Tokoh Papua: KKB Lakukan Penyerangan, Dewan Gereja Bisu Seribu Bahasa
ASKARA - Dewan gereja mencoba menutup-nutupi fakta bahkan mendukung aksi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang melakukan penyerangan terhadap misionaris di Distrik Biondoga, Kabupaten Intan Jaya.
Hal tersebut disampaikan Franz Korwa, salah seorang tokoh Papua saat menanggapi terkait penyerangan pesawat misionaris beberapa waktu lalu oleh KKB. Dia juga mempertanyakan sikap Dewan Gereja Papua yang dinilai bukan sebagai kiblat yang bisa dijadikan contoh dan panutan.
"Saya perlu sampaikan ini karena ada upaya dari dewan gereja yang mencoba menutupi, bahkan dugaan tersebut menguatkan mereka yang jelas mendukung pelanggaran HAM oleh OPM," ungkap Franz Korwa, Selasa (19/1).
Franz Korwa menuturkan bahwa Dewan Gereja Papua yang di dalamnya berisi Socratez S. Yoman ataupun Benny Giay hanya berputar-putar dengan berbagai alasan untuk mengaburkan fakta bahwa KKB telah melakukan penyerangan keji bahkan terhadap elemen penyebar agama di Papua.
"Sebelum peristiwa ini, kita tahu kalau mereka (dewan gereja) selalu membuat kekhawatiran terhadap seluruh umat beragama di Papua dengan pernyataan-pernyataan yang cenderung memprovokasi. Di sana ada Socratez dan Benny Giay yang selalu bertingkah," jelasnya.
Dikatakan Franz Korwa bahwa dewan gereja tidak pernah bisa merealisasikan kedamaian di Papua lewat pendekatan agama. Justru yang saat ini dikhawatirkan olehnya adalah indikasi bahwa dewan gereja mendukung kekerasan karena menjadi bagian dari separatisme di Papua.
"Apakah anggapan dewan gereja mengerucut pada dukungannya terhadap kelompok separatis. Ini sama saja menjual agama demi kepentingan," katanya.
Menurut Franz Korwa, dalam menyikapi setiap aksi keji yang dilakukan oleh KKB, dewan gereja tidak pernah terdengar menyerukan pernyataan yang bertentangan. Bahkan dukungan buta pernah dilakukan oleh Socratez Yoman yang menepis pelaku penembakan terhadap WNA Selandia Baru Greame T Wall pada Maret 2020. Padahal pasca kejadian, terbukti bahwa KKB merupakan pelaku penyerangan yang terjadi di Kuala Kencana, Timika.
"Lihat pernyataan Socratez waktu dia membela OPM atas penembakan karyawan Freeport. Namun berbeda dengan kasus-kasus lain yang menguntungkan pihaknya, pasti ramai suara dari kelompok penipu itu. Sama sekali tidak pernah terdengar pernyataannya padahal sudah jelas faktanya, videonya pun tersebar luas," jelasnya.
Franz Korwa pun menegaskan bahwa dewan gereja harus bisa menjadi penengah antar konflik yang terjadi di Papua. Dia meminta agar nilai agama tidak digunakan untuk membohongi rakyat atas kepentingan politik.
Franz Korwa bahkan mendesak nama Benny Giay untuk mencoba bersuara memperlihatkan keangkuhannya seperti ketika diwawancarai oleh televisi swasta beberapa waktu lalu.

Komentar