Kamis, 04 Juni 2026 | 08:51
NEWS

Kuliah Umum ITP21 dan PNP

Prof. Rokhmin Dahuri Sampaikan Strategi Pembangunan Ekonomi Kabupaten Pelalawan

Prof. Rokhmin Dahuri Sampaikan Strategi Pembangunan Ekonomi Kabupaten Pelalawan
Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS

ASKARA-- Jika ingin menjadi bangsa maju, adil-makmur, dan berdaulat, Indonesia harus mampu memproduksi barang dan jasa (goods and services) berupa pangan, sandang, perumahan, kesehatan, pendidikan, transportasi, rekreasi, dan energi untuk memenuhi kebutuhan nasional maupun ekspor secara berkelanjutan.

Demikian dikatakan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University , Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS, saat memberikan Perkuliahan Umum Mahasiswa/i Institut Teknologi Perkebunan Pelalawan Indonesia (ITP2I) dan Politeknik Negeri Padang (PNP) Kelas Pelalawan di Gd Daerah, Area Kantor Bupati Pelalawan, Provinsi Riau, Rabu (16/3).

"Secara potensial, mestinya bangsa Indonesia mampu untuk melakukan hal tersebut,” tegas Prof. Rokhmin yang juga penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan-RI 2020 – 2024. Sayangnya, lanjut Prof. Rokhmin, produktivitas bangsa Indonesia masih rendah. "Ini tercermin pada TFP (Total Factor Productivity), yang menggambarkan tingkat produktivitas perekonomian suatu bangsa " katanya.

TFP, sebutnya, adalah total output/total input faktor produksi. Berdasarkan data Bank Dunia, pada 2019, TFP di ASEAN, Singapura di peringkat-1 (1,51) diikuti Malaysia (1,23), Thailand (1,09), Kamboja (0,78), Laos (0,76), dan Indonesia (0,7). Disamping itu, kata Menteri Kelautan dan Petikanan Kabinet Gotong Royong ini mengemukakan, jumlah wirausahawan Indonesia terendah di Asia Tenggara. Singapura angkanya 8 persen.

Artinya jumlah wirausahawan di negara tersebut mencapai 8 persen dari jumlah penduduk. Disusul Malaysia 5 persen, Thailand 4 persen, dan Indoesia 3,1 persen," kata Prof. Rokhmin. "Global Entrepreneurship Index, hingga 2019, Indonesia berada di urutan ke-75 dari 137 negara atau peringkat ke-6 di ASEAN," sambungnya.

Demikian pula, lanjutnya, data World Digotal Competitiveness, yakni penilaian adopsi teknologi untuk peningkatan ekonomi dan efisiensi di berbagai bidang diukur dari faktor pengetahuan, teknologi, dan kesiapan adopsi teknologi untuk masa depan. “Pada 2021, Indonesia berada pada urutan ke-53 dari 64 negara. Pada 2017-2019, indeks daya saing Indonesia semakin menurun, hingga 2019 diurutan ke-50 dari 141 negara, atau peringkat ke-4 di ASEAN,” tuturnya.

Prof. Rokhmin mengutip data UNCTAD dan UNDP (2021), implikasi dari rendahnya kualitas SDM, kapasitas riset, kreativitas, inovasi, dan entrepreneurship adalah proporsi ekspor produk manufaktur berteknologi dan bernilai tambah tinggi hanya 8,1 persen; selebihnya (91,9 persen) berupa komoditas (bahan mentah) atau SDA yang belum diolah. "Sementara, Singapura mencapai 90 persen, Malaysia 52 persen, Vietnam 40 persen, dan Thailand 24 persen," sebut Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu.

Maka, Prof Rokhmin, memberikan masukan untuk ITP21. Antara lain, pentingnya pendirian program studi (Prodi) baru: (1) “Agribisnis” dan (2) “Ilmu, Teknologi, dan Manajemen Lingkungan” terutama “Science and Technology of Changing Planet”. Kemudian, penambahan Mata Kuliah baru yang wajib diikuti oleh semua Prodi: (1) Teknologi dan Ekonomi Digital (Digitalisasi, IoT, AI, Blockchain, Robotics, Big Data, Cloud Computing, dan Metaverse); (2) Ekonomi Hijau (Green Economy), dan Ekonomi Pancasila.

“Selain itu, implementasi MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) semaksimal dan sebaik mungkin. Juga, penambahan dan penguatan dosen dan tenaga non-akademik berkelas dunia, serta peningkatan kolaborasi Penta Helix: ITP2I – pemerintah – industri (swasta) – masyarakat – media massa,” terang Honorary Ambassador of Jeju Islands dan Busan Metropolitan City, South Korea ini.

Strategi Pembangunan Ekonomi Kabupaten Pelalawan

Dalam paparannya bertema, "Optimalisasi Sumber Daya Pembangunan Untuk Pemulihan dan Transfromasi Struktural Ekonomi Menuju Kabupaten Pelalawan Yang Diberkahi Allah SWT", Prof Rokhmin menerangkan, bahwa kunci sukses pembangunan Kabupaten Pelalawan antara lain:

Pertama, Punya Rencana (Roadmap, Blueprint) pembangunan yang tepat dan benar serta diimplementasikan secara berkesinambung; Kedua, Setiap komponen (Penduduk, Sektor Pembangunan) dari wilayah itu menyumbangkan kemampuan terbaiknya bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama. Ada a critical mass (orang capable dan baik) minimal 50% (Pareto, 1970); Ketiga, Antar komponen bekerjasama secara sinergis.dan Keempat, Pemimpin yang cakap, kuat, dan baik (Issard, 1972).

Menurut Prof. Rokhmin, ada 3 langkah strategis untuk menciptakan produktivitas dan daya saing, sehingga Kab. Pelalawan bisa maju, sejahtera, dan mandiri: Pertama, Menjadi tuan rumah yang baik (be a good host) bagi pelanggan daerah (rakyat, wisatwan, investor, dan talented people); Kedua, Memperlakukan pelanggan secara baik (treat your customers/guests properly); dan Ketiga, Membangun sebuah “rumah” yang nyaman bagi pelanggan (building a home sweet home).

Lebih lanjut, Prof. Rokhmin menyampaikan misi Pembangunan Kab. Pelalawan 2021-2026, antara lain: 1.Mewujudkan SDM yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan iman (Maju SDM); 2.Mewujudkan kemakmuran ekonomi di Perkotaan dan Perdesaan yang mandiri dan berdaya saing (Maju Ekonomi); 3 Mewujudkan pembangunan infrastruktur yang berkeadilan, lengkap, dan berkelanjutan (Maju Infrastruktur); 4.Mengembangkan pariwisata daerah berbasis partisipasi masyarakat dan budaya melayu sebagai perekat negeri (Maju Wisata & Budaya); dan 5.Mewujudkan Tata Kelola dan layanan Pemerintahan yang humanis (Good Public Services) berbasis data dan teknologi informasi (Maju Kepemerintahan).

Komentar