kedekatannya kepada Allah dan usahanya untuk Hajr (hijrah) dari kejahatan menuju kebaikan, dari keterbelakangan menuju peradaban yang mulia dan membahagiakan.

Disini bisa kita ambil pelajaran, walaupun bangsa kita sedang terpuruk baik segi ekonomi, politik, kebudayaan dan sebagainya, tetapi kita tidak boleh pesimis, berkecil hati, dan merasa tidak mampu berbuat apa-apa. Sebab, apabila kita berusaha sungguh-sungguh untuk membangun bangsa ini dengan meminta pertolongan Allah untuk kemajuan negara dan kesejahteraan rakyat. “Insya Allah, ketertinggalan dan keterpurukan yang terjadi saat ini akan segera teratasi,” kata Anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pembangunan Pesisir dan Laut Berkelanjutan, Universitas Bremen, Jerman itu.
Keempat, Ibadah Thawaf dengan tujuh kali mengitari Ka’bah sebagai simbol kepatuhan makhluk kepada Sang Khalik. Thawaf dalam arti menggambarkan larut dan meleburnya manusia dalam hadirat Illahi, sehingga manusia betul-betul mampu menjadikan hatinya bersama dengan Allah (taat), kekhusukan hatinya tidak diragukan lagi dan terbentuklah pribadi yang mencintai sesama bukan meneror sesama. Ratusan ribu orang yang bertawaf, silih berganti tanpa henti, terlihat seperti ribuan asteroid, komet, planet dan benda angkasa lainnya yang mengitari matahari. Atau bahkan seperti milyaran bintang di galaksi bima sakti yang mengitari pusat galaksi. Mereka adalah miniatur alam semesta yang tak pernah membangkang kehendak Penciptanya Allahu Rabbul ‘alamin.
Bulan mengitari bumi, bumi dan planet-planet mengitari matahari, matahari dan milyaran bintang mengitari pusat galaksi, semuanya berada dalam porosnya masing-masing. Dalam bahasa Al Qur’an gerakan perputaran itu adalah bukti ketaatan langit dan bumi kepada Khaliq-nya, tanpa tawar-menawar sesuai janji keduanya: Dia (Allah) berkata kepada langit dan bumi, "Datanglah kalian dengan taat atau terpaksa". Keduanya menjawab, "Kami datang dengan taat". (QS. Al-Fusshilat [41]:11)
“Bayangkan bila ada yang tidak taat, bayangkan bila ribuan asteroid tidak taat, bayangkan bila planet-planet tidak taat dalam mengitari matahari, bayangkan bila ada salah satu benda angkasa yang tidak berada dalam porosnya, maka apa yang terjadi ? Kecelakaan, kehancuran dan kebinasaan. Nauzubillah! Begitu juga dengan kehidupan manusia, kita diperintahkan oleh Allah untuk senantiasa taat dalam melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya,” ucap Ketua Dewan Pakar Himpunan Pengusaha Nahdliyin itu.
Kelima, setelah thawaf, dilakukanlah sa'i. Sa’i merupakan simbol etos kerja yang tinggi, tidak mudah menyerah dan tidak putus asa. Disini, jamaah Haji hendaknya mengenang dengan penuh penghayatan akan sifat pantang menyerah dan tak kenal putus asa dari sosok Ibunda Siti Hajar. Kita sebagai manusia hanya wajib berusaha dan berdoa, namun hanya Allah jualah yang akan menentukan segalanya (hasilnya). Inilah hikmah yang paling besar dibalik peristiwa sa’i tersebut.
Saat itu Ibunda Hajar dan anaknya Ismail kehausan, maka Hajar berlari-lari dari bukit Shafa ke Marwa, berharap menemukan setetes air pelepas dahaga. Hajar memulai usahanya dari bukit Shafa yang secara harfiah berarti kesucian dan ketegaran, sebagai lambang bahwa untuk mencapai hidup harus dengan usaha yang dimulai dengan kesucian dan ketegaran dan harus diakhiri di Marwa yang berarti “sikap menghargai, bermurah hati, dan memaafkan orang lain”.
Sesudah tujuh kali ia berusaha, ternyata yang dia temukan hanya fatamorgana, disaat ia hampir putus asa, muncul harapan kepada Allah Yang Maha Kuasa, dia kembali ke dekat Ismail yang sudah lama menunggunya, tiba-tiba keajaiban muncul dari hentakan kaki Ismail yang mulia, setetes air yang diharapkan. Ternyata yang Allah berikan bukan hanya setetes air, namun berupa sumber air yang tidak ada putus-putusnya hingga saat ini. Hajar membendung air itu dengan pasir seraya berkata zam...zam (kumpul...kumpul...), lalu mereka meminumnya seraya bersyukur kepada yang Maha Kuasa.

