Biar Jera, Para Pendaki yang Tinggalkan Elsa Disidang
ASKARA - Seorang pendaki perempuan mengalami acute mountain sickness (AMS) atau sakit karena ketinggian ketika mendaki Gunung Slamet melalui jalur Bambangan, Purbalingga pada Jumat (30/10).
Penyakit ketinggian merupakan kumpulan gejala yang muncul ketika mendaki terlalu cepat ke ketinggian tertentu. Beberapa gejalanya ialah sulit tidur, sesak napas, dan sakit kepala.
Pendaki bernama Elsa Qurratul Aini (19) asal Banyumas itu mengalami gejala AMS saat berada di Pos Dua.
Kepala Pos Pendakian Gunung Slamet via Bambangan Saiful Amri mengatakan, kamp induk menerima laporan adanya pendaki yang sakit sekitar pukul 17.30 WIB. Kemudian petugas langsung menurunkan Tim SAR untuk menjemput survivor setelah dilakukan verifikasi informasi. Tim SAR berhasil melakukan evakuasi terhadap korban.
"Tim SAR berangkat menuju Pos Dua pukul 19.00 WIB dan berhasil mengevakuasi survivor menggunakan tandu. Tim sampai di base camp sekitar pukul 23.30 WIB," jelas Saiful Amri, Senin (2/11).
Meski Elsa Qurratul Aini selamat namun tidak mendapat pendampingan dari teman-temannya saat turun menuju kamp induk.
"Begitu ketemu Tim SAR, rombongan korban malah justru melanjutkan pendakian sampai puncak. Tidak ada satupun yang mendampingi Tim SAR ke base camp," kata Saiful Amri.
Tentu itu sangat disayangkan, padahal di dalam tata tertib pendakian tertulis larangan meninggalkan rekan pendaki dalam keadaan apapun.
"Kebersamaan lebih utama dibanding ego semata, puncak tak akan lari dikejar. Seharusnya utamakan keselamatan bersama," ujar Saiful Amri.
Alhasil, sesampainya di kamp induk, tujuh rekan Elsa Qurratul Aini disidang oleh petugas dan dikenakan sanksi.
"Iya itu hal yang tidak terpuji, kami berikan sanksi sosial. Kami bina di base camp, di depan banyak pendaki sebagai contoh sehingga ada efek jera," jelas Saiful Amri.

Komentar