Perdebatan Profesor Thomas Djamaluddin dan Muhammadiyah
Oleh: Rahmat Mulyana
ASKARA - Profesor Thomas Djamaluddin, seorang astronom dan peneliti yang pernah menjabat sebagai Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), dikenal karena pernyataannya yang memojokkan Muhammadiyah dalam menentukan awal bulan puasa dan Idul Fitri.
Thomas Djamaluddin menilai bahwa metode hisab yang digunakan oleh Muhammadiyah sebagai metode usang dan berusaha memaksa mereka untuk beralih ke metode rukyat¹.
Perilakunya ini mendapat penyesalan dari Prof Yunahar Ilyas (almarhum) dari Muhammadiyah, yang menilai bahwa pendekatan yang digunakan oleh Thomas Djamaluddin tidak mencerminkan sikap seorang ilmuwan².
Profesor Thomas Djamaluddin menggunakan teori-teori astronomi untuk menyatakan bahwa metode hisab yang digunakan oleh Muhammadiyah tidak relevan dengan realitas astronomi. Namun, sebenarnya, di balik pernyataannya tersebut, ada maksud untuk memaksa orang yang memiliki keyakinan dalam metode hisab untuk beralih ke metode rukyat¹. Dalam hal ini, Thomas Djamaluddin mencoba memaksakan tafsiran teologisnya kepada orang lain yang memiliki pemikiran berbeda.
Sebagai respons terhadap pendapat Thomas Djamaluddin, beberapa pakar astronomi Muhammadiyah mengevaluasi metode yang dia anjurkan. Mereka menyatakan bahwa setiap metode, termasuk metode imkanurukyat yang dipakai pemerintah atau MABIMS, memiliki kelemahan. Dr. Hamim Ilyas, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, menilai bahwa kriteria posisi bulan tinggi minimal 2, 3, atau 4 derajat sebenarnya merupakan titik lemah dari metode imkanurukyat³. Menurutnya, metode ini didasarkan pada asumsi kemungkinan hilal dapat dilihat, sehingga sejatinya merupakan metode rukyat³.
Profesor Dr. Suksiknan, Guru Besar dan pakar astronomi UIN Suka Yogyakarta, secara khusus meruntuhkan metode imkanurukyat yang dianjurkan oleh Thomas Djamaluddin. Ia menyatakan bahwa dalam praktiknya, pengguna rukyat yang tidak berhasil melakukan observasi akan menggenapkan umur bulan menjadi 30 hari (istikmal)⁴.
Namun, jika istikmal diterapkan secara terus-menerus, akan terjadi permasalahan dalam perhitungan umur bulan, seperti yang terjadi pada bulan Jumadil Akhir 1433 H / Mei 2012 M dan Rabiul Akhir 1435 H / Maret 2014 M⁴. Kasus-kasus tersebut tidak sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan umur bulan kamariah minimal 29 hari dan maksimal 30 hari⁴.
Dalam hal ini, Profesor Thomas Djamaluddin tidak menyadari bahwa metode yang dia paksakan juga memiliki kekurangan. Bahkan, metode yang dipaksakan oleh Thomas Djamaluddin dapat menyebabkan perbedaan waktu dalam perayaan Idul Adha di Indonesia, yang terjadi dua hari setelah Wukuf di Arafah. Hal ini tentu menimbulkan keanehan dan ketidaksesuaian dengan ajaran Islam.
Dalam situasi seperti ini, seharusnya para ilmuwan, ulama, dan masyarakat umum dapat saling menghargai perbedaan pendapat dan metode yang digunakan dalam menentukan awal bulan Hijriyah. Setiap metode dan pendekatan memiliki kelebihan dan kekurangan, dan yang terpenting adalah bagaimana kita dapat mengambil hikmah dan kebijaksanaan dari perbedaan tersebut.
Diskusi dan dialog konstruktif antara para ahli dan pihak yang berbeda pendapat akan membantu mencapai pemahaman yang lebih baik dan menghasilkan solusi yang lebih baik bagi masyarakat.
Perdebatan antara Profesor Thomas Djamaluddin dan Muhammadiyah mengenai metode hisab dan rukyat ini seharusnya menjadi peluang bagi kita untuk lebih memahami perbedaan dan menghargai keberagaman. Melalui saling menghormati dan memahami perbedaan, kita dapat menciptakan kehidupan yang lebih harmonis, toleran, dan menghargai keberagaman di masyarakat.
Dalam menghadapi perbedaan pendapat ini, penting bagi kita semua untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, serta menghargai keberagaman yang ada. Mari kita jadikan perbedaan ini sebagai sumber kekayaan dan keberagaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta sebagai inspirasi untuk terus belajar dan mengembangkan pemikiran yang lebih inklusif dan toleran.
SUMBER:
¹ Muhammadiyah: Tudingan Thomas Jamaluddin Tak Cerminkan Seorang Saintis. https://news.republika.co.id/berita/mon3jr/muhammadiyah-tudingan-thomas-jamaluddin-tak-cerminkan-seorang-saintis Accessed 4/30/2023.
² Siapa Thomas Djamaluddin, Peneliti BRIN dan LAPAN yang Sindir Muhammadiyah. https://www.suara.com/news/2023/04/25/065052/siapa-thomas-djamaluddin-peneliti-brin-dan-lapan-yang-sindir-muhammadiyah Accessed 4/30/2023.
³ Hamim Ilyas, "Kriteria 2,3, atau 4 derajat sebenarnya merupakan titik lemah dari metode imkanurukyat." AROGANSI ILMUWAN: Majalah Suara Muhammadiyah 6/ 2023
⁴ Prof Dr Suksiknan, "Dalam praktiknya pengguna rukyat ketika melakukan observasi dan tidak berhasil maka umur bulan yang sedang berjalan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal)." AROGANSI ILMUWAN: Majalah Suara Muhammadiyah 6/ 2023

Komentar