Rabu, 27 Januari 2021 | 04:51
NEWS

Pengalaman Menyelam Evakuasi Jenazah Korban Sriwijaya Air

Pengalaman Menyelam Evakuasi Jenazah Korban Sriwijaya Air
Penyelam Indonesian Divers Rescue Team turut dalam proses evakuasi korban Sriwijaya Air SJ182. (Dok. pribadi)

ASKARA - Penyelam profesional Hendrata Yudha yang tergabung dalam Indonesian Divers Rescue Team (IDRT) membagikan pengalamannya saat melakukan operasi pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ182 di perairan Kepulauan Seribu. 

Hendrata Yudha menceritakan, selama di dalam air, semua panca indera terasa menjadi sensitif. Perbedaan tekanan air dan adrenalin menjadi satu, terkadang dapat membuat merinding. 

"Sebuah suara dan gerakan yang tiba-tiba membuat bulu kuduk berdiri," katanya saat berbincang dengan Askara, Senin (11/1).

Proses penanganan evakuasi di bawah air diberlakukan dengan respek dan kehormatan pada jenazah. Mengingat keluarga sangat menantikan kepastian.

"Kami tak cemaskan suasana bawah air karena kami yakin para korban yang kami tolong sepertinya menyungging senyum menyaksikan kerja relawan kemanusian ini," ujar Hendrata Yudha. 

Tak lupa, dia bersama para penyelam lain berdoa agar tidak mendapat hambatan dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. 

"Kami berdoa meminta kekuatan batin agar dapat menyelesaikan kewajiban ini," kata Hendrata Yudha. 

Lokasi jenazah diperkirakan pada kedalaman 20-30 meter di bawah air. Karena sudah memasuki hari ketiga, proses dekomposisi jenazah akan dihadapi penyelam.

Para penyelam berkumpul di Kapal Basarnas KN Wisnu yang disiapkan sebagai pangkalan operasi evakuasi dan pengumpulan korban Sriwijaya Air SJ182.

"Saya bayangkan para korban ini dulu adalah manusia yang memiliki perasaan, hati, nyawa dan orang-orang yang dicintainya. Dan mereka mungkin sudah tenang, dapat dikenali dan dievakuasi untuk dimakamkan dengan layak," Hendrata Yudha menjelaskan. 

Sriwijaya Air SJ182 jatuh di sekitar Pulau Laki dan Pulau Lancang atau 11 nautical mile dari Bandara Soekarno-Hatta.

Pesawat teregistrasi PK-CLC jenis Boeing 737-500 itu jatuh saat akan menanjak ke ketinggian 13.000 kaki dari permukaan laut. Sebelum lepas landas, sempat menunda keberangkatan selama 30 menit karena faktor cuaca.

Komentar