"Begitulah sering kita temukan dalam kehidupan, banyak orang berusaha dengan segala daya dan upaya, letih lelah sudah biasa, dingin dan panas sudah dirasa, namun terkadang kehidupan tak berubah juga. Sadarilah ...sesungguhnya kita hanya wajib berusaha, masalah hasilnya serahkan kepadaNya. (QS. Al Insyirah: 7-8),” terang Prof. Rokhmin Dahuri.
Keenam, Wuquf (berhenti) sampai matahari terbenam di tanah ‘Arafah, padang yang sangat luas dan gersang. Disanalah seharusnya kita menemukan ma'rifat pengetahuan tentang diri kita dan perjalanan kehidupan kita. Disini pula kita bisa menarik benang merah agar supaya pemimpin bangsa ini memiliki pengetahuan tinggi, dalam arti pemimpin haruslah berjiwa bijaksana, merasakan penderitaan rakyatnya (seperti ketika merasakan panasnya di Arafah) tidak malah menekan rakyat dengan beban-beban yang memberatkan, sedangkan mereka hidup dalam kemewahan.
“Pemimpin harus peka terhadap berbagai permasalahan bangsa saat ini. Mulai dari angka kemiskinan yang tinggi, pengangguran yang tak bisa dibendung lagi, status gizi yang rendah, stunting, kesenjangan sosial yang tinggi, daya saing bangsa rendah serta indeks pembangunan manusia yang masih rendah. Untuk itu, kita butuh pemimpin yang kompeten, taat kepada Allah, berakhlak mulia, dan mampu membantu mengatasi segenap permasalahan bangsa menuju Indonesia Emas (maju, adil-makmur, berdaulat, dan diridhoi Tuhan YME), paling lambat pada 2045,” kata Anggota Dewan Pakar MLH – Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.
Ketujuh, Dari ‘Arafah, para jamaah ke Muzdalifah untuk mengumpulkan senjata dalam menghadapi musuh utama yaitu setan. Kemudian selanjutnya ke Mina dan disanalah para jamaah haji melampiaskan kebencian dan amarahnya masing-masing terhadap musuh yang selama ini menjadi penyebab segala kegetiran yang dialaminya. Batu dikumpulkan di tengah malam sebagai simbol bahwa musuh tidak boleh mengetahui siasat dan senjata kita. Melontar jumrah memiliki makna sebagai simbol kebencian dan perlawanan terhadap semua perbuatan tercela yang merupakan tipu daya setan.
Gerakan moral dan sosial dari ibadah haji tersebut semestinya bisa diaplikasikan secara baik ketika jamaah haji kembali ke Tanah Air. Karena hakikat kemabruran haji selain ditentukan oleh pelaksanaan ibadah hajinya sendiri, juga sangat ditentukan oleh perilakunya setelah melaksanakan haji tersebut. Imam Hasan Al-Bashri menyatakan, yang dimaksud haji mabrur adalah perubahan perilaku ke arah yang lebih baik dan ia menjadi panutan bagi masyarakat sekitarnya. Pendapat lain mengungkapkan, haji mabrur ialah kesediaan memberikan harta, kapasitas IPTEK dan inovasi, dan kelebihan lainnya kepada yang membutuhkan. Dan, ia memiliki kemampuan untuk mengendalikan segala ucapan dan tindakannya sesuai pedoman Allah Azza wa Jalla (Islam). “Selain ibadah haji yang sarat muatan nilai dan hikmah tersebut, pada hari ini pun, kita menyaksikan penyembelihan hewan qurban,” kata Prof. Rokhmin Dahuri.
Ibadah qurban adalah wujud keimanan, ketakwaan, amal saleh, sekaligus tanda syukur kepada Allah SWT. Firman Allah Swt dalam Alquran surat Al Kautsar ayat 1-3 yang artinya “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, Dialah yang terputus”. Melalui syariat Ibadah Qurban, Islam mengajarkan kepada umatnya agar berjiwa rela berkorban apa saja, demi bakti dan taatnya kepada Allah SWT. Peristiwa pengurbanan Nabi Ibrahim a.s. hanyalah sebagai gambaran bagaimana qurban harus dilakukan. Esensi dari peristiwa itu adalah bagaimana Ibrahim a.s. rela mengurbankan anak yang dicintainya, Ismail a.s., demi baktinya pada Allah SWT.
Pengurbanan Ibrahim mengajarkan pada kita, segala apa yang kita miliki saat ini, baik jiwa, raga, harta, anak, tahta, ilmu, keahlian, dan sebagainya adalah milik Allah SWT, yang dititipkan pada kita sebagai amanah. Maka, ketika Allah SWT memerintahkan kita untuk mengorbankan apa yang kita miliki itu, untuk tegaknya agama Islam dan kejayaan kaum Muslim, tidak ada alasan untuk menolaknya. “Jiwa, harta, dan segala yang kita miliki bukanlah tujuan, melainkan sebagai alat untuk berjuang dan mengabdi pada Allah SWT, supaya kita hidup sukses dan bahagia, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak,” pungkas Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2020 – 2024.

Komentar