Minggu, 02 Agustus 2026 | 09:02
NEWS

Bandara Rembele Warisan Visioner Mustafa M. Tamy dan Penyelamat Saat Bencana

Bandara Rembele Warisan Visioner Mustafa M. Tamy dan Penyelamat Saat Bencana
Bandara Rembele dan Alm. Bupati Aceh Tengah, Mustafa M Tamy bersama Zam Zam Mubarak (Founder Linge Antara Institute) (Dok Mubarak)

ASKARA - Tokoh Muda Gayo, Zam Zam Mubarak, menegaskan bahwa keberadaan Bandara Rembele merupakan bukti nyata visi jauh ke depan almarhum Mustafa M. Tamy, bupati legendaris yang menggagas pembangunan bandara tersebut demi membuka keterisolasian wilayah Gayo.

Menurut Zam Zam, manfaat Bandara Rembele semakin terasa saat bencana yang melanda wilayah Gayo pada 26 November 2024. Ketika sejumlah akses darat mengalami gangguan dan terputus, bandara tersebut menjadi jalur vital untuk evakuasi warga serta distribusi bantuan kemanusiaan.

"Bandara Rembele terbukti menjadi penyelamat rakyat Gayo saat terjadi bencana. Ketika akses darat terganggu, bandara menjadi satu-satunya jalur yang dapat diandalkan untuk mobilisasi bantuan dan evakuasi. Tanpa Rembele, penderitaan masyarakat tentu akan jauh lebih berat," ujar Zam Zam dalam keterangannya, Sabtu (30/5).

Ia menuturkan, pembangunan Bandara Rembele dimulai pada tahun 2000 di masa kepemimpinan Mustafa M. Tamy dan rampung pada 2003. Bandara tersebut mulai beroperasi untuk penerbangan perintis pada 2004.

Seiring waktu, pengembangan terus dilakukan. Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, landasan pacu diperpanjang untuk meningkatkan kapasitas operasional. Selanjutnya, Bandara Rembele diresmikan secara resmi oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2016.

"Visi almarhum Mustafa M. Tamy sebagai pemimpin yang melihat masa depan Gayo kini terbukti. Dulu ada yang menganggap pembangunan bandara ini berlebihan, tetapi saat krisis justru menjadi tumpuan masyarakat," katanya.

Zam Zam juga mengingatkan bahwa operasional penerbangan harian di Bandara Rembele pernah berjalan optimal pada masa Bupati Nasaruddin. Saat itu, penerbangan rutin setiap hari mampu mendukung mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi kawasan dataran tinggi Gayo.

Melihat kondisi saat ini, di mana sejumlah akses darat menuju wilayah Gayo masih dalam tahap pemulihan dan perbaikan, ia mendorong pemerintah daerah untuk segera memperjuangkan kembali penerbangan bersubsidi secara reguler ke Bandara Rembele.

"Untuk mempercepat pemulihan ekonomi serta mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi, penerbangan subsidi harian ke Rembele perlu diaktifkan kembali. Ini merupakan langkah strategis yang paling cepat dan efektif," ujarnya.

Zam Zam berharap para kepala daerah di Aceh Tengah, Bener Meriah, dan wilayah Gayo lainnya dapat bersinergi dengan Kementerian Perhubungan serta maskapai penerbangan guna menghidupkan kembali rute penerbangan harian.

Menurutnya, optimalisasi Bandara Rembele bukan hanya soal transportasi udara, tetapi juga menyangkut percepatan pemulihan ekonomi, peningkatan konektivitas, serta kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat di masa mendatang.

"Bandara Rembele adalah aset strategis masyarakat Gayo. Sudah saatnya seluruh pemangku kepentingan bersama-sama memastikan bandara ini kembali berfungsi maksimal demi kemajuan dan kesejahteraan rakyat," pungkasnya.

 

Komentar