Senin, 08 Juni 2026 | 17:06
NEWS

Pendukung Makin Mantap Setelah Henry-Yasin Tampil Meyakinkan di Debat Terakhir Pilwalkot Blitar

Pendukung Makin Mantap Setelah Henry-Yasin Tampil Meyakinkan di Debat Terakhir Pilwalkot Blitar
Debat ketiga Pilkada Kota Blitar 2020. (Ist)

ASKARA - KPU Kota Blitar kembali menggelar debat publik yang diselenggarakan di Gedung Kesenian Kota Blitar pada Selasa malam (24/11). 

Debat publik ketiga kali ini merupakan debat pamungkas dalam Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Blitar Tahun 2020. Para calon wali kota dan wakil wali kota saling memaparkan visi misi untuk menarik simpati konstituen dengan mengangkat tema "Pembangunan dan Ekonomi."

Tema debat putaran terakhir ini menjadi amunisi bagi pasangan nomor urut 01 Henry-Yasin untuk menyerang lawan. Sama seperti debat pertama dan kedua, Henry-Yasin kembali tampil kritis. Setidaknya ada lima sampai enam kegagalan pembangunan fisik selama periode 2018-2020 di Kota Blitar yang perlu dibenahi, di antaranya belum dibangunnya Taman Jingkrak di Kelurahan Gedog, belum adanya fasilitas rawat inap di Puskesmas Sukorejo serta belum dibangunnya sarana pujasera untuk melengkapi sport center di Kelurahan Bendo, Taman Keragaman Hayati (Kehati) di Kelurahan Tanjungsari, belum diselesaikan fasilitas pendukung sirkuit balap di Kelurahan Sentul serta masih adanya jalan rusak dan tanpa penerangan.

Pada segmen kedua perdebatan semakin memanas saat panelis memberikan pertanyaan dalam Sub Tema Kajian Bidang Usaha Mikro.

Henry-Yasin menjawab pertanyaan panelis dengan memilih mengkritisi kendala Disperindag Kota Blitar yang belum mencairkan bantuan. Bahkan, 

Henry sempat berujar sambil bercanda mempromosikan batik produksi pengrajin.

"Kalau pakai jas terasa panas, beda kalau pakai batik produksi Kota Blitar yang terasa adem," tuturnya.

Gurauan paslon nomor 01 yang diusung PKB, Partai Nasdem, Partai Golkar dan PKS itu justru ditanggapi serius oleh calon wali kota Santoso yang mengatakan tidak ada relevansi antara jas dengan tema debat. Santoso mengingatkan paslon nomor 01 supaya tidak selalu keluar dari pertanyaan panelis. 

"Saya berharap agar paslon 01 Hensin lebih fokus kepada pertanyaan. Soal jas yang kami kenakan tidak ada hubungannya dengan materi debat saat ini. Jadi tidak perlu dikomentari karena sudah keluar dari tema debat. Jangan tebar pesona saja," jelas Santoso.

Santoso berpandangan, kondisi riil pelaku UMKM dan PKL di Kota Blitar yang terdampak pandemi Covid-19 sekitar 2500. Untuk kembali menghidupkan UMKM dan PKL di masa pandemi, Santoso berkebijakan memberikan bantuan modal dan atau bantuan sosial guna menggairahkan lagi kegiatan usaha.

Dikatakannya, ketika masih menjabat wali kota juga sudah menginstruksikan disperindag supaya penyaluran bantuan melalui Bank Arta Praja milik Pemkot Blitar supaya tidak ada pungutan liar. Pembinaan kepada disperindag juga selalu dilakukan demi mempercepat bantuan kepada pelaku usaha.

Pada debat kali ini ada lima pertanyaan tim panelis, di antaranya mengenai koperasi, kota tanpa kumuh, investasi, PDRB, dan alih fungsi lahan pertanian bisa dijawab dengan lancar oleh kedua paslon. Paslon nomor 01 menjawab dan menanggapi sambil mempertajam program unggulan mereka seperti pendidikan gratis mulai TK-SMP baik negeri maupun swasta, bantuan untuk murid SMA/SMK, BPJS Kesehatan gratis untuk seluruh warga, kampung wisata tematik, rastrada plus lauk dan sayur serta UMKM mandiri. 

Sedangkan paslon nomor 02 yang diusung PDI Perjuangan, PPP, Partai Gerindra, dan Partai Demokrat tetap fokus pada program bantuan Rp 50 - Rp 100 juta tiap RT per tahun, meskipun masih konsep karena belum ada aturannya. 

"Dengan program ini akan kami buatkan perwali. Agar potensi yang ada di tiap RT bisa dimanfaatkan untuk kemajuan dan peningkatan perekonomian warganya," ujar Santoso.

Sementara paslon nomor 01 juga akan meneruskan semua rencana pembangunan yang digagas pada saat kepemimpinan Wali Kota Blitar Samanhudi Anwar tahun 2016 lalu tapi tidak direalisasikan oleh Santoso selama memimpin.

Perihal program unggulan Santoso-Tjutjuk yang fokus pada program bantuan Rp 50 - Rp 100 juta per RT tiap tahun justru menjadi bumerang bila dalam pelaksanaannya membebani para ketua RT.

"Kasihan pak RT dan pengurusnya harus dibebani tugas tambahan tapi yang diberi honor hanya ketuanya. Kalau saya terpilih, seluruh RT dan pengurusnya akan diberikan honor dan fokus melayani warganya," tandas Henry.

Pelaksanaan debat ketiga berjalan menarik dan cukup sengit. Kedua paslon sama-sama ingin menunjukkan keunggulannya. Namun dalam debat tampak jelas perbedaan paslon penantang yang langsung menyampaikan program ke depan demi kemajuan Kota Blitar, sementara pasangan petahana lebih banyak menjawab apa yang sudah dilakukan selama memimpin Kota Blitar.

Debat putaran terakhir menarik perhatian warga Kota Blitar maupun pendukung masing-masing paslon. Beberapa bahkan mengadakan nonton bareng (nobar). Masyarakat memberikan tanggapannya atas performa masing-masing paslon dan mengatakan bahwa membuat mereka semakin mantap akan pilihannya.

Triman Sugiyanto yang biasa dipanggil Mbah Triman yang sabelumnya pendukung setia PDIP punya cerita menarik mengapa akhirnya memutuskan untuk mendukung Henry-Yasin dalam Pilkada Kota Blitar. Warga Sukorejo itu menyampaikan bahwa banyak dari kawan-kawannya juga akhirnya memilih untuk mendukung paslon nomor  01.

Setelah menonton debat pertama hingga terakhir, Mbah Triman makin yakin Henry-Yasin akan membawa Kota Blitar menjadi lebih sejahtera.

"Mas Henry adalah anak dari salah satu tokoh yang membawa Kota Blitar menjadi kota yang sejahtera, di mana sekolah gratis, seragam gratis, bantuan beras untuk orang miskin dan juga sepeda untuk anak-anak sekolah dimulai dan dijalankan. Sedangkan untuk beberapa saat ini semua itu seperti berhenti. Seragam gratis tidak ada lagi tahun ini, bantuan sosial juga mengalami kendala. Saya yakin Mas Henry peduli pada kami masyarakat kecil dan pendidikan serta akan sungguh-sungguh bekerja untuk menyejahterakan warga Kota Blitar. Program-program yang disampaikan adalah pro rakyat," paparnya.

Komentar