Rabu, 17 Juni 2026 | 18:20
NEWS

Konflik dengan TNI, Bupati Alor Amon Djobo Disebut Ancam Tembak Seorang Kolonel

Konflik dengan TNI, Bupati Alor Amon Djobo Disebut Ancam Tembak Seorang Kolonel
Bupati Alor, Amon Djobo (Dok Tribuanapos.net)

ASKARA - Sebuah konflik terjadi antara Bupati Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Amon Djobo dengan anggota TNI dari Korem 161/Wira Sakti. Sang bupati disebut menghina perwira TNI dengan kata 'bodok'. 

Tak hanya itu, orang nomor satu di Kabupaten Alor itu juga disebut sempat mengancam akan menembak Perwira Korem Kolonel Imanuel Dionisius.

Hal itu diungkapkan Dandim 1622/Alor, Letkol Inf Supyan Munawar, seperti ditulis oleh akun Instagram @infokomando.

"Ternyata permasalahan antara Korem 161/Wira Sakti dengan Bupati Alor tidak hanya dipicu adanya ungkapan tidak pantas yang ditujukan ke Perwira Korem Kolonel Imanuel Dionisius, tapi juga adanya ancaman penembakan yang dilontarkan oleh sang Bupati Amon Djobo," tulis keterangan Instagram @infokomando, Kamis (5/11).

Karena ada ancaman kepada atasannya tersebut, Dandim 1622/Alor lantas memerintahkan para anggotanya untuk mengawal Kolonel Imanuel, mulai dari Hotel Simfony tempat sang kolonel menginap, hingga ke Bandara Mali. Para prajurit yang mengawal bahkan dipersenjatai lengkap. 

Sebelumnya, Bupati Alor Amon Djobo dilaporkan ke Polres Alor karena dugaan penghinaan terhadap Kasi Logistik Korem 161/Wira Sakti, Kolonel CPI Imanuel Yoram Dionisius Adoe, dengan kata 'bodok'.

Kata 'bodok' ditulis dengan tangan dalam surat Bupati Alor nomor BU.100/72/IX/2020 perihal laporan penyelesaian aset tanah TNI dan Polri di lokasi Polres Alor.

Dalam surat tersebut tampak ada sedikit coretan pada poin keempat dan di bawahnya ada tulisan 'Bodok'. Surat tersebut sudah ditandatangani oleh Sekda Kabupaten Alor, Soni O. Alelang. 

Kasus ini pun sudah sampai ke telinga Pangdam IX/Udayana Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Kurnia Dewantara. Menurut Kurnia, sebagai pejabat publik, Bupati Amon Djobo seharusnya bisa menjaga ucapan.

"Tentunya selaku pimpinan di Kodam IX Udayana sangat menyesalkan kejadian tersebut," kata Kurnia Dewantara, dikutip dari akun Instagram @infokomando.

Kurnia mengatakan, semula kasus ini hendak diselesaikan secara kekeluargaan. Para anggotanya sudah mencoba menghubungi Amon beberapa kali, namun sang bupati terkesan mengelak.

"Saya sudah perintahkan Danrem 161 Wirasakti dan Dandim Alor untuk menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan dan sebaik-baiknya, namun nampaknya saya menerima laporan bahwa Bupati Alor menutup diri. Saya mendapat laporan dari Dandim Alor sudah berupaya menghubungi Bupati Alor dan dari Korem juga sudah berupaya untuk bagaimana pelaksanaan pertemuan namun Bupati Alor tampaknya tidak berkenan, sehingga tiada lain, tiada bukan, hal ini harus diselesaikan secara hukum," kata Kurnia Dewantara.

Selain tersangkut masalah dengan TNI, Bupati Alor Amon Djobo ternyata juga tengah berurusan dengan hukum karena dugaan kasus penganiayaan terhadap seorang warganya yang bernama Metusalak Lakamau (52).

Metusalak merupakan warga Alor yang tinggal di Pui-Pui, RT 004/002, Kelurahan Welay Barat, Kecamatan Teluk Mutiara. 

Metusalak sudah melaporkan Amon ke Polres Alor pada Senin, 26 Oktober 2020. Untuk melindungi dirinya, Metusalak meminta perlindungan kepada anggota DPRD Kabupaten Alor.

"Permasalahan tersebut sedang dalam pemeriksaan saksi-saksi dan permintaan visum," ujar Agustinus, menukil koranpewartakorupsidotcom yang ditulis kembali akun @infokomando.

 

Komentar